Kompas.com - 22/03/2021, 09:27 WIB
Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengikuti rapat kerja dengan Komisi X DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (18/3/2021). Rapat tersebut membahas persiapan vaksinasi COVID-19 bagi guru, murid dan mahasiswa serta membahas persiapan pembukaan pembelajaran tatap muka sekolah di bulan Juli. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/wsj. ANTARA FOTO/GALIH PRADIPTAMenteri Pendidikan dan Kebudayaan Nadiem Makarim mengikuti rapat kerja dengan Komisi X DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Kamis (18/3/2021). Rapat tersebut membahas persiapan vaksinasi COVID-19 bagi guru, murid dan mahasiswa serta membahas persiapan pembukaan pembelajaran tatap muka sekolah di bulan Juli. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/wsj.

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Nadiem Makarim tak ingin pendidikan Pancasila sekadar menghafal butir-butir atau lima sila yang ada.

Ia berharap seluruh siswa mengamalkan nilai-nilai Pancasila dari pendidikan yang didapat di sekolah.

"Pancasila sampai hari ini menjadi dasar pemikiran dalam penyusunan kebijakan dan pengendali relasi sosial di masyarakat, sehingga kami menginginkan pendidikan Pancasila yang lebih dari sekedar hafalan butir-butir sila," kata Nadiem dalam rilis survei Indikator Politik Indonesia, Minggu (21/3/2021).

Baca juga: Rencana Nadiem Buka Opsi Pembelajaran Tatap Muka setelah Vaksinasi Guru Selesai

Nadiem mengatakan, pada kenyataannya pendidikan Pancasila di sekolah yang diterima para siswa cenderung berjarak dari kehidupan sehari-hari.

Akibatnya, nilai dan gagasan mulia dari Pancasila tidak mampu diinternalisasi.

Untuk menjembatani jarak tersebut, kata Nadiem, pihaknya menyusun konsep profil pelajar Pancasila.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Konsep ini terdiri dari enam komponen yakni beriman bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa dan berakhlak mulia, berkebinekaan global, gotong royong, mandiri, bernalar kristis, dan kreatif.

Beriman kepada Tuhan dan berakhlak mulia menjadi acuan untuk membentuk karakter siswa yang memiliki integritas, spiritualitas, dan moralitas.

Baca juga: Menag Sebut Mayoritas Muslim Indonesia Setuju dengan Pancasila

Sementara, berkebinekaan global dibutuhkan untuk berkompetisi secara global, mentoleransi sekaligus mencintai perbedaan.

Selanjutnya, gotong royong menjadi salah satu karakter bangsa untuk mempersiapkan diri menghadapi tantangan global melalui kerja sama dan kolaborasi.

Pada saat yang sama, kemandirian dibutuhkan guna mencapai cita-cita dan kemauan untuk terus belajar.

Kemudian, bernalar kritis merupakan kemampuan memecahkan masalah di berbagai aspek kehidupan. Sementara, kreativitas tidak hanya dimaknai di bidang seni atau budaya, tetapi juga kreatif mengambil keputusan saat menghadapi situasi baru.

"Pendidikan Pancasila di bawah payung Merdeka Belajar dirancang dengan konsep link and match antara enam komponen profil pelajar Pancasila dengan kehidupan sehari-hari saat ini dan masa depan," tutur Nadiem.

Baca juga: Fraksi PKS Minta Perpres soal Investasi Miras Dibatalkan, Dinilai Cederai Nilai Pancasila

Nadiem pun berpesan kepada para guru untuk tidak hanya meminta siswanya menghafal butir-butir Pancasila, tetapi menjadi pendidik dan contoh pembelajar sepanjang hayat, juga sebagai warga negara yang mampu memahami, memaknai, dan mengamalkan nilai-nilai Pancasila.

Namun demikian, menurut Nadiem, pembelajaran pendidikan Pancasila bukan hanya tanggung jawab guru semata, tapi seluruh pihak.

"Pendidikan Pancasila bukan hanya menjadi tugas guru mata pelajaran PMP (Pendidikan Moral Pancasila) dan PPKn (Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan) tetapi merupakan tanggung jawab kita semuanya," kata dia.

Untuk diketahui, survei Indikator Politik Indonesia menemukan bahwa mayoritas anak muda menilai PMP dan PPKn penting untuk dimasukkan dalam mata pelajaran di sekolah.

