Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Rozza Tri Kwatrina
Peneliti

Peneliti di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan | Menekuni penelitian di bidang konservasi keanekaragaman hayati

Sawit Indonesia dan Isu Konservasi di Tengah Kontroversi

Kompas.com - 29/06/2020, 08:23 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

Oleh Rozza Tri Kwatrina*

Saat ini rasanya tidak ada komoditas pertanian Indonesia yang lebih populer melebihi sawit. Tingginya produksi dan ekspor komoditas sawit, berhasil menempatkan Indonesia sebagai negara pengekspor sawit terbesar di dunia.

Hal ini tentu tidak mengherankan, karena dalam kurun waktu 20 tahun terakhir, luas kebun sawit Indonesia telah berkembang pesat dari 2.9 juta Ha pada tahun 1997 hingga 16,3 juta Ha pada 2020.

Status ini bukannya tanpa rintangan. Angin kontroversi yang menyertai popularitas itu berhembus sangat kencang.

Selama bertahun-tahun, Indonesia disebut sebagai negara perusak hutan tropis primer dan memusnahkan banyak keanekaragaman hayati akibat pembukaan kebun sawit.

Baca juga: Indonesia Sustainable Palm Oil dan Legalitas Sawit Rakyat

Tudingan ini sudah pasti menyulitkan posisi Indonesia. Bagaimana tidak, Indonesia sampai saat ini masih saja berjuang melawan kebijakan Renewable Energy Directive II yang diberlakukan di negara-negara Eropa.

Mereka menganggap sawit sebagai komoditas high risk (bahan yang tidak berkelanjutan), sehingga tidak dapat digunakan sebagai bahan baku biofuel. Penggunaan minyak sawit akan dikurangi secara bertahap hingga habis sama sekali pada tahun 2030.

Sebagai tujuan utama pasar sawit Indonesia, dikeluarkannya minyak sawit dari daftar minyak nabati yang dapat diperdagangkan di Eropa, jelas sangat merugikan.

Kebun sawit, hutan primer, dan keanekaragaman hayati

Kebun sawit selama ini lebih banyak dikenal sebagai perkebunan monokultur yang tidak ramah terhadap keanekaragaman hayati. Citranya sebagai kebun monokultur seringkali membuat kebun sawit dinilai tidak dapat menampung biota lain, termasuk satwa liar.

Sebagian hasil-hasil penelitian menunjukkan indikasi seperti itu. Namun ini tidak dapat disamaratakan untuk semua spesies, karena setiap spesies memiliki karakter bioekologinya masing-masing.

Jika kita mau menilik lebih dalam, saat ini penelitian yang mengungkap asal usul lahan dan dampak kebun sawit terhadap satwa liar di Indonesia sudah cukup banyak dilakukan.

Contohnya beberapa hasil penelitian sepanjang tahun 2017 hingga 2020 yang diterbitkan di beberapa publikasi ilmiah.

Di tahun 2020 ini, Santosa dan tim dalam bukunya yang berjudul Sawit dan Deforestasi Hutan Tropika Indonesia serta International Journal of Oil Palm menyebutkan, lebih kurang 98 persen dari 23 perkebunan skala besar di enam provinsi di Indonesia bukan berasal dari kawasan hutan.

Selain itu, hampir 67 persen kebun sawit tersebut juga bukan berasal dari hutan primer melainkan dari lahan semak belukar, ladang, dan bekas kebun karet.

Kebun sawit juga tidak bisa diklaim memusnahkan semua keanekaragaman hayati. Walaupun dapat menimbulkan dampak secara ekologis, namun dampaknya tidak seragam pada semua satwa liar.

Pada sebagian spesies dampaknya bisa negatif, yaitu mengurangi jumlah spesies di suatu wilayah atau dikenal sebagai biodiversity loss. Namun, pada sebagian lainnya justru positif yang ditandai dengan penambahan jenis spesies (biodiversity gain).

