Peringati Hari Santri, Menteri Agama Apresiasi Konsep Resolusi Jihad

Kompas.com - 22/10/2020, 11:03 WIB
Mentri Agama RI, Fachrul Razi semoat melepas masker sebelum wawancara dengan wartawan, namun segera mengenakannya lagi saat wawancara dor stop berlangsung di Gedung Rektorat Universitas Islan Negeri (UIN) Mataram, Kamis (17/9/2020) Idham KhalidMentri Agama RI, Fachrul Razi semoat melepas masker sebelum wawancara dengan wartawan, namun segera mengenakannya lagi saat wawancara dor stop berlangsung di Gedung Rektorat Universitas Islan Negeri (UIN) Mataram, Kamis (17/9/2020)
Penulis Dani Prabowo
|

JAKARTA, KOMPAS.comMenteri Agama Fachrul Razi mengatakan, konsep resolusi jihad yang menjadi dasar ditetapkannya Hari Santri Nasional di Indonesia merupakan sebuah bentuk keteladanan yang patut untuk diapresiasi.

Dalam konsep tersebut, santri tak hanya menjadi teladan dari sikap warga bangsa yang teguh dalam menjalankan agama, tetapi juga menjadi yang terdepan dalam membela negara.

“Santri dan para pengasuhnya bukan badan perjuangan yang dibentuk untuk tugas bertempur sebagai alat pertahanan negara. Namun, ketika santri kemudian bertekad dan terpanggil untuk mengadu jiwa mengusir penjajah dari bumi Indonesia, itu nilai tertinggi yang sangat pantas diberi penghargaan dan diapresiasi,” ucap Fachrul dalam keterangan tertulis seperti dilansir dari laman Kemenag, Kamis (22/10/2020).

Baca juga: Hari Santri 2020, Berikut Sejarah Penetapannya hingga Siapa yang Disebut Santri

Hari Santri Nasional diperingati setiap tanggal 22 Oktober. Peringatan yang dimulai sejak tahun 2015 ini berdasarkan terbitnya Keputusan Presiden Nomor 22 Tahun 2015 tentang Hari Santri.

Adapun resolusi jihad yang menjadi dasar penetapan Hari Santri Nasional pertama kali dicetuskan dan dibacakan oleh pendiri Nahdlatul Ulama KH Hasyim Asyari pada 22 Oktober 1945. Resolusi ini pun didukung oleh tokoh-tokoh dari berbagai organisasi islam lainnya, seperti Muhammadiyah, Persis, Al Irsyad, Matlaul Anwar dan elemen bangsa lainnya.

Resolusi itu kemudian mendorong lahirnya perlawanan masyarakat Surabaya terhadap penjajahan Belanda pada 10 November 1945, yang kemudian diperingati sebagai Hari Pahlawan.

“Santri menunjukkan bahwa setiap orang harus rela mengorbankan apapun yang dipunyainya demi menjaga tegak dan utuhnya negara dan bangsa tercinta,” kata Fachrul.

Baca juga: Menteri Agama Tak Diundang, Wamenag Hadir di Puncak Hari Santri di Jatim

Di dalam resolusi jihad, ia menambahkan, disebutkan bahwa ummat Islam yang berada di dalam radius 94 kilometer dari kedudukan musuh, hukumnya fardu’ ain atau wajib untuk seluruh umat Islam, untuk ikut bertempur.

Sedangkan, mereka yang berada di luar radius tersebut, hukumnya fardu kifayah atau wajib tetapi dapat diwakilkan.

“Angka 94 kilometer diperoleh dari perhitungan jarak tempuh manusia saat itu yang masih memungkinkan mereka untuk menjamak shalat dzuhur dan ashar. Perhitungan cermat itu, di dalam ilmu militer termasuk bagian dari backward planning,” ucap mantan Wakil Panglima TNI itu.

Melalui sikap tersebut, ia mengatakan, para santri ingin menunjukkan keteguhan mereka dalam perjuangan tanpa mengabaikan kewajiban dan nilai-nilai ajaran agama. Seluruh niat baik yang dilakukan dengan cara yang baik dan konstruktif sesuai ajaran agama Islam, dapat menjadi rambu-rambu utama yang bisa dipegang teguh.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X