Muhadjir: Eksploitasi Alam yang Salah Jadi Salah Satu Penyebab Banjir di Kalsel

Kompas.com - 22/01/2021, 09:59 WIB
Menko PMK Muhadjir Effendy meminta relawan dan tim SAR gabungan di lokasi longsor Sumedang, tidak melupakan protokol kesehatan. AAM AMINULLAH/KOMPAS.com KOMPAS.COM/AAM AMINULLAHMenko PMK Muhadjir Effendy meminta relawan dan tim SAR gabungan di lokasi longsor Sumedang, tidak melupakan protokol kesehatan. AAM AMINULLAH/KOMPAS.com

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengingatkan agar tidak ada pihak yang memanfaatkan kekayaan sumber daya alam di Kalimantan tanpa memikirkan risikonya.

Muhadjir mengatakan, risiko tersebut jangan hanya dihitung jangka pendek, tapi harus dalam jangka panjang. Begitu pun dengan keuntungan yang akan diperoleh.

"Jangan sampai ada yang mengambil keuntungan terlalu besar (dari lingkungan), sementara sebagian yang lain menanggung risiko terlalu besar," kata Muhadjir saat berkunjung ke posko pengungsian banjir Balai Besar Pendidikan dan Pelatihan Kesejahteraan Sosial (BBPPKS) Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan, Kamis (21/1/2021), dikutip dari siaran pers.

Pasalnya, kata dia, Kalimantan memiliki sumber daya alam berupa keanekaragaman hayati dan kandungan mineral di dalam perut buminya.

Ia pun tak memungkiri bahwa eksploitasi alam menjadi salah satu penyebab banjir besar di Kalimantan Selatan.

Baca juga: Banjir, Menko PMK Sebut Kalsel Tak Diprediksi Kena Dampak La Nina

"Pengelolaan alam yang salah dan sembrono menyebabkan timbulnya malapetaka bencana alam," kata dia.

Oleh karena itu, ia pun meminta seluruh pihak, baik masyarakat umum, pengusaha, maupun pemerintah daerah lebih mencintai alam dan memanfaatkannya dengan bijaksana.

"Mari kita manfaatkan alam ini dengan cara-cara yang bijak, arif, penuh perhitungan manfaat dan risikonya. Jangan sampai ternyata manfaat itu lebih kecil dibanding risikonya," ucap dia.

Adapun banjir besar di Kalimantan Selatan menggenangi 11 kabupaten dan kota merendam 87.765 rumah warga.

Ketinggian air mencapai 2 meter dan menyebabkan 74.863 orang mengungsi, dengan korban meninggal sebanyak 21 orang.

Akibatnya, banyak sarana dam prasarana yang rusak. Mulai dari jembatan putus, tanggul jebol, jalan Trans Kalimantan putus, serta sekolah dan rumah ibadah yang rusak.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X