Desa Ini Terapkan Kearifan Lokal untuk Cegah Dampak Sosial Covid-19

Kompas.com - 19/05/2020, 13:18 WIB
Perangkat desa bersama warga menyemprotkan cairan disinfektan pada fasilitas umum, sekolah, rumah warga guna mencegah penyebaran virus Corona (Covid-19) di Desa Panggungharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta, Minggu (22/3/2020). Foto: Dok. Desa PanggungharjoPerangkat desa bersama warga menyemprotkan cairan disinfektan pada fasilitas umum, sekolah, rumah warga guna mencegah penyebaran virus Corona (Covid-19) di Desa Panggungharjo, Sewon, Bantul, Yogyakarta, Minggu (22/3/2020).

JAKARTA, KOMPAS.com - Desa Panggungharjo, Kabupaten Bantul, Daerah Istimewa Yogyakarta menerapkan kearifan lokal untuk mencegah dampak sosial dan ekonomi akibat wabah Covid-19.

Hal itu disampaikan Kepala Desa Panggungharjo, Wahyudi Anggoro Hadi, dalam konferensi pers yang digelar oleh Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 secara daring, Selasa (19/5/2020).

Menurut Wahyudi, kearifan lokal yang mereka terapkan disebut "merdesa".

"Merdesa itu gambaran di mana kehadiran negara bertemu kebudayaan sosial. Kami mencoba mengkombinasikan kapasitas birokrasi desa dengan kapasitas sosial masyarakat desa," ujar Wahyudi.

Baca juga: Kasus Covid-19 Akan Terus Bertambah Jika Masyarakat Tak Patuh Saat Lebaran

Dalam menerapkan merdesa, Desa Panggungharjo telah membentuk gugus tugas desa pada 16 Maret 2020 lalu.

Gugus tugas ini beranggotakan aparat dan masyarakat desa untuk mengantisipasi dampak Covid-19 sebagaimana kebiasaan lokal yang ada.

Menurut Wahyudi, pembentukan gugus tugas dilakukan dua pekan pasca-Presiden Joko Widodo mengumumkan kasus Covid-19 yang pertama di Indonesia.

"Nama gugus tugasnya Panggung Tanggap Covid-19. Tugasnya terdiri dari dua, yakni melakukan lapor dan dukung," ucapnya.

Baca juga: Jokowi Ajak Damai Covid-19, Kalla: Virusnya Enggak Mau, Bagaimana?

Untuk mode lapor, kata Wahyudi, masyarakat desa diajak memetakan dan mengidentifikasi dampak-dampak wabah Covid-19.

"Dari sana, ada tiga dampak yang kami saat itu perkirakan, yakni dampak klinis, dampak ekonomi maupun dampak sosial," tuturnya.

Usai melakukan pemetaaan atas tiga dampak itu, masyarakat Desa Panggungharjo mulai diajak menerapkan mekanisme dukung.

Salah satunya, dengan menyosialisaikan pola hidup bersih. Kemudian, melakukan sosialisasi pencegahan penularan dengan mengenalkan sistem komunikasi sosial yang baru.

"Kami dorong kepada dukuh-dukung untuk membangun pranata sosial baru. Mislanya soal ibadah, pemakaman, menerima tamu, kegiatan kebudayaan kita dorong menerapkan pranata baru yang sesuai (pencegahan penularan)," ucap Wahyudi.

Baca juga: Menko PMK Ingatkan BLT Dana Desa Jangan Diselewengkan

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X