Waspadai Hoaks, Masyarakat Diimbau Cari Informasi di Media Mainstream

Kompas.com - 02/06/2020, 12:37 WIB
Ilustrasi Covid-19 ShutterstockIlustrasi Covid-19
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Pemimpin Redaksi Suara Merdeka Gunawan Permadi mengingatkan, agar masyarakat selalu berpedoman pada media arus utama atau mainstream untuk mendapatkan informasi yang benar terkait virus corona ( Covid-19). 

"Bagi masyarakat tentu selalu melihat pada media mainstream karena ini yang kita masih committed untuk menyajikan infomasi yang sesuai dengan fakta dan kebijakan yang saat ini masih kita bangun bersama-sama," kata Gunawan dalam telekonferensi, di Graha BNPB Jakarta, Selasa (2/6/2020).

Menurut dia, saat ini banyak media baru yang bermunculan dan membuat berita tanpa menggunakan prinsip check dan re-check.

Baca juga: UPDATE 1 Juni: 26.940 Kasus Covid-19 di Indonesia, Penambahan Tertinggi di DKI

 

Media tersebut,  juga kerap membuat judul yang dilebih-lebihkan dan tidak sesuai dengan isi berita.

"Tapi media mainstream saya lihat masih sangat kuat untuk memegang kode etik dan prinsip check and re-chek," ujarnya.

Gunawan melanjutkan, media mainstream juga memiliki tanggung jawab besar untuk meredam berita hoaks dengan judul yang dilebih-lebihkan. Tanggung jawab itu juga harus dilakukan bersama-sama dengan pemerintah ataupun Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19.

"Ini peran aktif dari dewan pers juga sangat penting saya rasa untuk kita dorong," ucap Gunawan.

Sebelumnya, Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Johnny G Plate menyatakan, pemerintah telah mengonfirmasi 554 berita palsu atau hoaks terkait wabah virus corona.

Baca juga: Menkominfo Sebut Ada 554 Isu Hoaks tentang Covid-19

Johnny menyebutkan, ratusan hoaks itu tersebar di Facebook, Instagram, Twitter, dan Youtube.

"Hingga hari ini ada 554 isu hoaks. Tersebar di 1.209 platform, di Facebook, Instagram, Twitter, atau Youtube," kata Johnny dalam konferensi pers di Graha BNPB, Jakarta, pada 18 April lalu.

Ia mengatakan, sebanyak 983 hoaks di antaranya telah ditindaklanjuti dengan pemblokiran.

"Terdiri dari 681 di Facebook, empat di Instagram, 204 di Twitter, dan empat di Youtube," sebutnya.

"Yang akan ditindaklanjuti sebnyak 316, terdiri 162 di Facebook, enam di Instagram, 146 di Twitter, dan dua di Youtube," imbuh Johnny.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X