Baca juga: Referendum Tolak Kelapa Sawit Indonesia Masuk Mahkamah Konstitusi Swiss

Apa artinya? Dampak kebun sawit terhadap keanekaragaman hayati tidaklah seragam, tapi tergantung pada kelompok taksa satwanya.

Ini terungkap dari beberapa publikasi yang kami tulis, di antaranya dalam Biodiversitas/Journal of Biological Diversity dan JMHT/Journal of Tropical Forest Management tahun 2018.

Mengapa ini bisa terjadi? Sederhananya, ini ibarat sebuah mal dengan banyak pilihan outlet, dan setiap outlet punya segmennya masing-masing. Lansekap perkebunan sawit juga begitu.

Heterogenitas habitat dalam satu hamparan ternyata punya fungsi uniknya masing-masing, namun saling melengkapi sebagai sebuah ekosistem. Walaupun penelitian-penelitian tersebut masih terus berkembang, namun hasilnya cukup memberikan jawaban awal atas kontroversi yang berkembang selama ini.

Jadi, apa yang perlu dilakukan selanjutnya?

Langkah Indonesia untuk mempertahankan komoditas sawit untuk mendukung program bioenergi B30, B100, bahkan greenfuel, perlu didukung.

Apalagi, di tengah kompetisi global, upaya ini menunjukkan kuatnya keinginan Indonesia untuk mandiri di bidang energi. Selain juga mampu membuka kesempatan ekonomi bagi jutaan tenaga kerja.

Jangan lupa, kemandirian energi atau bioenergi, penciptaan lapangan kerja, serta pengelolaan lingkungan hidup adalah bagian dari tujuan pembangunan yang berkelanjutan (Sustainable Development Goals).

Pada saat yang sama, upaya konservasi di perkebunan sawit juga harus terus dioptimalkan. Dan upaya ini sebenarnya telah ditunjukkan melalui berbagai kebijakan.

Salah satunya, pemerintah mengeluarkan Instruksi Presiden tentang Rencana Aksi Nasional Kebun Sawit Berkelanjutan pada akhir 2019 yang lalu. Salah satunya pointnya adalah meningkatkan upaya konservasi keanekaragaman hayati dan lanskap perkebunan kelapa sawit.

Namun upaya tersebut tidak cukup sampai di situ. Daya ungkit dalam inovasi konservasi keanekaragaman hayati di kebun sawit masih sangat diperlukan.

Tantangan-tantangan seperti bagaimana mendesain kebun sawit yang ramah lingkungan, bagaimana mengelola lansekap perkebunan sebagai bagian habitat bagi tumbuhan, satwa, dan biota penting lainnya, perlu dicarikan solusi terbaiknya.

Baca juga: Beasiswa Sawit Indonesia, Kuliah Gratis dan Magang di Perkebunan Besar

Dan yang tidak kalah penting, diskursus dan konsep perkebunan sawit sebagai lansekap mosaik yang ”ternyata” juga kaya keanekaragaman hayati, sudah saatnya kita diskusikan dan desain dengan matang.

Mengapa? Karena kepentingan kita terhadap sawit tidak saja semata kepentingan ekonomi, tapi juga tanggung jawab moral terhadap kelestarian lingkungan. Sebagai negara megabiodiversity, Indonesia berkomitmen menjaga kelestarian alamnya.

Jika komitmen ini didukung oleh banyak pihak, maka konservasi keanekaragaman hayati sejatinya tidak saja menyelamatkan trilyunan rupiah devisa negara dari perdagangan sawit, namun juga menyelamatkan kekayaan hayati Indonesia untuk generasi berikutnya. (Rozza Tri Kwatrina | Peneliti di Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan | Menekuni Penelitian di bidang Konservasi Keanekaragaman Hayati)

 

Simak breaking news dan berita pilihan kami langsung di ponselmu. Pilih saluran andalanmu akses berita Kompas.com WhatsApp Channel : https://www.whatsapp.com/channel/0029VaFPbedBPzjZrk13HO3D. Pastikan kamu sudah install aplikasi WhatsApp ya.

