KOLOM BIZ
Konten ini merupakan kerja sama Kompas.com dengan Kedutaan China

Membaca 70 Tahun Hubungan Indonesia-China, Pilar Stabilitas Kawasan

Kompas.com - 31/12/2020, 17:31 WIB
Presiden Joko Widodo (kiri) bersama Presiden China Xi Jinping saat upacara penyambutan kenegaraan di Great Hall of the People di Beijing, Kamis (26/3/2015). AFP PHOTO / POOL / FENG LIPresiden Joko Widodo (kiri) bersama Presiden China Xi Jinping saat upacara penyambutan kenegaraan di Great Hall of the People di Beijing, Kamis (26/3/2015).

HUBUNGAN diplomatik Indonesia dan China sudah memasuki usia 70 tahun. Selama kurun waktu tersebut, hubungan keduanya banyak mengalami pasang surut.

Meski sama-sama pernah mengalami masa-masa sulit, setidaknya dalam 20 terakhir, hubungan Indonesia dan China berjalan stabil, bahkan terus meningkat.

Selanjutnya, selama kurun waktu beberapa dekade terakhir, Indonesia banyak mengalami perubahan, begitu pula dengan China.

Kita (Indonesia) menjadi sebuah emerging market economy dengan produk domestik bruto (PDB) lebih dari 1 triliun dollar AS dan berada pada peringkat 16 terbesar di dunia. Jumlah kelas menengah di Indonesia sudah menjadi jauh lebih besar, berbeda dengan zaman dahulu yang sarat dengan kemiskinan.

Ekonomi China pun telah berubah. Kini, China menjadi salah satu ekonomi terbesar dunia. Pada bagian ini, ada kontribusi Indonesia. Secara langsung ataupun tidak, Indonesia menjadi kekuatan regional China yang menjadikannya Negara kuat di dunia.

Hubungan Indonesia-China menjadi pilar stabilitas kawasan karena keduanya dapat saling memenuhi kebutuhan yang sangat relevan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Bahkan, hubungan ini menjadi salah satu yang paling transformatif di Asia. Dilihat dari riwayatnya, kedua negara sempat tidak memiliki hubungan, kemudian hubungan sempat dibekukan, dan akhirnya sekarang telah menjadi sebuah kemitraan strategis komprehensif yang sangat kontras.

Meski belum menjadi superpower seperti AS, China merupakan negara yang memiliki pengaruh terbesar dan berdampak bagi dunia. Ekonomi China dan kebijakan-kebijakannya telah membawa dampak besar bagi internasional.

Sebagai contoh, saat krisis moneter 2008, kebijakan China telah membantu dunia dari resesi.

Saat ini, China juga semakin gencar mengeluarkan kebijakan-kebijakan terkait perubahan iklim. Hal ini telah membawa perubahan yang amat besar dalam dinamika diplomasi.

China terus berupaya merangkul Indonesia. Mengapa demikian? Sebab, Indonesia dipandang memiliki kekuatan regional di kawasan paling dekat dengan China, yakni Asia Tenggara.

Di Indonesia, pada Oktober 2013, Presiden China Xi Jinping memaparkan kebijakan One Belt One Road (OBOR) di depan DPR RI. Ini menjadi sinyal yang jelas sekali bahwa China memandang posisi Indonesia sebagai suatu hal penting bagi kebijakan internasionalnya.

Perubahan penting

Dalam 70 tahun hubungan diplomatik, ada sejumlah perubahan penting yang terjadi. Pertama, China saat ini telah menjadi pemain besar, baik bilateral maupun dalam hubungan dengan kawasan Asia Tenggara.

China juga sudah menjadi the most impactful country bagi Indonesia. Market-nya begitu besar di Indonesia, begitu pula trading partner, yang menjadikan China nomor satu di negara ini.

Kedua, pada sektor pariwisata. Negeri Tirai Bambu ini juga memberikan kontribusi besar terhadap devisa pariwisata. Jumlah wisatawan mancanegara asal China yang berkunjung ke Indonesia menempati urutan kedua setelah Malaysia. Investasi, infrastruktur, dan pendidikan juga mendapat pengaruh dari China.

Indonesia dan China telah menjadi mitra strategis. Hubungan kedua negara ini telah naik ke level lebih tinggi. Artinya, bukan lagi hubungan biasa.

Ketiga, perubahan yang paling penting adalah pertumbuhan yang pesat dalam kerja sama ekonomi. Sebagai contoh, hubungan perdagangan Indonesia-AS mengalami stagnasi dalam 10 tahun terakhir, yakni berkisar 26–30 miliar dollar AS. Pertumbuhan setiap tahunnya pun terbilang sedikit.

