Kompas.com - 26/03/2021, 07:00 WIB
Presiden RI Joko Widodo (ketiga kanan) didampingi Gubernur DIY Sri Sultan HB X (kanan) dan seniman Yogyakarta Butet Kartaredjasa (kedua kanan) meninjau vaksinasi untuk seniman di Padepokan Seni Bagong Kussudihardjo, Bantul, Rabu (3/10/2021). Dalam kunjungan itu Presiden Joko Widodo menyaksikan secara langsung proses vaksinasi COVID-19 bagi seniman di Yogyakarta. ANTARA FOTO/Diaz Firmansyah/AFA/hp. ANTARA FOTO/Guntur Aga Tirtana/Radar JogjaPresiden RI Joko Widodo (ketiga kanan) didampingi Gubernur DIY Sri Sultan HB X (kanan) dan seniman Yogyakarta Butet Kartaredjasa (kedua kanan) meninjau vaksinasi untuk seniman di Padepokan Seni Bagong Kussudihardjo, Bantul, Rabu (3/10/2021). Dalam kunjungan itu Presiden Joko Widodo menyaksikan secara langsung proses vaksinasi COVID-19 bagi seniman di Yogyakarta. ANTARA FOTO/Diaz Firmansyah/AFA/hp.

“Ini penting sekali, selain itu acara ini bisa mendorong para pekerja seni untuk tidak takut disuntik vaksin ini,” ujar Butet.

Penampilan tari topeng Petruk karya Pandiman Djojonegoro dari padepokan Omah Cangkem dan Koreografer Anter Asmototejo, menurut Butet justru hendak menampilkan tokoh wayang Petruk.

“Itu Petruk punakawan, wong cilik. Maka ketika Petruk diberi kesempatan jadi pemimpin (atau raja atau ratu), bergelarlah dia sebagai Ratu Petruk kantong bolong. Kekayaan yang Ratu Petruk peroleh tidak dikantongin sendiri, tapi masuk kantong bolong (berlubang)....ini artinya jatuh ke tangan rakyat atau dikembalikan pada wong cilik,” jelas Butet.

Di antara mereka yang ikut divaksin adalah Romo Sindunata SJ. “Beliau di antara budayawan dan seniman yang saya beri prioritas untuk dapat vaksin ini,” ujar Butet.

Kebetulan Romo Sindu adalah wartawan, punya padepokan seni yang diberi nama Omah Petruk di tepi Kali Boyong di Sleman, Yogyakarta, di lereng Gunung Merapi.

Menurut sebuah tulisan wartawan, padepokan ini diberi nama Omah Petruk, karena tokoh wayang Petruk ini adalah punakawan (abdi pemimpin) yang cerdas dan pandai bicara.

Ketika saya tanya apakah tokoh Petruk dalam tarian topeng Petruk di PSBK sama dengan tokoh Petruk yang dilukiskan di tepi Kali Boyong itu, Butet mengatakan beda.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Tentang Omah Petruk yang dikelola Romo Sindu ini, saya punya cerita kecil. Cerita itu menjadi salah satu artikel ringan dalam buku Sisi Lain Istana Jilid III - Sarung Jokowi dan Wak, Wak, Wak yang diterbitkan Penerbit Buku Kompas Jakarta pada 2017.

Dalam artikel dengan subjudul Mata Jokowi ditutup Kain Hitam itu saya cerita tentang pentas monolog seniman muda Yogyakarta, Ferry Luviyanto, di depan tujuh patung para presiden Republik Indonesia yang ada di Omah Petruk itu. Pentas ini berlangsung saat hujan gerimis Kamis malam, 25 November 2014.

Ferry dalam pentas ini melakonkan dirinnya seperti ketujuh presiden itu dengan penuh kejenakaan. Penampilannya itu diakhiri dengan menutup mata patung Jokowi dengan kain hitam.

“Supaya presiden ketujuh ini tidak hanya bisa melihat realitas negeri ini dengan mata fisiknya, tapi juga bisa melihat dengan mata bainnya seperti Gus Dur,” ujar Ferry dengan gaya jenaka di sambut tepuk tangan hadirin.

Tentang tokoh wayang Petruk yang banyak dibicarakan ini memang punya banyak penafsiran. Untuk menuliskan beberapa penfasiran tentang tokoh Petruk ini saya membaca dua buku, yakni yang pertama adalah buku berjudul Petruk dadi Ratu: Polah Tingkah Penguasa yang Tidak Mampu oleh Dr Suwardi Endraswara, M.Hum.

Buku kedua berjudul Merapi dan Orang Jawa, Persepsi dan Kepercayaanya oleh Lucas Sasongko Triyoga. Di cover depan buku terbitan Grasindo, PT Gramedia Widiasarana Jakarta, tahun 2010 ini dituliskan potongan kalimat dari Profesor Michael R. Dove, Ph D, seorang pakar antropologi ekologi yang kini mengajar di Yale Scholl of Forestry and Environmental Studies, Amerika Serikat. Bunyinya demikian, “Menajubkan....buku ini merupakan karang pertama yang menganalisa gunung berapi di Indonesia dari segi manusia....”.

