Bima Arya Sebut Klaster Keluarga di Bogor Tempati Peringkat Utama Wabah Covid-19

Kompas.com - 15/10/2020, 11:47 WIB
Walikota Bogor,  Bima Arya Sugiarto meninjau uji cepat (rapid test) massal Covid-19 yang digelar Dinas Kesehatan Kota Bogor di Pasar Bogor, Kota Bogor, Rabu (29/4/2020). Rapid test untuk mencegah penyebaran wabah Covid-19. KOMPAS.COM/KRISTIANTO PURNOMOWalikota Bogor, Bima Arya Sugiarto meninjau uji cepat (rapid test) massal Covid-19 yang digelar Dinas Kesehatan Kota Bogor di Pasar Bogor, Kota Bogor, Rabu (29/4/2020). Rapid test untuk mencegah penyebaran wabah Covid-19.

JAKARTA, KOMPAS.com - Walikota Bogor Bima Arya mengatakan, klaster keluarga di Kota Bogor menempati peringkat utama dalam wabah Covid-19 di wilayah tersebut.

Hal tersebut disampaikan Bima saat menghadiri acara kampanye nasional dan hari cuci tangan pakai sabun sedunia, secara daring, Kamis (14/10/2020).

"Berdasarkan data, klaster keluarga di Kota Bogor menempati peringkat utama sampai saat ini ada 277 keluarga dengan kasus positif (Covid-19) 170," ujar Bima.

Baca juga: Kementerian PPPA Susun Protokol Kesehatan, Cegah Covid-19 Klaster Keluarga

Ia mengatakan, sebagian besar kasus Covid-19 pada klaster keluarga terjadi karena adanya anggota keluarga yang keluar rumah, baik keluar kota maupun bekerja.

Kota Bogor sendiri saat ini masih berstatus zona oranye Covid-19 atau risiko sedang penyebaran Covid-19.

Bima Arya sebelumnya mengatakan, Kota Bogor menyesuaikan penerapan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) transisi DKI Jakarta.

Salah satunya memperbolehkan tempat usaha seperti rumah makan dan restoran beroperasi dan melayani dine in hingga pukul 21.00 WIB.

"Rumah makan dan restoran, silakan, bisa melakukan kegiatan musik dan lain-lain, batas waktu pukul 21.00 WIB dengan protokol kesehatan," kata dia.

Baca juga: Kasus Covid-19 di Depok Mulai Didominasi Klaster Keluarga

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) pernah menyebutkan, kasus Covid-19 yang ada di Kota Bogor didominasi oleh klaster keluarga.

Mengutip laman resmi Kemenkes, Kamis (8/10/2020), klaster rumah tangga menjadi faktor risiko dan menunjukkan kenaikan kasus paling tinggi.

Data hingga 4 Oktober 2020, jumlah kasus klaster keluarga mencapai 625 kasus atau sekitar 46 persen.

Sementara, di luar kota Bogor sebanyak 363 kasus (26,7 persen) dan non klaster 179 (13,2 persen).

Baca juga: Enam Persen Pasien di Wisma Atlet Kemayoran Adalah Klaster Keluarga

Peningkatan ini teramati pula dengan banyaknya kasus positif pada anak dan lansia yang sebenarnya mereka cenderung berada di dalam rumah.

“Berdiam diri di rumah tidak memberikan kepastian tidak terkena Covid-19, sepanjang salah satu anggota masih keluar rumah atau menerima tamu dan tidak menerapkan protokol kesehatan. Maka, masih ada kemungkinan terkena (Covid-19) dan menyebar di keluarga,” kata Staf Khusus Menteri Bidang Hukum Kesehatan, Kuwat Sri Hudoyo.

Ia menyebutkan, klaster keluarga dikhawatirkan menjadi semakin besar.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X