Hasanuddin Wahid
Sekjen PKB

Sekjen Partai Kebangkitan Bangsa (PKB). Anggota Komisi X DPR-RI.

Memajukan Budaya Toleransi

Kompas.com - 15/11/2020, 09:43 WIB
KH Abdurrahman Wahid, awal Agustus 1982.
Kompas/JB SuratnoKH Abdurrahman Wahid, awal Agustus 1982.

Cucu pendiri Nahdlatul Ulama Hasyim Asy'ari ini tidak hanya menganut paham demokrasi dan toleransi. Namun, ia mengamalkannya dalam kesehariannya.

 

Ketika menjadi Ketua Umum Pengurus Besar NU (PBNU), Gus Dur adalah orang pertama yang memerintahkan Gerakan Organisasi Pemuda Ansor (Banser) untuk mengawal setiap gereja di malam Natal.

Tak lama setelah dilantik sebagai presiden pada 1999, Gus Dur menghadiri Perayaan Natal di Jakarta dan berpidato tentang pentingnya persaudaraan antar umat beragama yang berbeda.

Di bawah kepemimpinan Gus Dur, Konghucu diakui sebagai agama dan Tahun Baru Imlek dinyatakan sebagai hari libur nasional.

Dia adalah presiden dan ulama pertama yang meminta maaf atas genosida antikomunis yang terjadi pada tahun 1965.

Dia juga mengembalikan nama Papua yang selama Orde Baru diberi nama Irian Jaya. Dia menghargai identitas budaya orang Papua sehingga tidak melarang pengibaran bendera Bintang Kejora sebagai sebuah simbol jatidiri dan identitas kebudayaan mereka.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Gus Dur memiliki semangat, visi, dan komitmen dalam memperjuangkan bertumbuhnya budaya toleransi, kebebasan berekpresi, persamaan hak, semangat keberagaman, dan demokrasi di Indonesia.

Menurut penulis, sebagai warga bangsa Indonesia semua kita patut bersyukur dan berbangga atas teladan yang diberikan oleh Gus Dur.

Lebih daripada itu, sebagai generasi penerus, kita terpanggil untuk terus melanjutkan atau mencontoh semangat, visi dan komitmen.

Bahkan, sebagai bagian dari masyarakat dunia dan selaras dengan karakter politik luar negeri kita yang bebas aktif, kita hendaknya menduniakan legacy Gus Dur. Tujuannya agar legacy Gus Dur dapat menginspirasi para pemimpin dunia, warga masyarakatnya, terutama para generasi muda.

Meredam intoleransi

Hingga kini, warga dunia belum benar-benar menikmati kehidupan yang nyaman dan damai. Tak sedikit warga dunia yang belum dapat menikmati hak-haknya asasinya.

Banyak pula yang hidup dalam ketakutan dan tak dapat menggunakan hak sosial dan ekonomis demi kehidupan yang berkualitas dan sejahtera.

Salah satu faktor penyebabnya utama adalah karena masih ada banyak orang yang bersikap intoleran dan diskriminatif.

Menurut penulis, untuk meredam semangat intoleransi dan diskrimniatif sekaligus membangun budaya toleransi kita perlu melakukan enam model pendekatan berikut.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Menag Sebut Kemenag Hadiah untuk NU, MUI: Kontraproduktif dengan Fakta Historis

Menag Sebut Kemenag Hadiah untuk NU, MUI: Kontraproduktif dengan Fakta Historis

Nasional
Kenang Sosok Sekjen Kemendagri yang Meninggal Dunia, Tjahjo: Almarhum Pekerja Keras

Kenang Sosok Sekjen Kemendagri yang Meninggal Dunia, Tjahjo: Almarhum Pekerja Keras

Nasional
[POPULER NASIONAL] Tanggapan Muhammadiyah soal Kemenag Hadiah untuk NU | Pujian Profesor Singapura untuk Jokowi Tidak Mengada-ada

[POPULER NASIONAL] Tanggapan Muhammadiyah soal Kemenag Hadiah untuk NU | Pujian Profesor Singapura untuk Jokowi Tidak Mengada-ada

Nasional
KPK Amankan Dokumen hingga Uang Saat Geledah 2 Lokasi di Palembang

KPK Amankan Dokumen hingga Uang Saat Geledah 2 Lokasi di Palembang

Nasional
Sidang Stepanus Robin, Jaksa KPK Akan Hadirkan Azis Syamsuddin dan Ajay M Priatna

Sidang Stepanus Robin, Jaksa KPK Akan Hadirkan Azis Syamsuddin dan Ajay M Priatna

Nasional
Kala PDI Perjuangan-Demokrat Saling Sindir Bandingkan Kinerja Jokowi dan SBY

Kala PDI Perjuangan-Demokrat Saling Sindir Bandingkan Kinerja Jokowi dan SBY

Nasional
Sekjen Kemendagri Muhammad Hudori Meninggal Dunia

Sekjen Kemendagri Muhammad Hudori Meninggal Dunia

Nasional
4.240.019 Kasus Covid-19 di Tanah Air dan Permintaan Maaf Kemenkes soal Insentif Dobel Nakes

4.240.019 Kasus Covid-19 di Tanah Air dan Permintaan Maaf Kemenkes soal Insentif Dobel Nakes

Nasional
Pemilih Pemula Antusias, Ganjar Ketiban Pulung...

Pemilih Pemula Antusias, Ganjar Ketiban Pulung...

Nasional
Dukung Pencapaian Program Prioritas, Kementerian KP Gelar Pelatihan Akbar Kelautan dan Perikanan

Dukung Pencapaian Program Prioritas, Kementerian KP Gelar Pelatihan Akbar Kelautan dan Perikanan

Nasional
Tak Setuju Kemenag Disebut Hadiah Negara untuk NU, Pimpinan MPR: Hasil Perjuangan Tokoh Islam Era Kemerdekaan

Tak Setuju Kemenag Disebut Hadiah Negara untuk NU, Pimpinan MPR: Hasil Perjuangan Tokoh Islam Era Kemerdekaan

Nasional
Sebaran 14.360 Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia pada 24 Oktober 2021

Sebaran 14.360 Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia pada 24 Oktober 2021

Nasional
UPDATE: Cakupan Vaksinasi Covid-19 Dosis Kedua Capai 32,61 Persen

UPDATE: Cakupan Vaksinasi Covid-19 Dosis Kedua Capai 32,61 Persen

Nasional
UPDATE 24 Oktober: Sebaran 623 Kasus Baru Covid-19, Tertinggi di DKI

UPDATE 24 Oktober: Sebaran 623 Kasus Baru Covid-19, Tertinggi di DKI

Nasional
UPDATE 24 Oktober: 14.360 Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia

UPDATE 24 Oktober: 14.360 Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.