Kompas.com - 10/09/2020, 07:05 WIB
Penulis Dani Prabowo
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Prada MI ditetapkan sebagai tersangka dalam kasus dugaan penyerangan Mapolsek Ciracas, Jakarta Timur pada 29 Agustus lalu.

Dari hasil pemeriksaan yang dilakukan Puspom Angkatan Darat, ada dua motif yang melandasi penyerangan, yang berawal dari informasi bohong yang disebarkan Prada MI kepada rekan-rekannya.

Sementara itu, pendiri Kompas Gramedia Jakob Oetama, meninggal dunia pada Rabu (9/9/2020).

Jakob tutup usia setelah sempat mendapatkan perawatan di Rumah Sakit Mitra Keluarga Kelapa Gading, Jakarta Utara.

Berikut berita terpopuler di Kompas.com, kemarin, selengkanya:

1. Motif Prada MI sebar informasi bohong

Dijelaskan oleh Komandan Puspomad Letjen TNI Dodik Widjonarko, motif pertama yaitu karena ada perasaan takut dari Prada MI terhadap kesatuan apabila sebelum kecelakaan tunggal yang dialaminya, dia menenggak minum-minuman keras terlebih dulu.

Motif pertama dikuatkan oleh keterangan dari Serka ZBH dan Prada AM, rekan Prada MI yang turut minum-minuman keras sebelum kecelakaan.

"Tersangka Prada MI diketahui hanya minum sebanyak dua gelas," terangnya.

Sedangkan, motif selanjutnya yaitu Prada MI merasa malu bila atasannya mengetahui dirinya kecelakaan tunggal karena minuman keras.

Personel satuan Direktorat Hukum TNI AD itu juga merasa takut dianggap bersalah terkait kecelakaan tunggal yang dialaminya. Apalagi, sepeda motor yang ditungganginya bernomor polisi B 3580 TZH merupakan sepeda motor milik pimpinannya.

Selengkapnya di sini


2. Pendiri Kompas Gramedia tutup usia

Jakob meninggal dunia dalam usia 88 tahun.

Sebagai penerima Bintang Mahaputra Utama, Jakob akan dikebumikan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta, Kamis (10/9/2020).

Pemimpin Umum harian Kompas ini sebelum menjadi wartawan mengawali karier sebagai guru SMP Mardiyuwana di Cipanas, Jawa Barat, pada 1952. Selanjutnya, Jakob pindah menjadi guru SMP Van Lith, Jakarta pada 1955.

Pada 1963, Jakob mendirikan majalah Intisari bersama PK Ojong setelah sebelumnya menjadi redaktur mingguan Penabur. Dua tahun setelah mendirikan Intisari, Jakob dan Ojong mendirikan harian Kompas.

Berbagai penghargaan pernah diterima Jakob semasa hidupnya, antara lain Doktor (HC) dari Universitas Gajah Mada serta Doktor (HC) bidang jurnalistik dari Universitas Sebelas Maret.

Selain itu, Jakob juga pernah menerima penghargaan dari UNESCO di bidang komunikasi (2015), lifetime achievement untuk kategori kepemimpinan bisnis dari Tahir Foundation (2015), dan lifetime achievement award dari paguyuban alumni publisistik dan ilmu komunikasi UGM (2017).

Selengkapnya di sini

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
27th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Verifikasi akun KG Media ID
Verifikasi akun KG Media ID

Periksa kembali dan lengkapi data dirimu.

Data dirimu akan digunakan untuk verifikasi akun ketika kamu membutuhkan bantuan atau ketika ditemukan aktivitas tidak biasa pada akunmu.

Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.