Kompas.com - 19/04/2021, 16:01 WIB
Penyidik Bareskrim Polri mulai mendalami video pria bernama Jozeph Paul Zhang yang mengaku nabi ke-26. ISTIMEWAPenyidik Bareskrim Polri mulai mendalami video pria bernama Jozeph Paul Zhang yang mengaku nabi ke-26.
|
Editor Bayu Galih

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah diminta untuk melibatkan masyarakat untuk memberantas radikalisme dan narasi kebencian yang beredar, termasuk yang disampaikan seseorang bernama Jozeph Paul Zhang yang viral di media sosial.

Pengamat terorisme dan intelijen Stanislaus Riyanta mengatakan, negara perlu bertindak tegas dan segera mengambil langkah, sebab dapat menjadi pemicu konflik di masyarakat.

"Siapa pun juga tidak boleh melakukan penghinaan kepada agama lain atau pemeluknya. Sikap ini, apa pun alasannya, tidak dibenarkan karena bisa menjadi konflik antar-agama," tutur Riyanta kepada Kompas.com, Senin (19/4/2021).

Baca juga: Ditjen Imigrasi: Jozeph Paul Zhang Meninggalkan Indonesia Menuju Hongkong Tahun 2018

Namun, ketegasan dalam mengatasi narasi kebencian dianggap tidak cukup. Pemerintah juga diminta menggandeng pemuka agama untuk menghilangkan kebencian di masyarakat.

"Untuk hidup damai, saling menghargai, sehingga tidak ada celah lagi untuk saling membenci," kata dia.

Dia melanjutkan, masyarakat dari lingkup terkecil seperti keluarga mesti dirangkul oleh pemerintah. Sebab, di lingkungan terkecil paham radikalisme dan narasi kebencian terhadap kelompok lain bisa diredam.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Karena masyarakat adalah kekuatan terbesar yang mampu melakukan deteksi dini radikalisme di lingkungan masing-masing terutama keluarga," ucap Riyanta.

Riyanta menjelaskan, jika masyarakat dilibatkan dalam pencegahan paham radikalisme, maka tidak ada celah untuk para narasi kebencian.

Baca juga: Anggota Komisi III Minta Pemerintah Cabut Paspor Jozeph Paul Zhang

Namun, sikap tersebut juga mesti dibangun dari para elite, dan tokoh-tokoh agama saling memberikan contoh dan teladan bagi para pengikutnya untuk hidup berdampingan dengan harmonis.

"Karena para elite dan tokoh agama akan menjadi teladan bagi masyarakat dan pengikutnya maka harus memberi contoh. Kalau semua bersatu dan kompak maka celah bagi narator kebencian akan sempit dan terbatas," ujar dia.

Sebagai informasi pria bernama Jozeph Paul Zhang mendadak menjadi perbincangan masyarakat karena konten YouTube-nya dianggap menistakan agama Islam.

Jozeph melalui videonya tersebut juga mengaku sebagai nabi ke-26 dan memberi tantangan akan memberi uang Rp 1 juta untuk siapapun yang bisa melaporkannya ke kepolisian atas kasus penistaan agama.

Baca juga: Jozeph Paul Zhang Diduga Tak di Indonesia, Polri Libatkan Interpol

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Menilik Tingginya Kasus dan Kematian akibat Covid-19 di Jawa-Bali Selama PPKM Level 4

Menilik Tingginya Kasus dan Kematian akibat Covid-19 di Jawa-Bali Selama PPKM Level 4

Nasional
Komisi II Sebut Masyarakat Ingin Desain Surat Suara Disederhanakan

Komisi II Sebut Masyarakat Ingin Desain Surat Suara Disederhanakan

Nasional
KPK Dalami Dokumen Pencairan Dana Pengadaan Lahan Munjul Senilai Rp 1,8 Triliun

KPK Dalami Dokumen Pencairan Dana Pengadaan Lahan Munjul Senilai Rp 1,8 Triliun

Nasional
Dicecar Soal Sunat Vonis Pinangki dan Djoko Tjandra, Ini Jawaban Calon Hakim Agung Aviantara

Dicecar Soal Sunat Vonis Pinangki dan Djoko Tjandra, Ini Jawaban Calon Hakim Agung Aviantara

Nasional
RI Terima 500.000 Dosis Vaksin Sinopharm, Total Stok 8 Juta Dosis

RI Terima 500.000 Dosis Vaksin Sinopharm, Total Stok 8 Juta Dosis

Nasional
Calon Hakim Agung Dwiwarso Anggap Penanganan Kasus Narkoba Tak Bisa Represif

Calon Hakim Agung Dwiwarso Anggap Penanganan Kasus Narkoba Tak Bisa Represif

Nasional
Mahfud Dorong Kolaborasi ASEAN untuk Pemulihan Pasca-pandemi Covid-19

Mahfud Dorong Kolaborasi ASEAN untuk Pemulihan Pasca-pandemi Covid-19

Nasional
Calon Hakim Agung Nilai Hukuman Mati Masih Diperlukan dalam Keadaan Khusus

Calon Hakim Agung Nilai Hukuman Mati Masih Diperlukan dalam Keadaan Khusus

Nasional
Kasetpres: Anggaran Pengecatan Ulang Pesawat Kepresidenan Sudah Dialokasikan di APBN

Kasetpres: Anggaran Pengecatan Ulang Pesawat Kepresidenan Sudah Dialokasikan di APBN

Nasional
Menko PMK Temukan Banyak Warga Kampung Nelayan yang Belum Terima Bansos

Menko PMK Temukan Banyak Warga Kampung Nelayan yang Belum Terima Bansos

Nasional
Wapres: Diperlukan Koordinasi Gubernur DKI, Jabar, dan Banten dalam Penanganan Covid-19 di Wilayah Aglomerasi Jabodetabek

Wapres: Diperlukan Koordinasi Gubernur DKI, Jabar, dan Banten dalam Penanganan Covid-19 di Wilayah Aglomerasi Jabodetabek

Nasional
Percepat Penanganan Covid-19, Wapres Dorong Sinergi Pusat dan Daerah

Percepat Penanganan Covid-19, Wapres Dorong Sinergi Pusat dan Daerah

Nasional
Aturan Lengkap PPKM Level 3 di Jawa dan Bali...

Aturan Lengkap PPKM Level 3 di Jawa dan Bali...

Nasional
Luhut Sebut Kegiatan Ekonomi Bisa Dibuka Bertahap September, Ini Syaratnya

Luhut Sebut Kegiatan Ekonomi Bisa Dibuka Bertahap September, Ini Syaratnya

Nasional
Indonesia Terima Tambahan Dukungan Penanganan Pandemi dari AS Senilai 30 Juta Dollar AS

Indonesia Terima Tambahan Dukungan Penanganan Pandemi dari AS Senilai 30 Juta Dollar AS

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X