Kemenlu: Dialog Lintas Agama Diharapkan Beri Citra Positif Diplomasi Indonesia

Kompas.com - 25/11/2020, 12:18 WIB
Toleransi dan kebebasan beragama. Sejumlah warga berjalan menuju Masjid Istiqlal untuk melaksanakan Salat Idul Adha seusai memarkir kendaraan bermotornya di Gereja Katedral, Jakarta, Minggu (11/8/2019). Otoritas Gereja Katedral di Jakarta selain menyediakan halaman gereja sebagai tempat parkir bagi warga muslim yang melaksanakan Salat Idul Adha di Masjid Istiqlal juga mengubah jadwal ibadah misa Minggu dari pukul 06.00 WIB menjadi pukul 10.00 WIB untuk menghormati umat muslim yang merayakan Hari Raya Idul Adha pada Minggu, 11 Agustus 2019. ANTARA FOTO/APRILLIO AKBARToleransi dan kebebasan beragama. Sejumlah warga berjalan menuju Masjid Istiqlal untuk melaksanakan Salat Idul Adha seusai memarkir kendaraan bermotornya di Gereja Katedral, Jakarta, Minggu (11/8/2019). Otoritas Gereja Katedral di Jakarta selain menyediakan halaman gereja sebagai tempat parkir bagi warga muslim yang melaksanakan Salat Idul Adha di Masjid Istiqlal juga mengubah jadwal ibadah misa Minggu dari pukul 06.00 WIB menjadi pukul 10.00 WIB untuk menghormati umat muslim yang merayakan Hari Raya Idul Adha pada Minggu, 11 Agustus 2019.

JAKARTA, KOMPAS.com - Direktur Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri ( Kemenlu) Yusron Ambary mengatakan, Indonesia memiliki perhatian dan kepentingan memelihara kebinekaan serta keharmonisan pemeluk agama.

Kendati demikian, hal tersebut juga dapat dilakukan Indonesia untuk dunia internasional. Salah satu cara yang tengah ditempuh Kemenlu untuk mewujudkannya adalah melalui Dialog Lintas Agama.

Yusron mengatakan, sejak pertama kali menjadi fitur tetap diplomasi publik Indonesia pada 2004, DLA diharapkan mampu memberikan citra positif Indonesia di mata internasional.

"Harapan adanya tindak lanjut berupa upaya untuk mengadopsi nilai-nilai yang ada di Indonesia berupa nilai toleransi, kemajemukan, ke dalam masyarakat di negara lain," kata Yusron dalam Colloquium Tokoh Agama: Kerukunan dan Moderasi Beragama Dalam Konteks Kemajemukan Indonesia yang diselenggarakan Kementerian Agama secara virtual, Rabu (25/11/2020).

Baca juga: Presiden Jokowi Bertemu Tokoh Lintas Agama Bahas Penanganan Covid-19

Ia melanjutkan, hadirnya DLA yang telah berusia 16 tahun tersebut merupakan upaya Kemenlu untuk menyediakan ruang kepada kelompok moderat di Indonesia dan negara mitra.

Indonesia dan negara lain bisa saling berdialog dan menumbuhkan rasa saling pengertian antar negara melalui DLA.

Namun, di sisi lain, dialog ini akan dikatakan berhasil ketika publik internasional memahami nilai moderasi, toleransi, dan kemajemukan yang ada di Indonesia.

"Maka dari itu untuk mencapai tujuan tersebut diperlukan sikap toleransi dan budaya dialog antar umat beragama sehingga dapat tercipta saling pemahaman dan saling pengertian," ujarnya.

Di samping itu, ia menambahkan bahwa dalam bidang multilateralisme, Dialog Lintas Agama juga menjadi salah satu pendukung peran penting Indonesia sebagai anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB, serta anggota Dewan HAM PBB.

Baca juga: Wapres Minta Tokoh Lintas Agama Terus Bimbing Umat Patuhi Protokol Covid-19

Yusron berharap, melalui Dialog Lintas Agama, Indonesia akan terus meningkatkan perannya di tingkat global termasuk mendorong pendekatan komprehensif dalam memerangi terorisme, radikalisme, dan ekstrimisme.

Adapun Dialog Lintas Agama juga dipakai untuk mewujudkan diplomasi kedaulatan dan kebangsaan yang merupakan salah satu diplomasi dalam prioritas 4+1 atau prioritas politik luar negeri tahun 2020.

"Diplomasi tersebut memiliki fokus utama yaitu menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan kerjasama untuk menyebarkan identitas bangsa berupa toleransi, kemajemukan dan demokrasi serta kerjasama menangkal radikalisme terorisme," ucapnya.

Baca juga: Wapres Sebut Studi dan Relasi Lintas Agama dengan Paradigma Pancasila Penting Dilakukan

Dialog Lintas Agama ini telah menjadi fitur tetap diplomasi publik Indonesia sejak 2004. Dialog Lintas Agama ini dilakukan dengan beberapa tokoh agama di negara lain, akademisi dan para pemuda.

Sejak 2004 hingga 2019, terang dia, Indonesia telah memiliki 34 mitra dialog dalam kerangka bilateral. Sementara dalam kerangka regional, dialog lintas agama telah dilakukan dalam kerangka Asia Europe Meeting (ASEM).



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X