Muhadjir: Kami Akan 'Keroyok' NTT untuk Mengentaskan Stunting

Kompas.com - 16/10/2020, 10:42 WIB
Menko PMK Muhadjir Effendy saat mengikuti upacara peringatan HUT ke-75 RI secara virtual dengan mengenakan pakaian adat Pulau Rote, NTT, Senin (17/8/2020). Humas Kemenko PMKMenko PMK Muhadjir Effendy saat mengikuti upacara peringatan HUT ke-75 RI secara virtual dengan mengenakan pakaian adat Pulau Rote, NTT, Senin (17/8/2020).

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemerintah berupaya mempercepat penanganan stunting di Kabupaten Sumba Barat Daya, Nusa Tenggara Timur ( NTT).

Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Muhadjir Effendy mengatakan, percepatan penanganan stunting di wilayah itu cukup mendesak dilakukan mengingat situasinya yang sedemikian memprihatinkan.

Kasus stunting di wilayah itu disebabkan berbagai faktor yang salin berkait, yakni minimnya sarana dan prasarana sanitasi, kurangnya sumber air bersih dan kesadaran masyarakat.

"Sanitasi, imunisasi dan pemenuhan sumber air adalah masalah utama mengapa stunting mengakar di Sumba Barat Daya," kata Muhadjir dalam Koordinasi Tingkat Menteri Percepatan Perbaikan Status Gizi di Kabupaten Sumba Barat Daya, Kamis (15/10/2020), dikutip dari siaran pers.

Baca juga: Cegah Stunting, Ini yang Dilakukan Baznas

Oleh karena itu, perlu ada koordinasi dan sinergi antarkementerian dan lembaga dalam pelaksanaan program pengentasan stunting. Termasuk dalam hal efisiensi anggaran.

Program itu dapat menjadi salah satu upaya mempercepat penanganan stunting di daerah Sumba Barat Daya.

Menurut Muhadjir, perhatian pemerintah pusat yang besar untuk mengentaskan stunting di NTT adalah untuk meningkatkan kesejahteraannya masyarakat di sana.

"Betapa besar perhatian pemerintah pusat untuk memperhatikan NTT. Kami akan 'keroyok' nanti NTT, khususnya Sumba Barat Daya, untuk mengentaskan stunting dan meningkatkan kesejahteraannya," kata dia.

Dalam kesempatan itu, Muhadjir juga menyampaikan bahwa masalah stunting erat kaitannya dengan masalah di ranah keluarga.

Oleh karena itu, edukasi dan sosialisasi kepada keluarga terkait gizi anak juga penting dilakukan.

Baca juga: Cegah Stunting, Protein Hewani Harus Ada dalam MPASI

Peranan Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pun, kata dia, sangat penting untuk melaksanakannya.

"Dalam sosialisasi dan edukasi ini juga diperlukan keterlibatan tokoh masyarakat agar sosialisasi bisa dilakukan dengan maksimal," ujar Muhadjir.

Adapun, Kabupaten Sumba Barat Daya termasuk satu dari 100 kabupaten prioritas penanganan stunting.

Di wilayah tersebut masih banyak bayi dan balita yang mengalami kurang gizi hingga stunting.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X