Kompas.com - 02/02/2021, 16:36 WIB
Presiden Joko Widodo memberi hormat ketika memimpin upacara HUT ke-75 TNI di Istana Negara Jakarta, Senin (5/10/2020). ANTARA FOTO/BIRO PERS/KRIS/HOPresiden Joko Widodo memberi hormat ketika memimpin upacara HUT ke-75 TNI di Istana Negara Jakarta, Senin (5/10/2020).

JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Joko Widodo kembali menekankan pentingnya "sense of crisis" atau kepekaan dalam menghadapi krisis yang diakibatkan pandemi Covid-19.

Hal ini Jokowi sampaikan di hadapan sejumlah kepala daerah dan kader Partai Golkar di acara peluncuran Sekolah Pemerintahan dan Kebijakan Publik Partai Golkar secara daring, Selasa (2/2/2021).

"Saya minta pada seluruh kader Partai Golkar dan juga calon kepala daerah untuk belajar dan menimba pengalaman dari situasi saat ini, pentingnya untuk memiliki perasaan bahwa situasi yang kita hadapi tidak biasa-biasa saja, sehingga ada sense of crisis," kata Jokowi.

Baca juga: Pandemi Munculkan Krisis, Jokowi: Persoalan Indonesia ke Depan akan Makin Berat

Menurut Jokowi, dalam menghadapi krisis kesehatan dan ekonomi akibat pandemi, diperlukan kecerdasan, pengetahuan terhadap situasi lapangan, dan penguasaan manajemen lapangan.

Diperlukan pula kemampuan untuk melihat hambatan dan kendala, hingga kecepatan mencari solusi untuk memecahkan masalah.

Para pemangku kepentingan juga dinilai harus mampu menemukan smart shortcut, melakukan terobosan yang inovatif, serta tidak terjebak pada prosedur administratif.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Dan yang paling penting adalah berorientasi pada outcome, berorientasi pada hasil, dan berorientasi pada kemajuan dan kesejahteraan rakyat," ujar Jokowi.

Jokowi mengaku, saat ini pemerintah tengah mengerahkan seluruh sumber daya untuk mengatasi pendemi.

Upaya ini salah satunya diwujudkan melalui vaksinasi Covid-19. Vaksinasi tidak lain bertujuan untuk memutus rantai penyebaran virus corona.

Selain sektor kesehatan, kata dia, pemerintah juga terus berupaya mendorong pemulihan ekonomi.

"Menyeimbangkan rem dan gas, mengendalikan penyebaran virus sekaligus melaksanakan berbagai program pemulihan ekonomi nasional, menyiapkan berbagai kebijakan dan program untuk menjawab peluang pasca pandemi yang akan menjadi trigger untuk ekonomi bergerak lebih cepat," katanya.

Ke depan, lanjut Jokowi, masalah yang dihadapi Indonesia terkait hal ini belum usai, bahkan ke depan akan semakin kompleks.

Oleh karenanya, diperlukan kerja sama seluruh pihak untuk menangani pandemi ini.

"Dibutuhkan manajemen untuk mengelola krisis secara cepat dan tepat," kata dia.

Baca juga: Jokowi: Kita Bersyukur RI Bisa Kendalikan Krisis Pandemi dan Ekonomi

Ihwal "sense of crisis" sebelumnya sempat disinggung Jokowi di hadapan para menterinya sekira Juni 2020 lalu.

Melalui video yang ditayangkan YouTube Sekretariat Presiden, Minggu (28/6/2020), Jokowi menyampaikan pernyataan keras dan menyoroti kinerja para menteri kabinetnya.

Jokowi menilai para menterinya tidak memiliki sense of crisis di tengah pandemi virus corona. 

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.