Pasca-27 Juli 1996: Fenomena Mega Bintang dan Megawati yang Memilih Golput...

Kompas.com - 29/07/2020, 06:06 WIB
Ilustrasi ShutterstockIlustrasi
|
Editor Bayu Galih

Jargon Mega Bintang, dimaknai sebagai isyarat agar pendukung Megawati mengalihkan dukungan untuk PPP yang berlambang bintang.

Selain itu, juga dimaknai sebagai upaya melekatkan Megawati dengan Sri Bintang Pamungkas, politikus PPP yang ditahan pemerintah Soeharto atas tuduhan subversif setelah mencalonkan diri sebagai presiden.

Harian Kompas pada 13 Juli 1997 mencatat, "Mega Bintang" hadir lewat berbagai atribut kampanye, seperti spanduk, poster, boneka, hingga coreng moreng di tubuh.

Baca juga: Peringati Peristiwa Kudatuli, PDI-P: Megawati Telah Ajarkan Politik Rekonsiliasi

Selain kombinasi warna merah (warna PDI) dan hijau (warna PPP), gambar Megawati atau Buya Ismail maupun kombinasi keduanya banyak dijadikan atribut kampanye.

Megawati memilih Golput

Meski fenomena Mega Bintang mengemuka, Megawati Soekarnoputri secara terbuka tidak memberikan dukungan kepada PPP.

Bahkan, Megawati selaku pribadi memutuskan untuk tidak menggunakan hak politiknya dalam pemungutan suara yang digelar 29 Mei 1997.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Namun, Megawati membebaskan pendukungnya untuk menentukan sikap pada hari pencoblosan.

Ia menyampaikan pernyataan tersebut pada 22 Mei 1997, di hadapan sekitar seribu pendukungnya yang memenuhi halaman kediamannya.

"Saya menyadari bahwa pemberian suara adalah merupakan hak dari seseorang yang bersifat sangat hakiki dan asasi karena itu penggunaannya harus sesuai dengan hati nurani masing-masing warga negara," kata Megawati, dilansir dari Harian Kompas, 23 Mei 1997.

"Saya selaku Ketua Umum DPP PDI yang sah dan konstitusional berpendapat, bahwa apa yang disebut "PDI hasil Kongres Medan" adalah tidak sah dan tidak konstitusional karena itu untuk memilihnya pada tanggal 29 Mei 1997 juga tidak sah dan tidak konstitusional," ujarnya.

Baca juga: Peristiwa Kudatuli 27 Juli 1996, Saat Megawati Melawan tetapi Berakhir Diam...

Sikap politik seseorang yang memilih untuk tidak memillih sudah pernah disuarakan sebelumnya oleh sejumlah aktivis demokrasi, bahkan sejak 25 tahun sebelumnya.

Saat itu sejumlah aktivis seperti Arief Budiman menolak memberikan suara untuk partai politik tertentu pada Pemilu 1971, karena unsur ketidakpercayaan.

Harian Kompas menyebut mereka sebagai "kelompok bebas" yang memang dimotori oleh sejumlah anak muda.

"Orang-orang muda ini marah dan tidak puas namun mereka insaf bahwa Pemilu '71 akan berlangsung tanpa mereka mampu mencegahnya. Menyadari realitas ini dan keterbatasan kemampuannya, orang muda ini memutuskan untuk tidak ikut memilih," demikian tulisan di Harian Kompas edisi 29 April 1971.

Sebagai pernyataan sikap, para "kelompok bebas" ini memutuskan untuk tetap ke bilik suara, namun mereka mencoblos lambang putih di luar kotak berisi partai politik.

Sejak saat itu, sikap politik memilih untuk tidak memilih dikenal dengan sebutan "Golongan Putih" alias Golput.

Baca juga: Saat Orde Baru Tuding PRD Dalang Kudatuli 27 Juli 1996

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Satgas: Bukan Tak Mungkin Kasus Covid-19 Kembali Meningkat di Kemudian Hari

Satgas: Bukan Tak Mungkin Kasus Covid-19 Kembali Meningkat di Kemudian Hari

Nasional
Ketua DPR Minta Pemerintah Percepat Vaksinasi Covid-19

Ketua DPR Minta Pemerintah Percepat Vaksinasi Covid-19

Nasional
Jumhur Hidayat Dituntut 3 Tahun Penjara, Kuasa Hukum Keberatan JPU Tak Sertakan Keterangan Saksi

Jumhur Hidayat Dituntut 3 Tahun Penjara, Kuasa Hukum Keberatan JPU Tak Sertakan Keterangan Saksi

Nasional
Kasus Dugaan Penyebaran Hoaks, Jumhur Hidayat Dituntut 3 Tahun Penjara

Kasus Dugaan Penyebaran Hoaks, Jumhur Hidayat Dituntut 3 Tahun Penjara

Nasional
Kubu Moeldoko Uji Materi AD/ART, Demokrat: Cari Pembenaran 'Begal Politik'

Kubu Moeldoko Uji Materi AD/ART, Demokrat: Cari Pembenaran "Begal Politik"

Nasional
KSAU Pimpin Sertijab Danseskoau hingga Pangkoopsau III

KSAU Pimpin Sertijab Danseskoau hingga Pangkoopsau III

Nasional
Yusril Jadi Kuasa Hukum Kubu Moeldoko Ajukan Uji Materi AD/ART Demokrat ke MA

Yusril Jadi Kuasa Hukum Kubu Moeldoko Ajukan Uji Materi AD/ART Demokrat ke MA

Nasional
Panglima TNI, Kapolri, dan Ketua DPR Hadiri Bakti Sosial Alumni Akabri 1996 di Tangerang

Panglima TNI, Kapolri, dan Ketua DPR Hadiri Bakti Sosial Alumni Akabri 1996 di Tangerang

Nasional
Satgas: Jika Ada Kasus Positif Covid-19, Segera Tutup Sekolah

Satgas: Jika Ada Kasus Positif Covid-19, Segera Tutup Sekolah

Nasional
Forum Pemred Sahkan Kepengurusan Baru, Arfin Asydhad Ketua

Forum Pemred Sahkan Kepengurusan Baru, Arfin Asydhad Ketua

Nasional
Prof Sahetapy dan Kisah-kisah Anggota Dewan yang Terhormat

Prof Sahetapy dan Kisah-kisah Anggota Dewan yang Terhormat

Nasional
Cegah Insiden Serupa Penganiayaan Muhammad Kece Terulang, Polri Perketat Pengamanan Rutan

Cegah Insiden Serupa Penganiayaan Muhammad Kece Terulang, Polri Perketat Pengamanan Rutan

Nasional
Mengacu BPOM, Penggunaan Vaksin Pfizer Belum Diperbolehkan untuk Anak di Bawah 12 Tahun

Mengacu BPOM, Penggunaan Vaksin Pfizer Belum Diperbolehkan untuk Anak di Bawah 12 Tahun

Nasional
PBB, Berkarya, dan Perindo Ajukan Uji Materi Pasal tentang Verifikasi Parpol UU Pemilu ke MK

PBB, Berkarya, dan Perindo Ajukan Uji Materi Pasal tentang Verifikasi Parpol UU Pemilu ke MK

Nasional
Laporan Luhut terhadap Fatia dan Haris Azhar Dinilai Berkebalikan dengan Pernyataan Jokowi

Laporan Luhut terhadap Fatia dan Haris Azhar Dinilai Berkebalikan dengan Pernyataan Jokowi

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.