Hubungan Indonesia-China, Pilar Stabilitas Kawasan

Kompas.com - 31/12/2020, 16:17 WIB
Presiden Jokowi saat melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden China Xi Jinping di sela acara KTT G20 pada Jumat (28/6/2019) malam. Biro pers setpresPresiden Jokowi saat melakukan pertemuan bilateral dengan Presiden China Xi Jinping di sela acara KTT G20 pada Jumat (28/6/2019) malam.

HUBUNGAN diplomatik Indonesia-China sudah memasuki usia 70 tahun. Dalam perjalanannya, hubungan ini menemui pasang-surut. Namun, dalam 20 tahun terakhir, hubungan keduanya berjalan stabil, terus meningkat, dan semakin matang.

Selama 70 tahun tersebut, Indonesia telah menjadi kekuatan regional (regional power) dan ekonomi nomor 16 terbesar di dunia dengan kelas menengah terbesar di Asia Tenggara.

China juga berubah pesat menjadi raksasa ekonomi dunia sekaligus menjadi kekuatan global secara militer, diplomatik, politik, bisnis, teknologi, dan lain sebagainya.

5 perubahan penting

Pertanyaannya,setelah 70 tahun menjalin hubungan diplomatik, apa yang berubah? Menurut saya, paling tidak ada lima perubahan penting yang perlu dicatat.

Pertama, makna China bagi Indonesia telah (jauh) berubah. Pada era 1950-an dan 1960-an, China adalah salah satu negara termiskin di Asia, bahkan di dunia.

Setelah membuka diri pada pertengahan 1970-an, China menjadi negara paling sukses di dunia dalam mengentaskan rakyat dari kemiskinan (menurut Bank Dunia, sekitar 850 juta rakyat China keluar dari garis kemiskinan). China juga menjadi raksasa ekonomi dunia yang serbaunggul di berbagai bidang.

Bersamaan dengan itu, China juga tumbuh menjadi “rising power” dunia dengan kekuatan militer dan ekonomi melebihi Jepang, Rusia, dan negara-negara Eropa.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Fenomena “the rise of China” bahkan menjadi fitur yang paling signifikan dalam percaturan dunia 20 tahun terakhir. Hal ini praktis membuat gundah dunia Barat, terutama Amerika Serikat (AS) yang merasa posisi dominannya sedang digoyang China.

Perubahan kedua, dampak China terhadap Indonesia juga sudah berbeda jauh dibandingkan 70 atau 60 tahun lalu. China telah menjadi ekonomi terbesar di dunia kalau dihitung dari purchasing power parity (PPP).

Kalaupun dihitung tanpa menggunakan ukuran PPP, ekonomi China diperkirakan akan melampaui AS pada 2028. Segala kebijakan dari Beijing pasti membawa dampak bagi negara-negara lain, termasuk Indonesia. Perubahan struktural dalam program reformasi ekonomi Presiden Xi Jinping, misalnya, akan mengakibatkan konsumsi dalam negeri China melonjak drastis.

Bahkan, sebelum pandemi Covid-19, China secara global sudah membuka keran impor senilai 10 triliun dollar AS dan menetapkan target investasi di luar negeri sebesar 500 miliar dollar AS dalam beberapa tahun ke depan.

Tidak ada negara lain di dunia yang menyajikan fasilitas ekonomi sebesar ini. Indonesia harus secara agresif memanfaatkan peluang ini, jangan menunggu bola karena negara-negara lain aktif menjemput bola.

Indonesia juga harus lebih lincah dan cerdik menembus dinding-dinding pasar China.

Perubahan penting yang ketiga adalah dalam pola hubungan kedua negara. Pada 1965 sampai 1987, hubungan diplomatik Indonesia-China sempat dibekukan dan memasuki era yang suram. Sepanjang kurun waktu tersebut, sesuai juga dengan perkembangan politik dalam negeri, diplomat Indonesia tidak diperbolehkan untuk berhubungan apa pun dengan diplomat China.

