Menag: Dari Perspektif Agama, Kemajemukan Adalah Rahmat

Kompas.com - 25/11/2020, 21:07 WIB
Menteri Agama Fachrul Razi (kiri) mengikuti rapat kerja bersama Komisi VIII DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (18/11/2020). Raker tersebut membahas evaluasi penyelenggaraan umroh dan pendidikan pondok pesantren saat pandemi COVID-19. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/hp. ANTARA FOTO/PUSPA PERWITASARIMenteri Agama Fachrul Razi (kiri) mengikuti rapat kerja bersama Komisi VIII DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Rabu (18/11/2020). Raker tersebut membahas evaluasi penyelenggaraan umroh dan pendidikan pondok pesantren saat pandemi COVID-19. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/hp.
Penulis Irfan Kamil
|

JAKARTA, KOMPAS.com – Menteri Agama RI Fachrul Razi mengatakan, kemajemukan jika dilihat dari perspektif agama merupakan sebuah rahmat dan kehendak dari Tuhan.

Ia mengatakan, Tuhan tidak pernah menciptakan satu jenis pohon, satu jenis bunga, satu jenis spesies ikan, satu spesies rumput, satu jenis batu, satu jenis gunung atau bahkan satu jenis sel molekul.

“lalu tidakkah kita lancang bila kita memintanya untuk menciptakan satu jenis manusia saja yang mirip dengan kita?” kata Fahrul Razi dalam Colloquium Tokoh Agama bertajuk "Kerukunan dan Moderasi Beragama dalam Konteks Kemajemukan Indonesia" yang diselenggarakan Kementerian Agama, Rabu (25/11/2020).

“Kemajemukan itulah yang membuat kehidupan itu lebih dinamis dan berwarna, saling menopang, saling mengenal, saling mengasihi, dan saling menyayangi,” ucap dia.

Baca juga: Menag: Jemaah Umrah yang Palsukan Hasil Tes Swab Akan Diberi Sanksi

Fahrul Razi mengatakan bahwa ada enam agama yang banyak dianut oleh masyarakat Indonesia yaitu Islam, Kristen, Katolik, Budha, Hindu, dan Kong Hu Cu.

Selain itu, ada ratusan agama leluhur dan penghayat kepercayaan lainnya yang hidup dan berkembang di bumi pertiwi.

“Pun di masing-masing agama dan kepercayaan itu, terdapat pandangan-pandangan yang berbeda,” kata Menag.

Menurut Fachrul Razi, pemeluk agama berhak berpandangan bahwa agama yang anutnya adalah agama yang paling benar.

Namun di sisi lain, pemeluk agama berbeda juga punya hak berpandangan yang sama bagi agama yang dianutnya.

“Untuk itulah pentingnya rasa saling menghargai dan menghormati antar pemeluk agama dan kepercayaan lain,” kata Fachrul Razi.

Baca juga: Menag: Kesehatan Siswa Terpenting Saat Belajar Tatap Muka

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X