Kompas.com - 15/10/2020, 12:48 WIB
Wali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto saat meninjau lokasi pusat isolasi Covid-19 di kawasan Badan Narkotika Nasional (BNN) Lido, Senin (7/9/2020). KOMPAS.COM/RAMDHAN TRIYADI BEMPAHWali Kota Bogor Bima Arya Sugiarto saat meninjau lokasi pusat isolasi Covid-19 di kawasan Badan Narkotika Nasional (BNN) Lido, Senin (7/9/2020).

JAKARTA, KOMPAS.com - Wali Kota Bogor Bima Arya mengusulkan pemerintah pusat dan daerah mengombinasikan antara dokter atau tenaga medis dengan tokoh agama dalam mengedukasi soal Covid-19 ke masyarakat.

Sebab, berdasarkan survei yang dilakukannya dengan menggandeng Lapor Covid-19, warga Kota Bogor lebih banyak percaya informasi Covid-19 dari dokter atau tenaga medis dan tokoh agama dibandingkan lainnya.

"Di sini menunjukkan, pemerintah kota dan pemerintah pusat penting sekali untuk merangkul, mengombinasikan antara tenaga medis atau dokter dengan tokoh agama (dalam menyampaikan informasi soal Covid-19)," ujar Bima saat menghadiri acara kampanye nasional dan hari cuci tangan pakai sabun sedunia, secara daring, Kamis (14/10/2020).

Baca juga: 136 Dokter Meninggal akibat Covid-19, IDI: Ini Situasi Krisis dalam Pelayanan Kesehatan

Selain dokter dan tokoh agama, masih berdasarkan survei yang sama, warga Kota Bogor lebih mempercayai penyampaian informasi Covid-19 dari pejabat dan publik figur.

Oleh karena itu, dalam rangka menggencarkan edukasi kepada masyarakat, Pemerintah Kota Bogor juga telah membentuk Tim Merpati.

Tim tersebut fokus melakukan fungsi edukasi kepada masyarakat karena berdasarkan survei, warga masih membutuhkan edukasi tersebut.

Edukasi penting karena dari survei juga didapatkan, sebanyak 16 persen warga mempercayai teori konspirasi bahwa Covid-19 buatan manusia.

Kemudian, 29 persen mengaku tak percaya konspirasi dan 50 persen berada di tengah-tengah antara iya dan tidak.

Baca juga: Doni Monardo: Banyak Dokter Meninggal Tertular OTG Covid-19

"Data ini menunjukkan bahwa edukasi kita harus lebih maksimal," kata dia.

Bima mengatakan, sebagian besar masyarakat juga menerima informasi soal Covid-19 dari media televisi dan bukan dari kanal atu corong pemerintah.

Dengan demikian, kata dia, kolaborasi dengan seluruh kanal media baik mainstream maupun non-mainstream pun perlu dilakukan untuk menggencarkan protokol kesehatan.

"Sangat baik jika setiap daerah melakukan pemetaan yang sama," ucap dia.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X