Kompas.com - 28/11/2020, 13:05 WIB
Ilustrasi anak memiliki ponsel sendiri SHUTTERSTOCKIlustrasi anak memiliki ponsel sendiri
|
Editor Bayu Galih

JAKARTA, KOMPAS.com - Pengamat Pendidikan Adjat Wiratma mengungkap beberapa faktor yang menyebabkan orang melakukan tindakan perundungan daring atau cyber bullying.

Faktor pertama, kata Adjat adalah, tingkat kebahagiaan anak yang mempengaruhi aktivitas di dunia maya.

"Tingkat kebahagiaan anak itu juga mempengaruhi aktivitas mereka untuk mencari kebahagiaan di dunia lain," kata Adjat dalam diskusi bertajuk 'Ancaman Cyber Bullying' Sabtu, (28/11/2020).

Baca juga: Unicef: Risiko Cyber Bullying Semakin Besar di Masa Pandemi Covid-19

Adjat menilai, karena anak tidak mendapat kebahagiaan, maka ia mencari kebahagiaan lain. Salah satu caranya adalah dengan menertawakan orang yang tertindas.

Faktor penyebab bullying selanjutnya juga bisa disebabkan karena anak mengalami kebosanan dan kurang penghargaan dari guru.

Sehingga, ini menyebabkan anak tersebut mencari eksistensi dengan menjadi bully melalui dunia maya.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

"Mereka mencari penghargaan lain, eksistensi yang lain di dunia maya yang tentu akan sangat ada hubungannya tadi, ya catatan meningkatnya cyber bullying di pandemi Covid-19," ujar dia.

Sebelumnya, pemerhati kesehatan jiwa anak dari organisasi PBB yang bergerak di bidang kesejahteraan anak Unicef, Ali Aulia Ramly mengatakan, risiko perundungan daring atau cyber bullying meningkat di masa pandemi Covid-19.

Baca juga: Jokowi: Anak Perlu Lebih Banyak Permainan yang Kuatkan Ikatan dengan Orangtua

Menurut dia, hal itu terjadi karena di masa pandemi anak menggunakan gawai atau gadget untuk pembelajaran jarak jauh. Risiko bullying pun rentan terjadi di ranah digital.

"Risikonya menjadi semakin besar (cyber bullying di masa pandemi). Walaupun kita juga bisa melihat ada kesempatan-kesempatan yang bisa kita raih dan kita capai, termasuk untuk melindungi anak dari perundungan online," kata Ali dalam diskusi daring bertajuk 'Ancaman Cyber Bullying', Sabtu (28/11/2020).

Ali mengatakan ada beberapa bentuk cyber bullying yang mungkin dialami anak, antara lain menyebarkan foto korban, menjelek-jelekan di media sosial.

Baca juga: Menteri PPPA Minta Anak Indonesia Manfaatkan Waktu dengan Hal Positif

Serta, menyerang atau terus melakukan pemantauan pada salah satu akun (stalking) dan menjadikannya sasaran bullying.

"Misalnya ada stalking diikuti terus satu orang yang jadi sasaran," ujar dia.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.