Kalau ada yang melanggar, bisa dipecat dari Departemen Luar Negeri. Kini, suasananya telah berubah drastis. Apalagi sejak era reformasi ketika terjadi perubahan politikdan sosial yang fundamental di Indonesia.

China yang dulu dianggap “momok” kini telah resmi menjadi “mitra strategis dan komprehensif” Indonesia. Ini berarti, baik Jakarta maupun Beijing sama-sama mengakui bahwa hubungan mereka merupakan hubungan yang “khusus” dan bernilai strategis.

Diplomat Indonesia dan diplomat China kini terbiasa bekerja sama dengan intensif baik secara bilateral, regional (ASEAN), plurilateral (G-20), maupun multilateral (PBB).

Pos Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Beijing juga menjadi salah satu penempatan terpenting bagi Indonesia.

Ilustrasi bendera Indonesia dan China.SHUTTERSTOCK/Leo Altman Ilustrasi bendera Indonesia dan China.

 

Perubahan besar keempat adalah pesatnya pertumbuhan hubungan bilateral Indonesia-China.

Saya dapat mengatakan bahwa dalam 15 tahun terakhir dan terutama dalam 5 tahun terakhir, negara yang paling melejit hubungannya dengan Indonesia adalah China.

Kalau pada 1987—tahun ketika hubungan diplomatik kembali cair—hubungan ekonomi Indonesia China praktis nol, China kini telah menjadi pasar ekspor terbesar bagi Indonesia dan investor ketiga terbesar.

Turis mancanegara terbesar di Indonesia bukan lagi dari Jepang, Australia atau AS,melainkan China (dan Malaysia).

Produk buatan China, seperti Oppo, Vivo,Xiaomi, dan Huawei, banyak digandrungi konsumen Tanah Air. Mahasiswa Indonesia yang belajar di China juga lebih banyak jumlahnya dibandingkan di AS.

Sementara itu, China sendiri rajin mengirim sinyal bahwa Indonesia menempati posisi penting bagi diplomasi mereka. Presiden Xi Jinping mengumumkan kebijakan “One Belt, One Road” sewaktu berkunjung ke Indonesia pada 2013.

Presiden Xi Jinping juga mengumumkan pembentukan Asia Infrastructure Investment Bank (AIIB) di Indonesia. Ini menandakan bahwa Beijing memandang Indonesia sebagai negara yang berpengaruh di kawasan.

Perubahan kelima adalah timbulnya tingkat kepercayaan Indonesia (trust) yang lebih tinggi terhadap China dibandingkan sebelumnya. Walaupun perbedaan tetap ada, misalnya mengenai konsep Indo-Pasifik, semakin banyak kebijakan, posisi, dan kepentingan Indonesia-China yang menjadi aligned (satutujuan).

Hal itu tercermin dalam isu seperti sentralitas ASEAN, Regional Comprehensive Economic Partnership (RCEP), multilateralisme, perubahan iklim, akses yang adil terhadap vaksin Covid-19, dan lain sebagainya.

Memang, masalah trust ini masih belum sempurna dan hubungan Jakarta-Beijing masih diwarnai tarik-menarik dalam sejumlah masalah. Namun, pada hakikatnya, “comfort level” Pemerintah Indonesia terhadap China semakin besar dan sikap ini tumbuh secara otomatis akibat ruang kerja sama yang semakin padat.

Dalam masa kritis Covid-19, misalnya, China menjadi negara pertama yang menawarkan kerja sama vaksin untuk Indonesia. Bagi Indonesia yang sedang dirundung krisis kesehatan dan ekonomi, ini tentu merupakan tawaran yang sangat berarti.

Selain itu, dalam suasana internasional yang semakin marak dengan intervensi politik, Pemerintah Indonesia juga meyakini bahwa Beijing tidak berminat melakukan kebijakan yang intrusif atau intervensionis terhadap politik dalam negeri di Indonesia.

