Fenomena Long Covid, Ancaman Bagi Penyintas Covid-19 yang Perlu Diwaspadai

Kompas.com - 04/12/2020, 06:14 WIB
Ilustrasi pasien Covid-19, pasien virus corona, isolasi mandiri Shutterstock/KhosroIlustrasi pasien Covid-19, pasien virus corona, isolasi mandiri

Dokter spesialis patologi klinik Primaya Hospital Bekasi Timur, dr Muhammad Irhamsyah SpPK M.Kes menyampaikan, ada berbagai tahapan yang bisa dilalui seseorang untuk mengetahui apakah dirinya mengalami Long Covid atau tidak.

Baca juga: Long Covid, Dampak Jangka Panjang Infeksi Corona dan Gejalanya

Tahapan tersebut di antaranya wawancara, pemeriksaan fisik, riwayat penyakit sebelumnya, hingga pemeriksaan penunjang oleh dokter-dokter ahli agar menentukan bahwa pasien mengalami gejala Long Covid.

Pada tahapan wawancara, pasien dapat mengeluhkan gejala-gejala yang dialami setelah dirawat dan diterapi di rumah sakit sebagai pasien Covid-19.

Kemudian, pasien akan menjalani pemeriksaan fisik seperti pemeriksaan radiologi paru serta laboratorium. Pemeriksaan fisik merupakan pemeriksaan penunjang untuk mendeteksi Long Covid.

"Dari pemeriksaan laboratorium pun kita harus memeriksa parameter-parameter laboratorium seperti pemeriksaan darah lengkap, penanda proses peradangan dan infeksi, penanda enzim jantung, hingga pemeriksaan molekuler," jelasnya seperti diberitakan Kompas.com, Sabtu (31/10/2020).

Lanjut Irham, pemeriksaan penunjang tersebut juga berperan sangat penting untuk membantu klinis apakah gejala yang dialami pasien adalah gejala Covid-19 atau tidak.

Baca juga: Fenomena Long Covid Sudah Ada sejak Awal Pandemi, Apa Itu?

Perlu kajian lebih lanjut

Kendati demikian, publik tak perlu khawatir berlebihan terkait Long Covid, tetapi tetap waspada.

Pasalnya, Agus mengatakan bahwa Indonesia sendiri belum memiliki data terkait fenomena Long Covid yang menjangkit penyintas.

Data-data terkait Long Covid mulai bermunculan. Ada sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Annals of Internal Medicine, 11 November 2020.

Para peneliti melaporkan sepertiga dari responden mengalami masalah kesehatan seperti batuk hingga kehilangan bau secara terus menerus.

Selain itu, hampir separuhnya mengaku terpengaruh secara emosional, hingga beberapa di antaranya bahkan membutuhkan perawatan kesehatan mental.

Baca juga: Rusaknya Paru-paru Korban Virus Corona Jelaskan Misteri Long Covid

Data berikutnya seperti diberitakan The Guardian 15 November 2020. Penelitian lainnya menemukan tanda-tanda kerusakan beberapa organ pada orang muda dengan gejala Covid-19 dalam waktu empat bulan setelah infeksi awal.

Penemuan itulah yang menjadi langkah pembuka dalam mengembangkan pengobatan untuk beberapa gejala aneh dan ekstensif yang dialami orang-orang Long Covid.

Sama seperti penjelasan Agus, kelelahan, kabut pada otak, sesak napas, dan nyeri menjadi beberapa efek yang paling sering dilaporkan pasien setelah negatif dari virus corona.

Meski di luar negeri data mengenai Long Covid sudah ada, namun Agus berharap hal ini dapat menjadi tugas ke depan dari dunia kesehatan Indonesia agar mampu melihat sejauh mana Long Covid dapat menyerang penyintas.

"Ini akan menjadi suatu gambaran nantinya untuk kita bisa memberikan edukasi kepada masyarakat," ucap dia.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X