Jokowi: Sungai Barito Biasanya Tampung 230 Juta Meter Kubik Air, Sekarang 2,1 Miliar

Kompas.com - 18/01/2021, 15:52 WIB
Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (13/1/2021). Biro Pers Sekretariat PresidenPresiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan, Jakarta, Rabu (13/1/2021).

JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Joko Widodo mengatakan, banjir di Kalimantan Selatan disebabkan curah hujan yang tinggi sehingga memicu meluapnya air Sungai Barito.

Curah hujan tinggi ini terjadi hampir 10 hari terakhir secara berturut-turut.

"Sehingga daya tampung Sungai Barito yang biasanya menampung 230 juta meter kubik, sekarang ini masuk air sebesar 2,1 miliar kubik air," ujar Jokowi saat mengunjungi Jembatan Mataraman, Kabupaten Banjar, Kaimantan Selatan, sebagaimana ditayangkan YouTube Sekretariat Presiden, Senin (18/1/2020).

"Sehingga memang meluap di 10 kabupaten/kota," lanjutnya.

Baca juga: Jokowi: Sudah Lebih dari 50 Tahun Tak Terjadi Banjir Besar di Kalsel

Jokowi juga menyinggung bahwa banjir di Kalimantan Selatan kali ini merupakan yang terbesar dalam lebih dari 50 tahun terakhir.

Dia pun menyampaikan dukacita mendalam kepada korban dan keluarga korban banjir.

"Ini adalah sebuah banjir besar yang sudah lebih dari 50 tahun tidak terjadi di Kalimantan Selatan," tutur Jokowi.

"Saya ingin menyampaikan dukacita yang mendalam atas korban yang meninggal di musibah banjir di Kalimantan Selatan. Semoga keluarga yang ditinggalkan mendapatkan kesabaran dan keikhlasan," tambahnya.

Baca juga: Jembatan di Trans-Kalimantan Runtuh, Jokowi ke Menteri PUPR: Dalam 3-4 Hari Selesaikan

Diberitakan, banjir melanda hampir seluruh wilayah Kalimantan Selatan akibat tingginya intensitas hujan selama beberapa hari terakhir.

Gubernur Kalimantan Selatan pun telah menaikkan status siaga darurat menjadi tanggap darurat.

"Sehubungan hal tersebut, saya atas nama Pemerintah Provinsi Kalsel dengan ini menyatakan bahwa kejadian yang dimaksud bencana alam menerapkan status siaga," ujar Sahbirin Noor dalam keterangan tertulis, Jumat (15/1/2021).

"Untuk darurat bencana banjir, tanah longsor, angin puting beliung dan gelombang pasang menjadi status tanggap darurat," tambah dia.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X