China selama ini juga tidak pernah ikut campur dalam masalah separatisme di Indonesia. Sebaliknya, China selalu menyatakan mendukung NKRI tanpa kondisionalitas.

Tantangan

Hubungan Indonesia-China yang demikian kompleks tentunya sarat dengan berbagai tantangan. Untuk jangka pendek ke depan, tantangan paling utama adalah bagaimana Indonesia dan China dapat bekerja sama untuk menangani pandemi Covid-19, baik dari segi kesehatan publik, terutama produksi vaksin, obat dan peralatan medis, serta riset, maupun dari segi pemulihan ekonomi.

China mempunyai aset yang besar untuk kedua kebutuhan nasional yang sangat urgen tersebut (vaksin dan pemulihan ekonomi).

China dan Vietnam adalah negara Asia yang langka karena ekonominya pada 2020 tetap tumbuh sekitar 1,9 persen. Sementara itu, ekonomi negara besar lainnya mengalami kontraksi di bawah 0 persen. Prediksinya, ekonomi China akan tumbuh 8,2 persen pada 2021.

Tahun ini, tanpa dinyana, perdagangan China juga tumbuh hampir 10 persen dibanding tahun lalu. Pasar, modal, teknologi, dan wisatawan China harus terus digarap Indonesia dalam dua tahun ke depan.

Tantangan lainnya adalah bagaimana meningkatkan kepercayaan antara kedua belah pihak. Di tingkat elite politik Indonesia, kepercayaan terhadap China relatif baik. Akan tetapi, di tingkat akar rumput masih banyak sejumlah tantangan dan keluhan.

Masalah buruh dari China masih sering menjadi bola panas di Tanah Air. Teori konspirasi juga semakin marak, terutama melalui media sosial.

Hubungan Indonesia-China perlu ditangani dengan sabar dan bijaksana. Oleh karena itu, diplomasi publik harus semakin ditingkatkan untuk menjaga stabilitas hubungan.

Foreign Policy Community of Indonesia (FPCI) sebagai organisasi hubungan internasional yang saya pimpin sudah sering mengadakan program introduksi pemuda Indonesia-China.

Hasilnya, semua peserta dari Indonesia dan China, setelah kunjungan ke kedua negara berakhir, kembali ke Tanah Air masing-masing membawa semangat persahabatan dan perspektif yang lebih positif dibanding sebelumnya.

Tantangan berikut bagi Indonesia adalah sangat kurangnya sinologis (ahli China) di Indonesia.

Mengingat China akan terus menjadi “the most impactful country” terhadap Indonesia, Pemerintah Indonesia seharusnya mulai secara sistematis mempersiapkan jajaran sinologis yang kompeten di Indonesia.

Sebagai kriteria,misalnya, dicari yang menguasai bahasa Mandarin dan Cantonese, piawai dalam menjalin jaringan dengan pejabat Pemerintah, Partai Komunis China, dan berbagai think tank setempat di China, serta menguasai seluk-beluk politik dalam negeri dan arus pemikiran kebijakan internasional China. Hal-hal ini masih absen di Indonesia.

Tantangan terakhir adalah bagaimana Indonesia-China dapat menciptakan kawasan yang stabil, damai, dan tidak dirugikan oleh perseteruan negara-negara besar (major powers).

Risiko terbesar bagi Indonesia adalah rivalitas yang semakin meruncing antara negara-negara besar, terutama AS-China, tetapi juga melibatkan negara-negara Eropa, Rusia, Jepang,dan India.

Rivalitas tersebut, kalau semakin menjadi-jadi, bisa merobek berbagai kawasan dunia dan mengganggu stabilitas, misalnya dengan semakin menyulut perang dagang, proxy war, dan intervensi politik.

