Kompas.com - 22/03/2021, 16:16 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Ahli Psikologi Forensik Reza Indragiri Amriel menganalisis penyebab Rizieq Shihab walkout atau pergi meninggalkan persidangan virtual perkara pelanggaran kekarantinaan kesehatan yang digelar Pengadilan Negeri Jakarta Timur.

Reza menuturkan, persidangan virtual memang memberikan dampak psikologis berbeda terhadap terdakwa. Menurutnya, dampak psikologis ini kerap luput dari penyelenggaraan sidang virtual.

"Ketika persidangan dilangsungkan secara virtual, ternyata ada sekian banyak dampak psikologis yang bisa muncul. Sisi inilah yang tampaknya vakum dalam cermatan lembaga penegakan hukum dan juga sebagian sarjana hukum," kata Reza saat dihubungi, Senin (22/3/2021).

Baca juga: Rizieq Shihab Sempat Marah dan Walkout, Penghinaan terhadap Peradilan?

Ia mengatakan, terdakwa dalam persidangan virtual, merasakan adanya dehumanisasi. Selain itu, juga merasa terputus dari lingkungan sekitar.

Akibatnya, terdakwa bisa saja memilih meninggalkan persidangan virtual.

"Itulah penjelasan kenapa mereka lebih sering berteriak dan keluar dari ruang sidang ketika mereka diadili secara daring," ujar Reza.

Ada pula faktor-faktor kendala teknologi yang kerap menimbulkan masalah. Misalnya, suara yang terputus-putus dan sinyal yang buruk sehingga ada jeda yang panjang antara jawaban dan pertanyaan.

Hal ini, Reza menuturkan, tidak hanya berdampak terhadap terdakwa atau saksi di ruang sidang, tapi juga majelis hakim.

"Sinyal yang tidak stabil bisa menambah keraguan para pihak di ruang sidang. Akan muncul kesan bahwa Yang Mulia justru menjadi tidak berdaya ketika berhadapan dengan serba aneka kendala teknologi," katanya.

Baca juga: Jaksa Akhirnya Bacakan Dakwaan, meski Rizieq Sempat Ancam Walkout

Ia mencontohkan dalam beberapa persidangan virtual, putusan majelis hakim kerap merugikan terdakwa.

Misalnya, kriminal yang mengajukan jaminan lewat persidangan jarak jauh, jika dikabulkan, ternyata harus membayar jaminan dengan besaran hampir 100 persen lebih tinggi.

"Itu semua bisa ditafsirkan sebagai, katakanlah, kerugian bagi pihak-pihak yang disidang secara virtual," ucap Reza.

Karena itu, Reza mengatakan dampak psikologis dalam penyelenggaraan sidang virtual ini harus dikelola dengan cermat.

Ia menegaskan, sikap terdakwa atau saksi yang memilih meninggalkan ruang sidang tidak bisa semata-mata dikatakan sebagai sebuah penghinaan terhadap lembaga peradilan atau majelis hakim.

"Kalau kondisi-kondisi psikologis akibat persidangan virtual ini diabaikan, konsekuensi buruknya tidak hanya ke terdakwa, tapi juga ke hakim," tuturnya.

Baca juga: Dakwaan Jaksa, Rizieq Hasut Masyarakat Hadiri Peringatan Maulid dan Pernikahan di Petamburan

Pada persidangan pada Selasa (16/3/2021) dan Jumat (19/3/2021), Rizieq Shihab yang menjadi terdakwa dalam kasus pelanggaran kekarantinaan kesehatan secara terang-terangan menolak sidang pembacaan dakwaan untuknya yang digelar secara virtual.

Mantan pimpinan Front Pembela Islam (FPI) itu berkukuh hadir langsung ke Pengadilan Negeri Jakarta Timur, bukan mengikuti sidang telekonferensi dari Rumah Tahanan Mabes Polri.

"Saya didorong, saya tidak mau hadir, Sampaikan ke majelis hakim saya tidak rida dunia akhirat," kata Rizieq.