Presiden Jokowi saat melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden China Xi Jinping di sela acara KTT G20 pada Jumat (28/6/2019) malam.Biro pers setpres Presiden Jokowi saat melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden China Xi Jinping di sela acara KTT G20 pada Jumat (28/6/2019) malam.

Sementara itu, hubungan perdagangan Indonesia-China meningkat pesat, mulai dari 15 miliar dollar AS menjadi 30 miliar dollar AS, kemudian 50–70 miliar dollar AS, dan kini hampir menyentuh 100 miliar dollar AS. Pertumbuhan pesat ini menjadi fitur yang istimewa dalam hubungan bilateral kedua negara ini.

Masa depan Indonesia dan China pun akan semakin terkait. Ekonomi China akan terus tumbuh. China akan menjadi pasar bagi Indonesia. Begitu pula sebaliknya, China menjadikan Indonesia sebagai pasar yang amat potensial.

Joint venture proyek, infrastruktur, dan konektivitas antara Indonesia-China akan semakin meningkat pesat dibandingkan dengan Jepang, AS, maupun Australia. Indonesia akan tumbuh dan semakin terkait dengan China, apalagi mata uang yuan semakin banyak dipakai dalam perdagangan kedua belah pihak—meskipun dollar AS akan tetap menjadi “raja”.

Belum lagi ditambah kebijakan OBOR yang akan dipandang sebagai proyek infrastruktur paling besar di dunia. Selama 10–20 tahun ke depan, kita dapat melihat, modal yang mereka berikan akan meningkatkan konektivitas Indonesia dan China, juga dengan negara-negara lain.

Perubahan lainnya, sekarang, kepercayaan terhadap China juga lebih tinggi dibandingkan era 1970–1980-an. China piawai menjaga dan meningkatkan hubungan diplomatik dengan Indonesia, berbeda dengan negara lainnya.

Dalam konteks kerja sama multilateral, Indonesia dan China sama-sama mementingkan multilateralisme. Hal ini penting karena dalam beberapa tahun terakhir, multilateralisme mengalami sejumlah gangguan.

Selain itu, posisi China sebagai anggota tetap Dewan Keamanan (DK) PBB memberi alasan penting bagi Indonesia untuk menjalin kerja sama. Apalagi. kita juga sempat jadi anggota DK tidak tetap PBB.

Dalam isu perubahan iklim, China memiliki ambisi besar untuk mencapai target netral karbon pada 2060. Ini merupakan upaya luar biasa bagi negara yang sangat mengandalkan batu bara.
China sudah go green, di antaranya melalui teknologi listrik dan energi matahari. Sementara Indonesia, targetnya masih dalam pencapaian penurunan emisi sebanyak 29 persen pada 2030. Angka ini masih sangat jauh jika dibandingkan China.

Jadi, terkait Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), China menempatkan dirinya sebagai negara berkembang yang aktif memberikan kontribusi positif ke negara-negara berkembang lainnya.

Tantangan

Pandemi Covid-19 menjadi tantangan bagi negara-negara terdampak, termasuk Indonesia dan China. Meski China sudah dapat mengontrol pandemi ini, penanganan Covid-19 tetap menjadi agenda utama negara tersebut.

Penanganan pandemi ini juga menjadi agenda utama pada hubungan bilateral Indonesia-China, terutama hubungan diplomasi luar negeri terkait diplomasi vaksin yang sangat penting.
Pemulihan ekonomi juga menjadi tantangan yang harus dihadapi. Kita berharap, ekonomi pada tahun depan sudah mulai membaik, apalagi ketika sudah tersedia vaksin.

Sejujurnya, jika kita lihat, banyak kawasan negara lain yang pasarnya makin mengecil karena 100 lebih negara akan mengalami kontraksi pertumbuhan ekonomi. Satu-satunya negara yang tumbuh, hanya China.

Ilustrasi bendera Indonesia dan China.SHUTTERSTOCK/Leo Altman Ilustrasi bendera Indonesia dan China.

Jadi, yang memiliki pasar besar dan mempunyai kebijakan menyedot produk-produk negara lain adalah China.

Pemulihan ekonomi Indonesia akan banyak terikat dengan China. Membangun kepercayaan menjadi tantangan bagi Indonesia. Di tingkat atas, kepercayaan Indonesia terhadap China sudah baik, tetapi di tingkat grass root masih banyak sejumlah tantangan, termasuk masalah ideologi. Untuk itu, harus ada upaya dari kedua belah pihak.

Tantangan terakhir adalah bagai¬mana Indonesia-China menciptakan kawasan stabil, damai, dan tidak terbelenggu rivalitas negara-negara besar. Faktanya, AS masih berseteru dengan China.