Indonesia, sambil terus memegang teguh prinsip politik luar negeri bebas aktif, harus bisa memanfaatkan kedekatan dengan China untuk membantu menurunkan ketegangan dan memajukan kerja sama damai antara negara-negara besar.

Hubungan Indonesia-China, yang notabene merupakan hubungan antara regional power Asia Tenggara dan rising power dunia, kalau diolah dengan baik, dapat menjadi pilar stabilitas di Asia.



26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Propam Tunggu Izin MA untuk Periksa Irjen Napoleon atas Dugaan Penganiayaan Muhammad Kece

Propam Tunggu Izin MA untuk Periksa Irjen Napoleon atas Dugaan Penganiayaan Muhammad Kece

Nasional
Ombudsman Temukan Masalah Pendataan Terkait Vaksinasi Covid-19

Ombudsman Temukan Masalah Pendataan Terkait Vaksinasi Covid-19

Nasional
Kemenkes Pastikan Jemaah Umrah Akan Dapat 'Booster' Vaksin Covid-19

Kemenkes Pastikan Jemaah Umrah Akan Dapat "Booster" Vaksin Covid-19

Nasional
Ombudsman Minta Koordinasi Terkait Distribusi Vaksin Covid-19 Dibenahi

Ombudsman Minta Koordinasi Terkait Distribusi Vaksin Covid-19 Dibenahi

Nasional
Pratu Ida Bagus Gugur Ditembak Saat Amankan Pendaratan Heli untuk Angkut Jenazah Nakes

Pratu Ida Bagus Gugur Ditembak Saat Amankan Pendaratan Heli untuk Angkut Jenazah Nakes

Nasional
Satgas: Covid-19 Kembali Melonjak di Sejumlah Negara dengan Kasus Aktif di Bawah 1 Persen

Satgas: Covid-19 Kembali Melonjak di Sejumlah Negara dengan Kasus Aktif di Bawah 1 Persen

Nasional
Dukung Indonesia Jadi Pusat Vaksin Global, Anggota Komisi IX Harap Ada Manfaat bagi Bidang Farmasi

Dukung Indonesia Jadi Pusat Vaksin Global, Anggota Komisi IX Harap Ada Manfaat bagi Bidang Farmasi

Nasional
Raker dengan DPD, Risma Paparkan 2 Pilar Strategi Kemensos Tangani Kemiskinan

Raker dengan DPD, Risma Paparkan 2 Pilar Strategi Kemensos Tangani Kemiskinan

Nasional
Pihak Kemenag Akan ke Arab Saudi untuk Diplomasi soal Umrah

Pihak Kemenag Akan ke Arab Saudi untuk Diplomasi soal Umrah

Nasional
Aturan Lengkap PPKM Level 2 di Luar Jawa-Bali hingga 4 Oktober 2021

Aturan Lengkap PPKM Level 2 di Luar Jawa-Bali hingga 4 Oktober 2021

Nasional
UPDATE 21 September: Ada 393.404 Suspek Terkait Covid-19

UPDATE 21 September: Ada 393.404 Suspek Terkait Covid-19

Nasional
Anak di Bawah 12 Tahun Boleh Masuk Mal, Satgas: Jika Tak Mendesak Lebih Baik di Rumah

Anak di Bawah 12 Tahun Boleh Masuk Mal, Satgas: Jika Tak Mendesak Lebih Baik di Rumah

Nasional
Kasus Korupsi Asabri, Kejagung Periksa 8 Saksi

Kasus Korupsi Asabri, Kejagung Periksa 8 Saksi

Nasional
Satgas: Saat ini Pandemi Covid-19 di Indonesia Terkendali

Satgas: Saat ini Pandemi Covid-19 di Indonesia Terkendali

Nasional
Panglima TNI Pimpin Sertijab Dankodiklat, Aster, Kapuskes, dan Kasetum

Panglima TNI Pimpin Sertijab Dankodiklat, Aster, Kapuskes, dan Kasetum

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.