Kompas.com - 12/06/2020, 16:46 WIB
Ilustrasi obat untuk virus corona, obat corona ShutterstockIlustrasi obat untuk virus corona, obat corona
Penulis Devina Halim
|
Editor Bayu Galih

JAKARTA, KOMPAS.com - Universitas Airlangga dan Badan Intelijen Negara (BIN) menemukan lima macam kombinasi obat-obatan dalam penanganan Covid-19.

Kombinasi obat-obatan tersebut diyakini berpotensi menurunkan perkembangbiakan serta menghambat masuknya virus corona ke sel target.

“Dari 14 regimen obat yang diteliti, akhirnya kita mendapatkan lima kombinasi regimen obat yang punya potensi dan efektivitas yang cukup bagus,” kata Ketua Pusat Penelitian dan Pengembangan Stem Cell Unair Purwati dalam siaran langsung di akun YouTube BNPB, Jumat (12/6/2020).

"Untuk menghambat virus itu masuk ke dalam sel target dan untuk menghambat atau menurunkan perkembangbiakan dari virus itu di sel," tuturnya.

Baca juga: LIPI Uji Coba Obat Herbal ke 90 Pasien Covid-19 di Wisma Atlet

Kombinasi pertama yaitu, Lopinafir, Ritonavir, dan Azithromycin.

Kemudian, kombinasi antara, Lopinafir, Ritonavir, dan Doksisiklin.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Kombinasi ketiga, Lopinafir, Ritonavir, Klaritromisin.

Keempat, Hidroksiklorokuin dan Azithromycin.

Kelima, yaitu antara Hidroksiklorokuin dan Doksisiklin.

Obat-obatan tersebut telah melalui uji toksisitas, tes terkait potensi obat untuk membunuh daya mematikan virus corona, uji efektivitas obat, tes terhadap faktor inflamasi dan anti-inflamasi.

Baca juga: Jusuf Kalla: Indonesia Harus Berkontribusi dalam Pengobatan Covid-19, Jangan Selalu Minta ke China

Purwati menuturkan, salah satu alasan dipilih kombinasi karena dosis masing-masing obat lebih kecil sehingga mengurangi toksisitas.

"Dosis yang dipakai di dalam kombinasi lebih kecil, seperlima sampai sepertiga daripada dosis tunggal sehingga sangat mengurangi toksisitas obat tersebut di dalam sel tubuh yang sehat,” tuturnya.

Dengan potensi dan efektivitas yang cukup bagus, kombinasi obat diyakini dapat memutus rantai penyebaran Covid-19.

"Dengan menurunnya sampai tidak terdeteksinya virus setelah diberikan regimen obat ini, maka hal itu akan bisa memutus mata rantai penularan," ujar dia.

Baca juga: Begini Prosedur Pengobatan Covid-19 Menggunakan Plasma Darah Pasien Sembuh

Obat yang dipilih juga merupakan obat yang beredar di pasaran. Alasannya, obat tersebut sudah melewati berbagai tes sehingga mendapatkan izin edar dari BPOM.

Menurut dia, kesehatan pasien tetap menjadi prioritas di tengah masa pandemi.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Golkar Terbuka Berkoalisi dengan Partai Mana Pun, Termasuk Pecahan Partai Golkar

Golkar Terbuka Berkoalisi dengan Partai Mana Pun, Termasuk Pecahan Partai Golkar

Nasional
Jokowi: BUMN Terlalu Sering Kita Proteksi, Enak Sekali

Jokowi: BUMN Terlalu Sering Kita Proteksi, Enak Sekali

Nasional
Wapres Sebut Laznas Yatim Mandiri Telah Salurkan Bantuan Pendidikan untuk 1.000 Anak Yatim Terdampak Pandemi

Wapres Sebut Laznas Yatim Mandiri Telah Salurkan Bantuan Pendidikan untuk 1.000 Anak Yatim Terdampak Pandemi

Nasional
Akbar Tanjung: Kalau 2004 Golkar Pernah Jadi Pemenang, Insya Allah 20 Tahun Kemudian Juga Bisa

Akbar Tanjung: Kalau 2004 Golkar Pernah Jadi Pemenang, Insya Allah 20 Tahun Kemudian Juga Bisa

Nasional
Minta BUMN yang Tak Berkembang Ditutup, Jokowi: Tidak Ada 'Selamet-selametin'

Minta BUMN yang Tak Berkembang Ditutup, Jokowi: Tidak Ada "Selamet-selametin"

Nasional
Jokowi: Kadang Saya Malu, BUMN Sudah 'Dibukain' Pintu tetapi Enggak Ada Respons

Jokowi: Kadang Saya Malu, BUMN Sudah "Dibukain" Pintu tetapi Enggak Ada Respons

Nasional
Wapres Sebut Jumlah Anak Yatim Piatu Mencapai 28.000 Per September 2021

Wapres Sebut Jumlah Anak Yatim Piatu Mencapai 28.000 Per September 2021

Nasional
Enam Orang yang Terjaring OTT Tiba di Gedung Merah Putih KPK

Enam Orang yang Terjaring OTT Tiba di Gedung Merah Putih KPK

Nasional
Jokowi Tekankan soal Transformasi Bisnis dan Adaptasi Teknologi di BUMN

Jokowi Tekankan soal Transformasi Bisnis dan Adaptasi Teknologi di BUMN

Nasional
Anggota DPR Nilai Cara Penagihan Pinjol dengan Teror dan Intimidasi Patut Diberangus

Anggota DPR Nilai Cara Penagihan Pinjol dengan Teror dan Intimidasi Patut Diberangus

Nasional
OTT di Musi Banyuasin, KPK Tangkap Bupati Dodi Reza Alex Noerdin dan 5 ASN

OTT di Musi Banyuasin, KPK Tangkap Bupati Dodi Reza Alex Noerdin dan 5 ASN

Nasional
Jokowi Ingatkan Izin Investasi di BUMN Jangan Berbelit-belit

Jokowi Ingatkan Izin Investasi di BUMN Jangan Berbelit-belit

Nasional
Temui Orangtua Korban Penganiayaan di Bogor, Wagub Jabar Minta Pihak Sekolah Menindak Tegas

Temui Orangtua Korban Penganiayaan di Bogor, Wagub Jabar Minta Pihak Sekolah Menindak Tegas

Nasional
6 Tips Bijak Menggunakan Pinjaman Online

6 Tips Bijak Menggunakan Pinjaman Online

Nasional
KPK Benarkan Bupati Musi Banyuasin Dodi Reza Alex Noerdin Ditangkap Saat OTT

KPK Benarkan Bupati Musi Banyuasin Dodi Reza Alex Noerdin Ditangkap Saat OTT

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.