 

Dalam buku tulisan Lucas Sasongko Triyoga (Koko) ini dituliskan tentang tokoh Kyai atau Eyang Petruk, salah satu penguasa di kawasan Gunung Merapi atau Keraton (Kerajaan) Merapi. Ini adalah sebuah kepercayaan yang sangat populer di wilayah Gunung Merapi di Jawa Tengah dan Yogyakarta.

Lucas Sasongko Triyoga, memperoleh gelar sarjana antropologi dari Universitas Gadjah Mada, Yogakarta, tahun 1987, pernah kerja di Majalah Kebudayaan Basis dan wartawan sejumlah media massa di Jakarta dan Bandung. Ia lama jadi peneliti lingkungan hidup dan kini tinggal di Yogya.

Dalam bukunya Lucas menuliskan, Gunung Merapi merupakan satu gunung berapi yang aktif di Indonesia dan dipercayai sebagai keraton mahluk halus, surga perantauan para roh, dan tempat bersemayam roh para leluhur Keraton Mataram.

Di antara leluhur Mataram yang terkenal di Gunung Merapi, terutama di Desa Wukirsari (bagian barat dan utara Gunung Merapi) adalah Eyang atau Kyai Petruk.

Halaman:


Video Pilihan

26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

UPDATE 20 Oktober: Ada 6.706 Suspek Terkait Covid-19

UPDATE 20 Oktober: Ada 6.706 Suspek Terkait Covid-19

Nasional
Ditahan Usai Jadi Tersangka, Bupati Kuansing Andi Putra Tiba di Gedung KPK

Ditahan Usai Jadi Tersangka, Bupati Kuansing Andi Putra Tiba di Gedung KPK

Nasional
Menanti Proses Pemeriksaan Polisi terhadap Rachel Vennya...

Menanti Proses Pemeriksaan Polisi terhadap Rachel Vennya...

Nasional
Menteri PPPA Nilai Dugaan Asusila Kapolsek Parigi Moutong Rendahkan Martabat Perempuan

Menteri PPPA Nilai Dugaan Asusila Kapolsek Parigi Moutong Rendahkan Martabat Perempuan

Nasional
UPDATE 20 Oktober: Ada 16.397 Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia

UPDATE 20 Oktober: Ada 16.397 Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia

Nasional
Rayakan HUT ke-21, Indika Energy Perkuat Komitmen Netral Karbon

Rayakan HUT ke-21, Indika Energy Perkuat Komitmen Netral Karbon

Nasional
UPDATE: Bertambah 1.207, Kasus Sembuh Covid-19 Jadi 4.077.748

UPDATE: Bertambah 1.207, Kasus Sembuh Covid-19 Jadi 4.077.748

Nasional
UPDATE: Bertambah 28, Pasien Covid-19 Meninggal Capai 143.077 Orang

UPDATE: Bertambah 28, Pasien Covid-19 Meninggal Capai 143.077 Orang

Nasional
UPDATE: Bertambah 914, Kasus Covid-19 di Indonesia Capai 4.237.201

UPDATE: Bertambah 914, Kasus Covid-19 di Indonesia Capai 4.237.201

Nasional
Dua Tahun Jokowi-Ma'ruf, Golkar Ingkatkan Pemulihan Kemiskinan Ekstrem Pasca-Pandemi

Dua Tahun Jokowi-Ma'ruf, Golkar Ingkatkan Pemulihan Kemiskinan Ekstrem Pasca-Pandemi

Nasional
PTM Terbatas Dimulai, Jokowi Minta Kepala Daerah Pastikan Sekolah Siap Disiplin Prokes

PTM Terbatas Dimulai, Jokowi Minta Kepala Daerah Pastikan Sekolah Siap Disiplin Prokes

Nasional
Banteng, Celeng, dan Oligarki Partai Politik

Banteng, Celeng, dan Oligarki Partai Politik

Nasional
HSN 2021, Ini Pesan Gus Muhaimin untuk Para Santri di Indonesia

HSN 2021, Ini Pesan Gus Muhaimin untuk Para Santri di Indonesia

Nasional
Airlangga Ungkap Strategi Kemenangan Golkar, Minta Road Map Pemilu 2024

Airlangga Ungkap Strategi Kemenangan Golkar, Minta Road Map Pemilu 2024

Nasional
Waketum Golkar Sebut Kader Terjerat Korupsi Belum Terbukti Bersalah, Hormati Proses Hukum

Waketum Golkar Sebut Kader Terjerat Korupsi Belum Terbukti Bersalah, Hormati Proses Hukum

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.