Soal Klaster Pesantren Tasikmalaya, Satgas Covid-19 Duga karena Kurang Disiplin

Kompas.com - 17/02/2021, 11:36 WIB
Puluhan ambulans Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya mengevakuasi ratusan pasien Covid-19 klaster pesantren ke lokasi isolasi darurat di Hotel Crown Tasikmalaya, Selasa (16/2/2021). KOMPAS.COM/IRWAN NUGRAHAPuluhan ambulans Dinas Kesehatan Kota Tasikmalaya mengevakuasi ratusan pasien Covid-19 klaster pesantren ke lokasi isolasi darurat di Hotel Crown Tasikmalaya, Selasa (16/2/2021).

JAKARTA, KOMPAS.com - Juru Bicara Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Wiku Adisasmito mengatakan, pimpinan pondok pesantren harus melindungi para santri dan guru dari penularan Covid-19.

"Pimpinan pesantren harus melindungi santri dan guru dengan ketat dengan protokol 3M yang ketat," ujar Wiku ketika dihubungi Kompas.com, Rabu (17/2/2021).

Ia menanggapi soal 380 santri di Tasikmalaya yang dinyatakan positif terpapar Covid-19 setelah seorang santri merasakan gejala penyakit tersebut.

Baca juga: Berawal dari Belajar Tatap Muka, 1 Santri Hilang Indra Penciuman, Akhirnya 375 Santri Tasikmalaya Positif Covid-19

Dia menduga, kejadian di Tasikmalaya itu disebabkan kurangnya disiplin menjalankan protokol kesehatan memakai masker, menjaga jarak, dan menghindari kerumunan serta rajin mencuci tangan memakai sabun.

Kemudian, dia menyarankan, apabila kegiatan pembelajaran bisa dilakukan secara virtual, pembelajaran tatap muka sebaiknya ditunda dulu.

"Jika tidak bisa daring, maka pembelajaran tatap muka harus dengan protokol kesehatan sangat ketat. Kalau tidak ketat, ya akan ada kejadian penularan seperti ini," ucap Wiku.

Meski demikian, dia pun mengajak semua pihak melihat kejadian di Tasikmalaya sebagai evaluasi penerapan protokol kesehatan.

Baca juga: Soal Klaster Pesantren Tasikmalaya, 157 Santri Dievakusi 21 Ambulans karena Demam dan Sesak Napas

Bagi pemerintah daerah setempat, Wiku menyebut, semestinya ada intervensi sehingga penularan Covid-19 dalam jumlah besar bisa dihindari.

"Untuk pesantren-pesantren lain diharapkan juga demikian. Sebab, kondisi di pesantren dengan jumlah santri yang sangat banyak, kemudian berkumpul di asrama dengan intensitas interaksi tinggi, " ujar Wiku.

"Sehingga protokol kesehatan harus benar-benar dijalankan secara disiplin. Jika tidak bisa kebobolan, terjadi penularan," kata dia. 

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Cegah Covid-19, Satgas: Jangan Silaturahmi Secara Fisik saat Lebaran

Cegah Covid-19, Satgas: Jangan Silaturahmi Secara Fisik saat Lebaran

Nasional
Kakorlantas Minta Masyarakat Urungkan Niat Mudik jika Tak Ingin Diputarbalikkan

Kakorlantas Minta Masyarakat Urungkan Niat Mudik jika Tak Ingin Diputarbalikkan

Nasional
Novel Baswedan Sebut Firli Bahuri Sewenang-wenang Nonaktifkan 75 Pegawai KPK yang Tak Lolos TWK

Novel Baswedan Sebut Firli Bahuri Sewenang-wenang Nonaktifkan 75 Pegawai KPK yang Tak Lolos TWK

Nasional
KPK Persilakan Pengamat Militer Connie Rahakundini Buat Laporan soal Mafia Alutsista

KPK Persilakan Pengamat Militer Connie Rahakundini Buat Laporan soal Mafia Alutsista

Nasional
Jelang Lebaran 6 Perwira Tinggi Polri Dapat Kenaikan Pangkat, Ini Nama-namanya...

Jelang Lebaran 6 Perwira Tinggi Polri Dapat Kenaikan Pangkat, Ini Nama-namanya...

Nasional
Saksi Sebut Staf Edhy Prabowo Pernah Gunakan Nama Politisi PDI-P Terkait Pengurusan Izin Ekspor Benur

Saksi Sebut Staf Edhy Prabowo Pernah Gunakan Nama Politisi PDI-P Terkait Pengurusan Izin Ekspor Benur

Nasional
Kuasa Hukum Juliari Batubara Sebut Kesaksian Pepen Nazaruddin Tak Miliki Kekuatan sebagai Alat Bukti

Kuasa Hukum Juliari Batubara Sebut Kesaksian Pepen Nazaruddin Tak Miliki Kekuatan sebagai Alat Bukti

Nasional
Satgas: Bukan Tidak Mungkin Kasus Covid-19 di Indonesia Sama Parahnya dengan India

Satgas: Bukan Tidak Mungkin Kasus Covid-19 di Indonesia Sama Parahnya dengan India

Nasional
Cegah Lonjakan Covid-19, Masyarakat Diminta Tak Halalbihalal di Lingkungan Kantor

Cegah Lonjakan Covid-19, Masyarakat Diminta Tak Halalbihalal di Lingkungan Kantor

Nasional
Varian Baru Virus Corona Berisiko Menular ke Anak-anak, Pemerintah Diminta Tunda Sekolah Tatap Muka

Varian Baru Virus Corona Berisiko Menular ke Anak-anak, Pemerintah Diminta Tunda Sekolah Tatap Muka

Nasional
Kemenag Gunakan Dua Metode dalam Penetapan 1 Syawal 1442 Hijriah

Kemenag Gunakan Dua Metode dalam Penetapan 1 Syawal 1442 Hijriah

Nasional
Kemenhub: Jelang Idul Fitri, Lebih dari 138.000 Mobil dan Motor Tinggalkan Jakarta

Kemenhub: Jelang Idul Fitri, Lebih dari 138.000 Mobil dan Motor Tinggalkan Jakarta

Nasional
Koordinator Sebut Mayoritas Tenaga Kesehatan RSD Wisma Atlet Sudah Terima Insentif

Koordinator Sebut Mayoritas Tenaga Kesehatan RSD Wisma Atlet Sudah Terima Insentif

Nasional
KPK Bantah Nonaktifkan 75 Pegawai yang Tak Lolos TWK

KPK Bantah Nonaktifkan 75 Pegawai yang Tak Lolos TWK

Nasional
Idul Fitri Jatuh pada 13 Mei, Menag: Mudah-mudahan Ini Simbol Kebersamaan Umat Islam

Idul Fitri Jatuh pada 13 Mei, Menag: Mudah-mudahan Ini Simbol Kebersamaan Umat Islam

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X