Video rekomendasi
Video lainnya


Terkini Lainnya

Tanggal 18 April 2024 Memperingati Hari Apa?

Tanggal 18 April 2024 Memperingati Hari Apa?

Nasional
Pemilu 2024 Diduga Banyak Kecurangan, Usman Hamid Sebut Perlu Diadili oleh Mahkamah Rakyat

Pemilu 2024 Diduga Banyak Kecurangan, Usman Hamid Sebut Perlu Diadili oleh Mahkamah Rakyat

Nasional
Dugaan Kecurangan Pemilu 2024, Sejarawan dan Ahli Pemilu Singgung Perlunya 'People Tribunal'

Dugaan Kecurangan Pemilu 2024, Sejarawan dan Ahli Pemilu Singgung Perlunya "People Tribunal"

Nasional
Kaesang Pastikan Istrinya, Erina Gudono Tak Maju Jadi Calon Bupati Sleman

Kaesang Pastikan Istrinya, Erina Gudono Tak Maju Jadi Calon Bupati Sleman

Nasional
Sikap Pemerintah soal Israel Diyakini Tak Dipengaruhi oleh Prabowo

Sikap Pemerintah soal Israel Diyakini Tak Dipengaruhi oleh Prabowo

Nasional
Kakorlantas Prediksi Sekitar 188.000 Kendaraan Akan Lewat Tol Japek Malam Ini

Kakorlantas Prediksi Sekitar 188.000 Kendaraan Akan Lewat Tol Japek Malam Ini

Nasional
Menko Airlangga Wanti-wanti Harga Pangan dan BBM Naik Imbas Iran Serang Israel

Menko Airlangga Wanti-wanti Harga Pangan dan BBM Naik Imbas Iran Serang Israel

Nasional
Airlangga: Bagi yang Belum Dukung Prabowo-Gibran, Kita Terbuka

Airlangga: Bagi yang Belum Dukung Prabowo-Gibran, Kita Terbuka

Nasional
Kubu Anies-Muhaimin: Kesimpulan Sudah Siap, Pasti Disampaikan ke MK Besok

Kubu Anies-Muhaimin: Kesimpulan Sudah Siap, Pasti Disampaikan ke MK Besok

Nasional
Airlangga Ungkap Alasan Undang PPP di Acara Kumpul-kumpul Elite Pendukung Prabowo-Gibran

Airlangga Ungkap Alasan Undang PPP di Acara Kumpul-kumpul Elite Pendukung Prabowo-Gibran

Nasional
Bamsoet Ingin Tak Ada Oposisi di Pemerintahan ke Depan, Nasdem: Rekonsiliasi Bukan Berarti Bagi Kursi

Bamsoet Ingin Tak Ada Oposisi di Pemerintahan ke Depan, Nasdem: Rekonsiliasi Bukan Berarti Bagi Kursi

Nasional
Soal Kemungkinan Gabung ke Pemerintahan Selanjutnya, Nasdem: Itu Bukan Prioritas Sekarang

Soal Kemungkinan Gabung ke Pemerintahan Selanjutnya, Nasdem: Itu Bukan Prioritas Sekarang

Nasional
Plt Ketum PPP Datangi Halal Bihalal Golkar, Diundang Airlangga

Plt Ketum PPP Datangi Halal Bihalal Golkar, Diundang Airlangga

Nasional
Luhut, Kaesang, hingga Budi Arie Datangi Halal Bihalal Partai Golkar, Kompak Pakai Batik Emas

Luhut, Kaesang, hingga Budi Arie Datangi Halal Bihalal Partai Golkar, Kompak Pakai Batik Emas

Nasional
Nasdem Telah Bicara dengan Anies soal Kemungkinan Maju di Pilkada DKI

Nasdem Telah Bicara dengan Anies soal Kemungkinan Maju di Pilkada DKI

Nasional
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
komentar di artikel lainnya
Baca berita tanpa iklan. Gabung Kompas.com+
Close Ads
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com