Istana Minta Masyarakat Tetap Waspada di Masa PSBB Transisi

Kompas.com - 06/06/2020, 06:52 WIB
Calon penumpang mengantre untuk menaiki bus Transjakarta di Halte Harmoni, Jakarta, Kamis (4/6/2020). Pemprov DKI Jakarta memperpanjang Pembatasan Sosial Berskala Panjang (PSBB) sekaligus sebagai masa transisi menuju tatanan normal baru, dengan salah satu kebijakannya tetap mempertahankan kuota 50 persen untuk kapasitas kendaraan pribadi dan transportasi massal. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/aww. ANTARA FOTO/WAHYU PUTRO ACalon penumpang mengantre untuk menaiki bus Transjakarta di Halte Harmoni, Jakarta, Kamis (4/6/2020). Pemprov DKI Jakarta memperpanjang Pembatasan Sosial Berskala Panjang (PSBB) sekaligus sebagai masa transisi menuju tatanan normal baru, dengan salah satu kebijakannya tetap mempertahankan kuota 50 persen untuk kapasitas kendaraan pribadi dan transportasi massal. ANTARA FOTO/Wahyu Putro A/aww.

JAKARTA, KOMPAS.com - Kepala Kantor Staf Presiden Moeldoko meminta masyarakat tetap waspada di masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) transisi.

Ia meminta masyarakat tetap disiplin menerapkan protokol kesehatan di ruang publik seperti mengenakan masker dan menjaga jarak fisik.

"Sekarang angkanya sudah menurun. Kalau tak terkontrol dengan baik, bisa naik lagi. Selama vaksin belum ditemukan, zona hijau bisa kembali kuning. Karena itu protokol kesehatan terus diperhatikan," kata Moeldoko melalui keterangan tertulis, Jumat (5/6/2020).

Baca juga: PSBB Kabupaten Bogor Diperpanjang, 5 Kecamatan Zona Merah

Ia menambahkan protokol kesehatan pada masa transisi akan lebih detail dan teknis diterapkan pada sektor usaha, pendidikan, serta tempat ibadah.

Ia mengatakan persyaratan tersebut harus diikuti dan menjadi tanggung jawab sosial bersama.

Moeldoko pun meminta figur publik, tokoh masyarakat, dan tokoh agama menyosialisasikan pelaksanaan protokol kesehatan tersebut agar masyarakat mematuhinya.

Baca juga: Masuk PSBB Proporsional, 16 RW di Kota Bekasi Masuk Zona Merah Covid-19, Berikut Daftarnya

"Agar protokol kesehatan dapat tersampaikan dengan baik di masyarakat maka diperlukan peran tokoh atau publik figur, seperti pimpinan daerah atau tokoh agama. Mereka dapat mengomunikasikan secara efektif mengenai pola hidup baru," papar Moeldoko.

"Perlu kolaborasi, kerja sama, dan gotong royong. Tidak hanya pemerintah, tapi juga Pemda, tokoh masyarakat, agama, pemuda, sampai tingkat RT/RW dan komponen masyarakat lainnya," lanjut mantan Panglima TNI itu.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X