Ketakutan Publik akan Gelombang Kedua Covid-19 Dinilai Tak Sejalan dengan Perilaku

Kompas.com - 02/06/2020, 18:43 WIB
Wisatawan memadati Pantai Tanjung Pakis, Pakisjaya, Karawang, Jawa Barat, Senin (1/6/2020).  Meski penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Kabupaten Karawang masih diperpanjang hingga 14 Juni 2020, namun masyarakat sudah memadati lokasi wisata yang berada di Pantai Tanjung Pakis Karawang. ANTARA FOTO/M Ibnu Chazar/pras. ANTARA FOTO/Muhamad Ibnu ChazarWisatawan memadati Pantai Tanjung Pakis, Pakisjaya, Karawang, Jawa Barat, Senin (1/6/2020). Meski penerapan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) Kabupaten Karawang masih diperpanjang hingga 14 Juni 2020, namun masyarakat sudah memadati lokasi wisata yang berada di Pantai Tanjung Pakis Karawang. ANTARA FOTO/M Ibnu Chazar/pras.
Penulis Devina Halim
|
Editor Krisiandi

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (UI) Pratiwi Sudarmono menilai kekhawatiran sebagian masyarakat terhadap kemungkinan gelombang kedua Covid-19 tidak sejalan dengan perilaku.

Menurut Pratiwi, sebagian masyarakat merasa takut, tetapi malah tak menjalankan protokol kesehatan.

“Takut gelombang kedua tetapi justru sekarang kayaknya mereka merasa lebih leluasa pergi ke sana ke mari,” ungkap Pratiwi dalam siaran langsung di akun Youtube BNPB, Selasa (2/6/2020).

Baca juga: Penanganan Covid-19 di Jatim, Gugus Tugas Serahkan Bantuan Alkes dan Robot Disinfektan

“Ada yang pergi tanpa masker, pergi ke tempat berkerumun, mulai coba-coba minum kopi, pergi ke resto dan seterusnya,” sambung dia.

Pratiwi mengatakan, potensi gelombang kedua Covid-19 tersebut memang ada.

Salah satunya karena pergerakan orang. Misalnya, saat mudik dan arus balik Lebaran 2020.

Faktor lainnya yang dapat memengaruhi adalah mutasi yang dilakukan virus corona tersebut.

Baca juga: Angka Reproduksi Covid-19 di Jabar Terus Menurun

“Virus itu dari waktu ke waktu dia melakukan perubahan pada dirinya, mutasi secara continue karena dia virus RNA sehingga bisa saja dia berkembang di satu daerah lebih banyak dari kemarin,” ucap dia.

“Dan karena tidak ada pembatasan yang jelas, orang tidak takut lagi sehingga tidak ada orang WFH lagi misalnya, maka dengan sendirinya, kemungkinan tertular itu tinggi,” sambung dia.



Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Kelanjutan Nasib RUU Cipta Kerja, Mahfud: Pemerintah Sudah Punya Rumusan Baru

Kelanjutan Nasib RUU Cipta Kerja, Mahfud: Pemerintah Sudah Punya Rumusan Baru

Nasional
Ada Permintaan Prabowo Capres 2024, Muzani Sebut Ditentukan Setahun Sebelumnya

Ada Permintaan Prabowo Capres 2024, Muzani Sebut Ditentukan Setahun Sebelumnya

Nasional
Resmikan Program KiosMU, Airlangga: UMKM Prioritas Utama dalam Pemulihan Ekonomi Nasional

Resmikan Program KiosMU, Airlangga: UMKM Prioritas Utama dalam Pemulihan Ekonomi Nasional

Nasional
Mahfud: Banyak Dokter Meninggal Dunia karena Lelah dan Stres Tangani Pasien Covid-19

Mahfud: Banyak Dokter Meninggal Dunia karena Lelah dan Stres Tangani Pasien Covid-19

Nasional
Prabowo Kembali Tunjuk Ahmad Muzani Jadi Sekjen Partai Gerindra

Prabowo Kembali Tunjuk Ahmad Muzani Jadi Sekjen Partai Gerindra

Nasional
Jokowi Ajak Kader Gerindra Bantu Negara Tangani Dampak Pandemi Covid-19

Jokowi Ajak Kader Gerindra Bantu Negara Tangani Dampak Pandemi Covid-19

Nasional
Kongres Luar Biasa secara Virtual Saat Pandemi, Gerindra Siap Daftar ke Muri

Kongres Luar Biasa secara Virtual Saat Pandemi, Gerindra Siap Daftar ke Muri

Nasional
KSAD Jadi Wakil Komite Penanganan Covid-19, Mahfud: Keterlibatan TNI Diperlukan

KSAD Jadi Wakil Komite Penanganan Covid-19, Mahfud: Keterlibatan TNI Diperlukan

Nasional
UPDATE 8 Agustus: Kasus Covid-19 DKI Jakarta Kembali Lampaui Jawa Timur

UPDATE 8 Agustus: Kasus Covid-19 DKI Jakarta Kembali Lampaui Jawa Timur

Nasional
Prabowo: Gerindra Besar Bukan karena Ketum, tetapi Berhasil Tangkap Keluhan Rakyat

Prabowo: Gerindra Besar Bukan karena Ketum, tetapi Berhasil Tangkap Keluhan Rakyat

Nasional
Pemerintah Beri Bintang Jasa 22 Tenaga Medis yang Gugur Saat Rawat Pasien Covid-19

Pemerintah Beri Bintang Jasa 22 Tenaga Medis yang Gugur Saat Rawat Pasien Covid-19

Nasional
Platform E-Learning ASN Unggul Jadi Solusi Pelatihan ASN di Tengah Pandemi

Platform E-Learning ASN Unggul Jadi Solusi Pelatihan ASN di Tengah Pandemi

Nasional
Sebaran 2.277 Kasus Baru Covid-19 RI, DKI Jakarta Tertinggi dengan 686

Sebaran 2.277 Kasus Baru Covid-19 RI, DKI Jakarta Tertinggi dengan 686

Nasional
UPDATE 8 Agustus: Kasus Suspek Covid-19 Capai 83.624

UPDATE 8 Agustus: Kasus Suspek Covid-19 Capai 83.624

Nasional
Prabowo: Banyak Partai Muncul dan Cepat Hilang, Gerindra Kokoh 12 Tahun

Prabowo: Banyak Partai Muncul dan Cepat Hilang, Gerindra Kokoh 12 Tahun

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X