Kompas.com - 21/04/2021, 10:52 WIB
|
Editor Bayu Galih

LAKI-LAKI tua itu duduk di dekat pagar rumahnya. Ia mengenakan oblong berwarna gelap dan kain sarung. Sebatang rokok kretek yang sudah menyala terselip di antara jari tengah dan telunjuknya.

Seseorang di hadapannya kemudian bertanya kepada laki-laki itu.

"Bapak masing ingat buku-buku yang hilang dan judul-judul yang dikarang dan tidak ada lagi?" tanya dia.

Bahasa Indonesianya tidak begitu lancar. Dari logat bicara yang terbata, tampaknya ia adalah Bernie IJdis.

Bernie merupakan seorang sutradara berkebangsaan Belanda. Ia membuat dokumenter berjudul De Groote Postweg atau Jalan Raya Pos.

Baca juga: Kartini dan Pemikiran tentang Perempuan Berani, Mandiri, dan Penuh Perjuangan...

Salah satu narasumbernya sastrawan besar Indonesia, Pramoedya Ananta Toer (6 Februari 1925 - 30 April 2006).

"Ya judul-judulnya… Misalnya, Panggil Aku Kartini Saja. Itu yang terbit dua jilid, yang hilang dirampas Orba (Orde Baru)," jawab Pramoedya.

Panggil Aku Kartini Saja merupakan salah satu karya Pram mengenai sejarah perempuan Indonesia.

Peneliti Savitri Scherer, dalam Pramoedya Ananta Toer: Luruh dalam Ideologi (Komunitas Bambu, 2012), menyebut karya itu sebagai kajian sosial dan historis tentang feminis terkemuka dan pemikir nasionalis awal.

Menurut dia, Pramoedya telah meneliti tokoh perempuan asal Jepara itu, antara 1956 sampai 1961.

Baca juga: Kandasnya Cita-cita Kartini dan Perjuangannya yang Relevan hingga Kini

Judul buku itu merupakan kata-kata perpisahan Kartini kepada salah satu sahabat penanya, Stella Zeehandelaar, dalam surat bertanggal 25 Mei 1899.

Savitri menulis, Pramoedya berpandangan bahwa ide-ide progresif Kartini disebabkan oleh respons atas hierarki dan adat diskriminatif lingkungan feodalnya, bukan karena pertukaran ide dengan teman-temannya di Eropa.

Pramoedya menguraikan fakta sifat feodal pengaturan rumah tangga bupati. Kartini adalah putri dari istri kedua bupati.

Istri dari kaum jelata memiliki tempat sendiri di luar bangunan utama. Situasi seperti ini, menurut Savitri, dalam kasus Kartini tentunya telah mengundang ketidaksenangan pada berbagai persyaratan yang mencengkeram.

Baca juga: Perseteruan Hamka dan Pramoedya Ananta Toer hingga Berdamai lewat Islam

Demi penghormatan bagi sesuatu yang semu, sehingga membangkitkan pemikiran progresif Kartini tentang dunia yang ideal, di mana semua orang setara.

Savitri menilai, evaluasi Pramoedya mengenai peran Kartini dalam masyarakat sangat maju. Sastrawan kelahiran Blora itu menekankan kemuliaan pikiran dan jiwa Kartini.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Wamenkumham Sebut Pasal Penghinaan Presiden dalam RKUHP Delik Aduan, Ancaman Pidana hingga 3,5 Tahun

Wamenkumham Sebut Pasal Penghinaan Presiden dalam RKUHP Delik Aduan, Ancaman Pidana hingga 3,5 Tahun

Nasional
Luhut Ikut Urus Minyak Goreng, Anggota DPR: Ganti Menterinya kalau Tak Becus

Luhut Ikut Urus Minyak Goreng, Anggota DPR: Ganti Menterinya kalau Tak Becus

Nasional
Setuju Pidana Mati Koruptor, Peneliti Pukat UGM: Tetapi Bukan Diobral

Setuju Pidana Mati Koruptor, Peneliti Pukat UGM: Tetapi Bukan Diobral

Nasional
Bertemu Wapres Zambia, Jokowi Bahas Penguatan Kerja Sama Ekonomi

Bertemu Wapres Zambia, Jokowi Bahas Penguatan Kerja Sama Ekonomi

Nasional
Jokowi Sudah Tiba di Solo, Hadiri Pernikahan Adiknya dengan Ketua MK Anwar Usman

Jokowi Sudah Tiba di Solo, Hadiri Pernikahan Adiknya dengan Ketua MK Anwar Usman

Nasional
ICW Tak Sepakat Hukuman Mati Koruptor, Sebut Tak Akan Beri Efek Jera

ICW Tak Sepakat Hukuman Mati Koruptor, Sebut Tak Akan Beri Efek Jera

Nasional
Pemerintah Putuskan Cabut Ketentuan soal Dokter Gigi dan Pengacara di RKUHP

Pemerintah Putuskan Cabut Ketentuan soal Dokter Gigi dan Pengacara di RKUHP

Nasional
Mantan Komisioner KPK, Saut Situmorang Raih Penghargaan 'Life Time Achievement' dari MACC

Mantan Komisioner KPK, Saut Situmorang Raih Penghargaan "Life Time Achievement" dari MACC

Nasional
UPDATE 25 Mei: Lebih dari 200 Juta Orang Sudah Divaksinasi Dosis 1

UPDATE 25 Mei: Lebih dari 200 Juta Orang Sudah Divaksinasi Dosis 1

Nasional
Komisi III dan Pemerintah Sepakat RKUHP Dibawa Ke Paripurna, Target Pengesahan Juli 2022

Komisi III dan Pemerintah Sepakat RKUHP Dibawa Ke Paripurna, Target Pengesahan Juli 2022

Nasional
UPDATE 25 Mei: Sebaran 315 Kasus Baru Covid-19, DKI Terbanyak

UPDATE 25 Mei: Sebaran 315 Kasus Baru Covid-19, DKI Terbanyak

Nasional
Pemerintah dan Komisi III DPR Sepakat RUU Pemasyarakatan Dibawa ke Paripurna

Pemerintah dan Komisi III DPR Sepakat RUU Pemasyarakatan Dibawa ke Paripurna

Nasional
Profil Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Bangsawan yang Jadi Wakil Presiden Ke-2 RI

Profil Sri Sultan Hamengkubuwono IX, Bangsawan yang Jadi Wakil Presiden Ke-2 RI

Nasional
KPK: Pencarian Harun Masiku Tak Bisa Disampaikan Detail ke Publik

KPK: Pencarian Harun Masiku Tak Bisa Disampaikan Detail ke Publik

Nasional
UPDATE 25 Mei: Kasus Kematian akibat Covid-19 Bertambah 5

UPDATE 25 Mei: Kasus Kematian akibat Covid-19 Bertambah 5

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.