Sebanyak 82,3 persen anak muda menilai bahwa pendidikan tersebut semestinya diajarkan sejak sekolah dasar (SD).

Adapun survei yang digelar Maret 2021 ini melibatkan 1.200 responden berusia 17-21 tahun.

Survei dilakukan melalui telepon dan memiliki toleransi kesalahan atau margin of error kurang lebih sebesar 2,9 persen.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jumhur Hidayat Dituntut 3 Tahun Penjara, Kuasa Hukum Keberatan JPU Tak Sertakan Keterangan Saksi

Jumhur Hidayat Dituntut 3 Tahun Penjara, Kuasa Hukum Keberatan JPU Tak Sertakan Keterangan Saksi

Nasional
Kasus Dugaan Penyebaran Hoaks, Jumhur Hidayat Dituntut 3 Tahun Penjara

Kasus Dugaan Penyebaran Hoaks, Jumhur Hidayat Dituntut 3 Tahun Penjara

Nasional
Kubu Moeldoko Uji Materi AD/ART, Demokrat: Cari Pembenaran 'Begal Politik'

Kubu Moeldoko Uji Materi AD/ART, Demokrat: Cari Pembenaran "Begal Politik"

Nasional
KSAU Pimpin Sertijab Danseskoau hingga Pangkoopsau III

KSAU Pimpin Sertijab Danseskoau hingga Pangkoopsau III

Nasional
Yusril Jadi Kuasa Hukum Kubu Moeldoko Ajukan Uji Materi AD/ART Demokrat ke MA

Yusril Jadi Kuasa Hukum Kubu Moeldoko Ajukan Uji Materi AD/ART Demokrat ke MA

Nasional
Panglima TNI, Kapolri, dan Ketua DPR Hadiri Bakti Sosial Alumni Akabri 1996 di Tangerang

Panglima TNI, Kapolri, dan Ketua DPR Hadiri Bakti Sosial Alumni Akabri 1996 di Tangerang

Nasional
Satgas: Jika Ada Kasus Positif Covid-19, Segera Tutup Sekolah

Satgas: Jika Ada Kasus Positif Covid-19, Segera Tutup Sekolah

Nasional
Forum Pemred Sahkan Kepengurusan Baru, Arfin Asydhad Ketua

Forum Pemred Sahkan Kepengurusan Baru, Arfin Asydhad Ketua

Nasional
Prof Sahetapy dan Kisah-kisah Anggota Dewan yang Terhormat

Prof Sahetapy dan Kisah-kisah Anggota Dewan yang Terhormat

Nasional
Cegah Insiden Serupa Penganiayaan Muhammad Kece Terulang, Polri Perketat Pengamanan Rutan

Cegah Insiden Serupa Penganiayaan Muhammad Kece Terulang, Polri Perketat Pengamanan Rutan

Nasional
Mengacu BPOM, Penggunaan Vaksin Pfizer Belum Diperbolehkan untuk Anak di Bawah 12 Tahun

Mengacu BPOM, Penggunaan Vaksin Pfizer Belum Diperbolehkan untuk Anak di Bawah 12 Tahun

Nasional
PBB, Berkarya, dan Perindo Ajukan Uji Materi Pasal tentang Verifikasi Parpol UU Pemilu ke MK

PBB, Berkarya, dan Perindo Ajukan Uji Materi Pasal tentang Verifikasi Parpol UU Pemilu ke MK

Nasional
Laporan Luhut terhadap Fatia dan Haris Azhar Dinilai Berkebalikan dengan Pernyataan Jokowi

Laporan Luhut terhadap Fatia dan Haris Azhar Dinilai Berkebalikan dengan Pernyataan Jokowi

Nasional
Polri Dalami Dugaan Irjen Napoleon Aniaya Muhammad Kece, 18 Saksi Diperiksa

Polri Dalami Dugaan Irjen Napoleon Aniaya Muhammad Kece, 18 Saksi Diperiksa

Nasional
Satgas: Ada 2,77 Persen Sekolah yang Timbulkan Klaster Covid-19 Selama PTM Terbatas

Satgas: Ada 2,77 Persen Sekolah yang Timbulkan Klaster Covid-19 Selama PTM Terbatas

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.