Laboratorium Pemeriksa Tes PCR Tak Merata di Indonesia, Pemerintah Percepat Testing dengan Rapid Antigen

Kompas.com - 11/02/2021, 21:57 WIB
Fasilitas tes cepat antigen Covid-19 di Terminal Bus Kalideres pada Rabu (23/12/2020). Kompas.com/Sonya TeresaFasilitas tes cepat antigen Covid-19 di Terminal Bus Kalideres pada Rabu (23/12/2020).

JAKARTA, KOMPAS.com - Juru Bicara Pemerintah untuk vaksinasi dari Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Siti Nadia Tarmizi mengungkapkan, saat ini Indonesia memiliki 630 laboratorium pemeriksa tes PCR.

Namun, sebaran laboratorium tersebut tidak merata. Sehingga, menurutnya, pemerintah perlu meningkatkan pelaksanaan testing, salah satunya dengan menggunakan tes rapid antigen.

"Badan Kesehatan Dunia (WHO) sendiri telah merekomendasikan screening menggunakan tes rapid antigen untuk mendiagnosa Covid-19," kata Nadia dalam keterangan tertulis, Kamis (11/2/2021).

Hal tersebut diutarakannya dalam dialog bertema "3M+3T: Jurus Jitu Atasi Pandemi", yang disiarkan secara daring, Kamis.

Nadia menjelaskan, tujuan penggunaan tes rapid antigen yaitu mempercepat deteksi penularan Covid-19. Dengan begitu, lanjutnya, pemerintah bisa dengan cepat pula menelusuri kontak-kontak pasien.

"Sehingga kasus bisa ditemukan lebih dini dan penanganan juga dilakukan lebih dini. Dengan rapid antigen ini apabila hasilnya positif, seharusnya sudah bisa melakukan isolasi mandiri, sembari menunggu hasil tes PCR," jelasnya.

Baca juga: Kemenkes: Pemeriksaan dengan Rapid Antigen Berpotensi Meningkatkan Kasus Positif Covid-19

Di sisi lain, Nadia mengapresiasi berjalannya vaksinasi tenaga kesehatan (nakes) yang pada hari ini telah menembus angka lebih dari satu juta orang.

Namun, ia mengingatkan bahwa untuk menekan pandemi Covid-19, pemerintah tidak hanya mengimbau masyarakat untuk melakukan 3M.

Pemerintah, kata dia, juga semakin memperkuat 3T yakni testing, tracing, dan treatment.

Sementara itu, ahli epidemiologi Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Indonesia (UI) Syahrizal Syarif menjelaskan, tes rapid antigen memang disetujui WHO sebagai alat diagnosis dalam keadaan tertentu.

"Sensitivitasnya juga di atas 80 persen, dan spesifitas di atas 97 persen. Saya memandang ini suatu terobosan Kemenkes," terangnya dalam kesempatan yang sama.

Oleh karena itu, ia mendukung langkah pemerintah memberlakukan tes rapid antigen sebagai alat diagnostik.

Menurutnya, strategi melakukan tes dengan lebih cepat melalui rapid antigen dinilai sangat bagus. Hal itu karena apabila penemuan kasus berjalan lamban, maka wabah tidak cepat bisa dikendalikan.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kasus Eks Dirut Bosowa Corporindo Sadikin Aksa, Polri Sudah Periksa 26 Saksi dan 3 Ahli

Kasus Eks Dirut Bosowa Corporindo Sadikin Aksa, Polri Sudah Periksa 26 Saksi dan 3 Ahli

Nasional
Gubernur: 1.023 KK yang mengungsi akibat Bencana di NTT

Gubernur: 1.023 KK yang mengungsi akibat Bencana di NTT

Nasional
Jokowi Jelaskan Alasan Pemerintah Larang Mudik Lebaran 2021

Jokowi Jelaskan Alasan Pemerintah Larang Mudik Lebaran 2021

Nasional
Jokowi: Saya Paham Kita Rindu Sanak Saudara, tapi Mari Utamakan Keselamatan

Jokowi: Saya Paham Kita Rindu Sanak Saudara, tapi Mari Utamakan Keselamatan

Nasional
Jokowi Tegaskan Larangan Mudik Berlaku untuk Seluruh Masyarakat

Jokowi Tegaskan Larangan Mudik Berlaku untuk Seluruh Masyarakat

Nasional
Gubernur Viktor Pastikan Desain Kebijakan Pembangunan di NTT Segera Dilakukan

Gubernur Viktor Pastikan Desain Kebijakan Pembangunan di NTT Segera Dilakukan

Nasional
UPDATE 16 April: Sebaran 5.363 Kasus Baru Covid-19, Paling Tinggi Jawa Barat

UPDATE 16 April: Sebaran 5.363 Kasus Baru Covid-19, Paling Tinggi Jawa Barat

Nasional
UPDATE 16 April: 5,81 Juta Orang Sudah Divaksinasi Covid-19 Dosis Kedua, 10,7 Juta Dosis Pertama

UPDATE 16 April: 5,81 Juta Orang Sudah Divaksinasi Covid-19 Dosis Kedua, 10,7 Juta Dosis Pertama

Nasional
LIVE STREAMING: Jokowi Beri Paparan soal Larangan Mudik Lebaran

LIVE STREAMING: Jokowi Beri Paparan soal Larangan Mudik Lebaran

Nasional
Sebut Mispersepsi, Mendikbud: Tak Ada Maksud Ubah Mata Kuliah Pancasila dan Bahasa Indonesia

Sebut Mispersepsi, Mendikbud: Tak Ada Maksud Ubah Mata Kuliah Pancasila dan Bahasa Indonesia

Nasional
UPDATE 16 April: Pemerintah Telah Periksa 13.711.972 Spesimen Terkait Covid-19

UPDATE 16 April: Pemerintah Telah Periksa 13.711.972 Spesimen Terkait Covid-19

Nasional
UPDATE 16 April: Ada 107.297 Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia

UPDATE 16 April: Ada 107.297 Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia

Nasional
UPDATE 16 April: Pasien Sembuh Covid-19 Capai 1.444.229

UPDATE 16 April: Pasien Sembuh Covid-19 Capai 1.444.229

Nasional
UPDATE 16 April: Kasus Suspek Covid-19 di Indonesia Capai 58.999

UPDATE 16 April: Kasus Suspek Covid-19 di Indonesia Capai 58.999

Nasional
Polisi Masih Buru 3 DPO Terduga Teroris di Jakarta dan Sekitarnya

Polisi Masih Buru 3 DPO Terduga Teroris di Jakarta dan Sekitarnya

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X