Terawan: Angka Stunting di Indonesia Lebih Tinggi dari Ambang Batas WHO

Kompas.com - 19/11/2020, 17:02 WIB
Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mengikuti rapat dengan Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (17/11/2020). Rapat itu membahas penanganan pandemi COVID-19 di Indonesia. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/aww. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho GumayMenteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mengikuti rapat dengan Komisi IX DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa (17/11/2020). Rapat itu membahas penanganan pandemi COVID-19 di Indonesia. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/aww.

JAKARTA, KOMPAS.com - Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto mengungkap, jumlah kasus stunting di Indonesia per tahun 2019 mencapai 27,67 persen.

Hal ini patut menjadi perhatian mengingat angka tersebut lebih tinggi dibandingkan toleransi maksimal stunting yang ditetapkan Organisasi Kesehatan Dunia atau World Health Organization ( WHO).

"Hasil survei status gizi balita Indonesia tahun 2019 menunjukkan prevalensi stunting sebesar 27,67 persen," kata Terawan dalam sebuah webinar, Kamis (19/11/2020).

"Meskipun demikian stunting perlu mendapat perhatian khusus mengingat masih menjadi masalah kesehatan masyarakat karena prevalensinya masih di atas ambang dari WHO. WHO menghendaki kurang dari 20 persen," imbuh dia.

Baca juga: Angka Stunting di Sumba Barat Daya Lebih Tinggi dari Nasional, Pemerintah Bangun Fasilitas MCK

 

Kendati demikian, kata Terawan, dalam lima tahun terakhir angka stunting di Indonesia telah mengalami perbaikan. Ditargetkan, pada tahun 2024 kasus stunting menurun hingga berada di angka 14 persen.

Bersamaan dengan itu, ditargetkan pula terjadi penurunan angka kematian ibu menjadi 183 per 100.000 ibu melahirkan.

" Stunting merupakan masalah multidimensional yang perlu diselesaikan secara multisektoral," ujar Terawan.

Terawan mengatakan, masalah yang dihadapi dalam upaya penurunan stunting adalah tingginya angka anemia pada ibu hamil mencapai 48,9 persen.

Hal ini, kata dia, berimbas pada perkembangan janin. Bila tidak segera diatasi, ibu hamil akan kekurangan energi kronis sehingga meningkatkan risiko bayi lahir dengan berat badan rendah dan lebih jauh berakibat pada stunting.

Baca juga: Mensos Minta Pendamping PKH Bantu Tekan Angka Kasus TBC dan Stunting

 

"Dan lebih jauh lagi balita stunting akan berisiko kelebihan berat badan dan terkena PTM atau penyakit tidak menular saat dewasa," kata Terawan.

Untuk mengatasi hal ini, perlu dilakukan perbaikan pola konsumsi masyarakat terhadap makanan bergizi.

Terawan menyebut, saat ini, konsumsi bahan pangan hewani sayur dan buah masih rendah, sebagian besar masyarakat Indonesia belum memenuhi konsumsi buah dan sayur yang direkomendasikan yakni sekitar 400 gram per hari.

Oleh karena itu, hal ini menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan secara bersama-sama.

"Pencapaian target penurunan angka kematian ibu dan stunting menjadi tanggung jawab kementerian dan lembaga terkait di seluruh level pemerintahan," kata dia.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Satgas: Keterisian RS Covid-19 di 5 Provinsi Pulau Jawa Lebih dari 70 Persen

Satgas: Keterisian RS Covid-19 di 5 Provinsi Pulau Jawa Lebih dari 70 Persen

Nasional
Serba-serbi Sistem ETLE yang Disinggung Komjen Listyo Sigit...

Serba-serbi Sistem ETLE yang Disinggung Komjen Listyo Sigit...

Nasional
Kapasitas RS Hampir Penuh, Masyarakat Diminta Kerja Sama Putus Penularan Covid-19

Kapasitas RS Hampir Penuh, Masyarakat Diminta Kerja Sama Putus Penularan Covid-19

Nasional
Menanti Realisasi Vaksinasi Mandiri dari Pemerintah

Menanti Realisasi Vaksinasi Mandiri dari Pemerintah

Nasional
Kasus Kematian Tertinggi Selama Pandemi hingga Peluang Vaksinasi Mandiri

Kasus Kematian Tertinggi Selama Pandemi hingga Peluang Vaksinasi Mandiri

Nasional
PPKM Jawa-Bali Jilid 2, Alasan Perpanjangan hingga Perbedaan dengan Periode Pertama

PPKM Jawa-Bali Jilid 2, Alasan Perpanjangan hingga Perbedaan dengan Periode Pertama

Nasional
Kerja Sama dengan BUMN, Risma Bantu Pemulung Dapatkan Pekerjaan

Kerja Sama dengan BUMN, Risma Bantu Pemulung Dapatkan Pekerjaan

Nasional
Edhy Prabowo Minta Keluarga Dibolehkan Menjenguk ke Rutan KPK

Edhy Prabowo Minta Keluarga Dibolehkan Menjenguk ke Rutan KPK

Nasional
MK: Paling Lama 24 Maret 2021 Seluruh Sengketa Pilkada Harus Sudah Diputus

MK: Paling Lama 24 Maret 2021 Seluruh Sengketa Pilkada Harus Sudah Diputus

Nasional
KNKT Lanjutkan Pencarian CVR meskipun Operasi SAR Sriwijaya Air Dihentikan

KNKT Lanjutkan Pencarian CVR meskipun Operasi SAR Sriwijaya Air Dihentikan

Nasional
Satgas: Hampir Separuh Zona Merah Covid-19 Berada di Jawa dan Bali

Satgas: Hampir Separuh Zona Merah Covid-19 Berada di Jawa dan Bali

Nasional
Kasus Asabri, Kejagung Periksa Eks Dirut sebagai Saksi

Kasus Asabri, Kejagung Periksa Eks Dirut sebagai Saksi

Nasional
PPKM Diperpanjang, Ini Aturan yang Berubah dan Tetap Berlaku

PPKM Diperpanjang, Ini Aturan yang Berubah dan Tetap Berlaku

Nasional
Kisah Nenek Minah dan Janji Listyo Sigit agar Hukum Tak Tajam ke Bawah

Kisah Nenek Minah dan Janji Listyo Sigit agar Hukum Tak Tajam ke Bawah

Nasional
Tim Khusus Polri Masih Pelajari Kesimpulan Komnas HAM soal Penembakan Laskar FPI

Tim Khusus Polri Masih Pelajari Kesimpulan Komnas HAM soal Penembakan Laskar FPI

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X