Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Kompas.com - 13/03/2021, 12:18 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Peneliti Senior Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) Dewi Fortuna Anwar mengatakan, negara-negara Asia Tenggara yang tergabung dalam ASEAN sangat menghormati prinsip non interference atau tidak mencampuri urusan dalam negara lain.

Ia mengatakan, ASEAN dibentuk bukan untuk menjadi organisasi supra nasional, tetapi untuk menjaga hubungan harmonis antar negara.

"ASEAN itu didesain akan menciptakan hubungan harmonis antarnegara sehingga bisa memperkuat kedaulatan masing-masing negara," kata Dewi dalam diskusi virtual bertajuk 'Perkembangan Krisis Myanmar', Sabtu (13/3/2021).

Baca juga: Demonstrasi di Myanmar Ada Korban Jiwa, Evakuasi WNI Dinilai Belum Perlu

Menurut Dewi, dalam krisis yang terjadi di Myanmar, meski tak bisa ikut campur namun, negara-negara ASEAN bisa mendesak militer untuk menghentikan kekerasan terhadap masyarakat sipil.

"Pertama harus jangan kekerasan ini berlanjut, hentikan kekerasan kalau perlu memberikan bantuan humaniter," ujarnya.

Selain itu, Dewi mengatakan, Indonesia dan negara-negara ASEAN bisa mengedepankan dialog dengan negara lain terutama Amerika Serikat dan China agar tidak menjadikan krisis Myanmar sebagai ajang rivalitas.

"Jadi jangan main sendiri di Myanmar, karena bagaimanapun ini keluarga besar ASEAN," ucapnya.

Lebih lanjut, Dewi mengatakan, negara-negara ASEAN harus mendorong Myanmar menyelesaikan konflik internal dengan kepala dingin. 

"Karena jika kekerasan dipertahankan, tentu investasi akan berhenti dan peranan Myanmar yang tadinya bisa diterima oleh masyarakat internasional di ASEAN akan terhenti dan merugikan Myanmar jangka panjang," pungkasnya.

Baca juga: ASEAN Lamban Sikapi Kudeta Myanmar, Fadli Zon Pastikan DPR Desak AIPA Lakukan Langkah Konkret

Diketahui situasi dan kondisi di Myanmar saat ini sedang memanas karena terjadi aksi kudeta oleh militer.

Akibatnya, banyak korban berjatuhan karena melakukan aksi protes terhadap langkah pihak militer.

Pemimpin de facto Myanmar Aung San Suu Kyi pun saat ini tengah ditahan oleh pihak militer Myanmar yang menuduh Komisi Pemilihan Umum Myanmar (UEC) gagal menangani ketidakberesan besar dalam pemilu Myanmar yang digelar pada November 2020 lalu.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.

Video rekomendasi
Video lainnya


Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jokowi Dorong Masyarakat Lebih Sering Pakai Kebaya, tapi Tak Perlu Dipaksa

Jokowi Dorong Masyarakat Lebih Sering Pakai Kebaya, tapi Tak Perlu Dipaksa

Nasional
Pimpin Sidang AIPA Ke-44, Puan Ajak Anggota Kedepankan Semangat ASEAN Solidarity

Pimpin Sidang AIPA Ke-44, Puan Ajak Anggota Kedepankan Semangat ASEAN Solidarity

Nasional
Menlu Pastikan Kontingan Indonesia yang Ikuti Jambore di Korea Selatan Aman

Menlu Pastikan Kontingan Indonesia yang Ikuti Jambore di Korea Selatan Aman

Nasional
UU Ciptaker Dorong Skema Kemitraan bagi UMKM

UU Ciptaker Dorong Skema Kemitraan bagi UMKM

Nasional
Bicara Perubahan, Anies Baswedan Singgung Harga-harga yang Mahal

Bicara Perubahan, Anies Baswedan Singgung Harga-harga yang Mahal

Nasional
Pecahkan Rekor Pergelaran Angklung Terbesar Dunia, Indonesia Masuk Guinness World Records

Pecahkan Rekor Pergelaran Angklung Terbesar Dunia, Indonesia Masuk Guinness World Records

Nasional
Menkes Bertemu Elon Musk, Bahas Kerja Sama Akses Internet di Puskesmas Terpencil

Menkes Bertemu Elon Musk, Bahas Kerja Sama Akses Internet di Puskesmas Terpencil

Nasional
Tersangka Pembunuh Mahasiswa UI Diklaim Anak yang Tergolong Pintar

Tersangka Pembunuh Mahasiswa UI Diklaim Anak yang Tergolong Pintar

Nasional
Momen Menkeu Sri Mulyani dan Menlu Retno Jalan di Catwalk 'Istana Berkebaya'

Momen Menkeu Sri Mulyani dan Menlu Retno Jalan di Catwalk "Istana Berkebaya"

Nasional
Hina Jokowi, Rocky Gerung Digugat ke PN Jaksel

Hina Jokowi, Rocky Gerung Digugat ke PN Jaksel

Nasional
KPK Sebut Kongkalikong Bagi-bagi 'Kue' Sudah Dilakukan Sejak Bahas RAPBD

KPK Sebut Kongkalikong Bagi-bagi "Kue" Sudah Dilakukan Sejak Bahas RAPBD

Nasional
Usai Kabasarnas Tersangka, KPK Tagih Fitur E-Audit ke LKPP

Usai Kabasarnas Tersangka, KPK Tagih Fitur E-Audit ke LKPP

Nasional
Buka Acara 'Istana Berkebaya' Iriana Jokowi Sampaikan Pantun

Buka Acara "Istana Berkebaya" Iriana Jokowi Sampaikan Pantun

Nasional
Memilih Pemimpin Indonesia Berpengetahuan Geopolitik Dunia

Memilih Pemimpin Indonesia Berpengetahuan Geopolitik Dunia

Nasional
Hadiri 'Istana Berkebaya', Presiden dan Pejabat Negara Kompak Pakai Baju Sadariah dan Kebaya Encim

Hadiri "Istana Berkebaya", Presiden dan Pejabat Negara Kompak Pakai Baju Sadariah dan Kebaya Encim

Nasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com