Setelahnya, ia meninggalkan persidangan.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

 
Pilihan Untukmu


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kemenkes: Penyakit Jantung Penyebab Kematian Tertinggi pada 2014-2019

Kemenkes: Penyakit Jantung Penyebab Kematian Tertinggi pada 2014-2019

Nasional
Berkas Sambo dkk Lengkap, Kejagung Tak Tutup Kemungkinan Tahan Putri Candrawathi

Berkas Sambo dkk Lengkap, Kejagung Tak Tutup Kemungkinan Tahan Putri Candrawathi

Nasional
Petani Keluhkan Harga Kopra Turun, Jokowi: Naik Turunnya Harga Komoditas Sulit Diintervensi

Petani Keluhkan Harga Kopra Turun, Jokowi: Naik Turunnya Harga Komoditas Sulit Diintervensi

Nasional
KPK Geledah 4 Tempat di Semarang, Salatiga, dan Yogyakarta Terkait Suap Hakim Agung Sudrajad Dimyati

KPK Geledah 4 Tempat di Semarang, Salatiga, dan Yogyakarta Terkait Suap Hakim Agung Sudrajad Dimyati

Nasional
Jalani 'Fit and Proper Test', Nyoman Wara Ingin KPK Fokus Tindak Kasus Korupsi yang Rugikan Negara

Jalani "Fit and Proper Test", Nyoman Wara Ingin KPK Fokus Tindak Kasus Korupsi yang Rugikan Negara

Nasional
Capim KPK Johanis Tanak Pilih Utamakan Pencegahan: Uang Negara Keluar Banyak saat Tangani Kasus Korupsi

Capim KPK Johanis Tanak Pilih Utamakan Pencegahan: Uang Negara Keluar Banyak saat Tangani Kasus Korupsi

Nasional
Perkara Lukas Enembe, Demokrat: Pemberantasan Korupsi Tunduk Hukum Negara Bukan Parpol

Perkara Lukas Enembe, Demokrat: Pemberantasan Korupsi Tunduk Hukum Negara Bukan Parpol

Nasional
Tok, Komisi III DPR Pilih Johanis Tanak Gantikan Lili Pintauli di KPK

Tok, Komisi III DPR Pilih Johanis Tanak Gantikan Lili Pintauli di KPK

Nasional
Deretan Kebijakan Kontroversial Mendikbud Ristek Nadiem Makarim

Deretan Kebijakan Kontroversial Mendikbud Ristek Nadiem Makarim

Nasional
Hal-hal Memberatkan dalam Vonis Eks Dirjen Kemendagri Ardian Noervianto

Hal-hal Memberatkan dalam Vonis Eks Dirjen Kemendagri Ardian Noervianto

Nasional
Ralat, Polri Sebut AKBP Raindra Ajukan Banding atas Sanksi Demosi 4 Tahun

Ralat, Polri Sebut AKBP Raindra Ajukan Banding atas Sanksi Demosi 4 Tahun

Nasional
Sekjen Ungkap Kesalahan Fatal Pamdal yang Bikin IPW Merasa Tak Boleh Masuk ke DPR

Sekjen Ungkap Kesalahan Fatal Pamdal yang Bikin IPW Merasa Tak Boleh Masuk ke DPR

Nasional
Berkas Kasus Brigadir J Lengkap, Mahfud: Mari Kawal sampai Akhir

Berkas Kasus Brigadir J Lengkap, Mahfud: Mari Kawal sampai Akhir

Nasional
Capim KPK Noman Wara: Korupsi Tak Hanya Rugikan Pelaku, tapi Juga Keluarga

Capim KPK Noman Wara: Korupsi Tak Hanya Rugikan Pelaku, tapi Juga Keluarga

Nasional
Detik-detik Pelanggaran HAM Berat di Paniai: Oknum TNI Tembak Warga dan Tikam dari Dekat

Detik-detik Pelanggaran HAM Berat di Paniai: Oknum TNI Tembak Warga dan Tikam dari Dekat

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.