Hindari Resesi, Istana Dorong Aktivitas Ekonomi Masyarakat dengan Protokol Kesehatan

Kompas.com - 10/08/2020, 09:18 WIB
Sejumlah pekerja menggunakan masker berjalan kaki setelah meninggalkan perkantorannya di Jakarta, Rabu (29/7/2020). Klaster perkantoran penularan Covid-19 di Jakarta kini menjadi sorotan. Data resmi hingga Selasa (28/7/2020) kemarin, ada 440 karyawan di 68 perkantoran di Ibu Kota yang terinfeksi virus corona. KOMPAS.com/GARRY LOTULUNGSejumlah pekerja menggunakan masker berjalan kaki setelah meninggalkan perkantorannya di Jakarta, Rabu (29/7/2020). Klaster perkantoran penularan Covid-19 di Jakarta kini menjadi sorotan. Data resmi hingga Selasa (28/7/2020) kemarin, ada 440 karyawan di 68 perkantoran di Ibu Kota yang terinfeksi virus corona.
Penulis Ihsanuddin
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Staf Khusus Presiden bidang Ekonomi Arif Budimanta mendorong masyarakat untuk bisa melakukan aktivitas yang menunjang perekonomian dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan pencegahan Covid-19.

Arif menegaskan, aktivitas masyarakat ini penting untuk mendorong pertumbuhan ekonomi agar Indonesia tak masuk ke jurang resesi.

"Yang dibutuhkan adalah kerja sama seluruh komponen bangsa untuk menjalankan dan mensosialisasikan protokol adaptasi kebiasaan baru dan beraktivitas sesuai protokol tersebut," kata Arif kepada Kompas.com, Senin (10/8/2020).

Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi Minus 5,32 Persen, Istana: Belum Bisa Disebut Resesi

 

Arif mengatakan, pertumbuhan ekonomi Indonesia yang minus 5,32 persen pada kuartal II 2020 merupakan konsekuensi wabah covid-19 yang mengharuskan pembatasan sosial berskala besar (PSBB).

Kendati demikian, memasuki kuartal III ini pemerintah mulai melonggarkan pembatasan aktivitas ekonomi di berbagai sektor. Oleh karena itu, politisi PDI-P ini optimistis ekonomi di kuartal III nanti bisa kembali tumbuh positif, asalkan masyarakat beraktivitas dengan protokol kesehatan yang ketat.

"Di kuartal III kita punya peluang kembali ke level positif setelah bergeraknya lagi aktivitas perekonomian dengan protokol adaptasi kebiasaan baru," ucap Arif.

"Indonesia masih bisa menghindari resesi jika pertumbuhan ekonomi kita pada kuartal III ini secara tahunan dapat mencapai nilai positif," sambungnya.

Baca juga: Jokowi Ingin Kalangan Menengah Atas Merasa Aman Beraktivitas di Luar Rumah

Arif menyebut beberapa data untuk bulan Juli yang mulai menunjukkan adanya perbaikan-perbaikan. Misalnya, kinerja industri manufaktur yang meningkat dari 39,1 pada bulan Juni menjadi 46,9 pada bulan Juli.

Demikian juga pertumbuhan kredit perbankan mulai ada tanda perbaikan pada bulan Juli lalu.

"Oleh karena itu, jika momentum perbaikan ini bisa kita jaga dan tingkatkan, maka kuartal III ini ekonomi kita bisa segera pulih," kata dia.

Melihat kontraksi yang terjadi di beberapa negara mitra dagang utama, maka Arif menekankan potensi ekonomi dalam negeri yang harus dijaga untuk dapat menopang perekonomian.

"Konsumsi masyarakat, Belanja Pemerintah maupun investasi domestik harus didorong untuk dapat tumbuh," ujarnya.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X