Presiden Xi Jinping berharap tercipta hubungan antarnegara yang tidak selalu harus bersaing secara tidak sehat. Jadi, muncul tantangan bagi Indonesia agar dapat memfasilitasi hubungan antara negara-negara besar yang positif dan tidak merobek kawasan.

Seperti diketahui, saat ini AS sangat anti-China. Ini tidak sehat. China berharap agar Asia Tenggara lebih percaya kepada negara tersebut. Begitu pula dengan AS yang ingin agar negara-negara Asia Tenggara lebih percaya kepada Negeri Paman Sam.

Pandangan negara-negara Asia Tenggara cukup besar bagi kedua negara tersebut. Oleh sebab itu, perseteruan AS dan China harus dapat diselesaikan sehingga tidak mengusik stabilitas Asia Tenggara.

 


Rekomendasi untuk anda
STAND UP COMEDY INDONESIA
Kompilasi Stand Up Komika Runner Up SUCI Season 7-9
Kompilasi Stand Up Komika Runner Up...
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

UPDATE: Total 3,4 Juta Kasus Covid-19 di Indonesia, Angka Kematian Masih Tinggi

UPDATE: Total 3,4 Juta Kasus Covid-19 di Indonesia, Angka Kematian Masih Tinggi

Nasional
Obat Regkirona Diklaim Bisa Turunkan Risiko Kematian Pasien Covid-19 hingga 72 Persen

Obat Regkirona Diklaim Bisa Turunkan Risiko Kematian Pasien Covid-19 hingga 72 Persen

Nasional
Dorong Produktivitas Milenial, Kemnaker Gelar Ngopi Daring Nasional

Dorong Produktivitas Milenial, Kemnaker Gelar Ngopi Daring Nasional

Nasional
Kemensos Salurkan 95 Persen Bansos Tunai di DKI Jakarta

Kemensos Salurkan 95 Persen Bansos Tunai di DKI Jakarta

Nasional
Jokowi Kirim 5.000 Paket Bansos ke Sorong Usai Warga Geruduk Kantor Dinsos

Jokowi Kirim 5.000 Paket Bansos ke Sorong Usai Warga Geruduk Kantor Dinsos

Nasional
Sariamin Ismail, Pujangga Perempuan Pertama Indonesia Pemilik Banyak Nama Samaran yang Jadi Google Doodle 31 Juli 2021

Sariamin Ismail, Pujangga Perempuan Pertama Indonesia Pemilik Banyak Nama Samaran yang Jadi Google Doodle 31 Juli 2021

Nasional
Ketua DPR Minta Vaksinasi Covid-19 Merata di Seluruh Indonesia

Ketua DPR Minta Vaksinasi Covid-19 Merata di Seluruh Indonesia

Nasional
Mahfud: Permasalahan Bansos Sudah Lama Terjadi, Baru Terasa Saat Pandemi

Mahfud: Permasalahan Bansos Sudah Lama Terjadi, Baru Terasa Saat Pandemi

Nasional
Jubir PAN Minta Kader Penggugat Zulkifli Hasan Rp 100 Miliar Introspeksi Diri

Jubir PAN Minta Kader Penggugat Zulkifli Hasan Rp 100 Miliar Introspeksi Diri

Nasional
UPDATE 31 Juli: Ada 278.618 Kasus Suspek Covid-19 di Indonesia

UPDATE 31 Juli: Ada 278.618 Kasus Suspek Covid-19 di Indonesia

Nasional
Rakornas Virtual, PPP Umumkan Pembentukan Relawan Vaksin Covid-19

Rakornas Virtual, PPP Umumkan Pembentukan Relawan Vaksin Covid-19

Nasional
UPDATE: Sebaran 1.808 Kasus Kematian Covid-19, Jawa Timur Tertinggi

UPDATE: Sebaran 1.808 Kasus Kematian Covid-19, Jawa Timur Tertinggi

Nasional
Di Rakornas, Ketum PPP Minta Seluruh Kader Salurkan Bansos hingga Fasilitasi Warga Positif Covid-19

Di Rakornas, Ketum PPP Minta Seluruh Kader Salurkan Bansos hingga Fasilitasi Warga Positif Covid-19

Nasional
UPDATE 31 Juli: Jawa Tengah Tertinggi Penambahan Kasus Baru Covid-19

UPDATE 31 Juli: Jawa Tengah Tertinggi Penambahan Kasus Baru Covid-19

Nasional
UPDATE: Ada 545.447 Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia

UPDATE: Ada 545.447 Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia

Nasional
komentar di artikel lainnya