Dian Permata
Peneliti

Peneliti Sindikasi Pemilu dan Demokrasi (SPD). Founder Institut Riset Indonesia

Hadapi Pagebluk Covid-19, Beruntungnya Indonesia Punya Rakyat Baik Hati...

Kompas.com - 16/05/2020, 16:38 WIB
Anda bisa menjadi kolumnis !
Kriteria (salah satu): akademisi, pekerja profesional atau praktisi di bidangnya, pengamat atau pemerhati isu-isu strategis, ahli/pakar di bidang tertentu, budayawan/seniman, aktivis organisasi nonpemerintah, tokoh masyarakat, pekerja di institusi pemerintah maupun swasta, mahasiswa S2 dan S3. Cara daftar baca di sini

HAMPIR 90 persen negara di dunia terkena Covid-19. Angka ini berdasarkan laporan CSSE John Hopkins University dan organisasi kesehatan dunia—WHO, yang mencatat data terkonfirmasi wabah virus tersebut dari seluruh dunia.

Angka tersebut bisa saja naik atau turun dengan berjalannya waktu sejak virus ini ditemukan pertama kali di China pada Desember 2019.

Negara yang terkena virus ini kewalahan dalam menghadapi penyebaran virus ini. Karena, ini adalah jenis virus baru.

Praktis, vaksinnya juga belum ditemukan apalagi diproduksi massal. Tingkat penyebarannya pun sangat cepat. Ditambah lagi, ada laporan bahwa virus ini terus bermutasi menjadi varian-varian baru.

Bisa ditebak, negara dibuat sempoyongan gegara kepintaran si Covid-19. Tak terkecuali negara-negara maju, seperti Amerika Serikat, Jerman, Italia, dan Spanyol.

Beragam jurus digunakan untuk menjinakkan dan mengalahkan si Covid-19 dalam perang wabah ini. Ada negara yang memilih cara lockdown, ada juga yang tidak menggunakannya, dan ada pula yang mengadopsi keduanya secara bersamaan.

Covid-19 memberikan tantangan kepada Negara dalam menelurkan kebijakan. Apakah kebijakan yang dikeluarkan dapat menjinakkan atau malah membiarkan si Covid-19 menguras energi emosi dan tenaga sebuah negara.

Belakangan, paradigma kebijakan itu berada dua kutub perdebatan, yaitu kutub pro life dan pro economy.

Tulisan ini tidak akan membahas secara detail persoalan di atas, tetapi akan condong mengulas lahirnya gerakan filantropi di masa pandemi Covid-19.

Gerakan ini makin menjamur di saat Negara dipusingkan oleh dua kutub tersebut. Gerakan ini bak oase, menyiram rasa gersang karena geram terhadap kebijakan Negara yang terkesan setengah hati dalam menangani pandemi Covid-19.

Gotong royong filantropi Indonesia

Gotong royong adalah bekerja sama—tolong menolong, bantu-membantu—merujuk kamus besar bahasa Indonesia (KBBI).

Popularitas istilah gotong royong tak lepas dari upaya yang dilakukan pemimpin-pemimpin bangsa Indonesia. Itu dimulai dari Presiden Soekarno dan Soeharto, hingga rezim saat ini yang mempromosikan istilah tersebut.

Gerakan Gotong Royong Bantu Tenaga Kesehatan Cegah Corona (GEBAH Corona) yang dilakukan oleh BPJS Kesehatan, IDI, dan Republika merupakan aksi berkelanjutan bagi tenaga kesehatan yang berada di lini paling depan. Dok. BPJS Kesehatan Gerakan Gotong Royong Bantu Tenaga Kesehatan Cegah Corona (GEBAH Corona) yang dilakukan oleh BPJS Kesehatan, IDI, dan Republika merupakan aksi berkelanjutan bagi tenaga kesehatan yang berada di lini paling depan.

Menjelang kemerdekaan Republik Indonesia, Soekarno memosisikan gotong royong sebagai asas sentral negara-bangsa Indonesia sebagaimana dia katakana,” Pancasila, jikalau saya peras maka dapatlah saya perkataan Indonesia yang tulen, yaitu gotong royong. Negara gotong royong. Alangkah hebatnya. Negara gotong royong." (Gunardi Endro, 2016: 1)

Terkait Covid-19, Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengakui pemerintah tidak dapat bekerja sendirian menangani pandemi ini.

Peran serta seluruh lapisan masyarakat sangat penting dan diperlukan. Gotong royong dapat menjadi kunci dalam menghadapi Covid-19.

Jokowi mendapati sebuah cerita mengenai seorang warga yang terkena gejala Covid-19 di suatu lingkungan. Tetangga di lingkungan tersebut tidak mengucilkan si penderita dan justru membantunya dengan memasok sembako.

Karena itu, menurut Jokowi, gotong royong harus terus digaungkan. Itu dia sampaikan di Istana Bogor, Sabtu (18/4/2020).

Pesan yang disampaikan Jokowi itu kira-kira demikian, Negara membutuhkan atau mengharapkan bantuan dari warga negara dalam bentuk apa pun untuk menghadapi pandemi Covid-19.

Bantuan itu boleh dalam bentuk uang dengan memberikan sembako—seperti pada cerita di atas—, memberikan masker, pembasuh tangan (hand sanitizer), pengadaan alat pelindung diri (APD) atau baju hazmat, waktu, pengalaman, atau lainnya.

Agar lebih mudah dicerna masyarakat maka Presiden Jokowi menggunakan kata gotong royong.

Pilihan kata itu dianggap lebih familiar di telinga kita. Ketimbang menggunakan kalimat “Pemerintah mengharapkan partisipasi masyarakat dalam pandemi ini" atau “Pemerintah beharap ada gerakan filantropi untuk merespons wabah Covid-19”.

Definisi singkat filantropi ialah seseorang yang mendonasikan uang, pengalaman, waktu, dan atau keahlihan tertentu untuk menolong sesama manusia untuk menciptakan dunia yang lebih baik.

Halaman:


Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Imbauan Wamenag untuk Jemaah Hadapi Cuaca Ekstrem Jelang Puncak Haji 2022

Imbauan Wamenag untuk Jemaah Hadapi Cuaca Ekstrem Jelang Puncak Haji 2022

Nasional
Partai Buruh: Cuti Melahirkan 6 Bulan Jangan Hanya Wacana di Atas Kertas

Partai Buruh: Cuti Melahirkan 6 Bulan Jangan Hanya Wacana di Atas Kertas

Nasional
Peringati Milad Ke-29, Dompet Dhuafa Luncurkan 3 Program untuk Atasi Kemiskinan di Kota

Peringati Milad Ke-29, Dompet Dhuafa Luncurkan 3 Program untuk Atasi Kemiskinan di Kota

Nasional
Ratusan Buruh Migran Indonesia Dikabarkan Meninggal di Sabah, Partai Buruh Bakal Demo di Kedubes Malaysia

Ratusan Buruh Migran Indonesia Dikabarkan Meninggal di Sabah, Partai Buruh Bakal Demo di Kedubes Malaysia

Nasional
416 Jemaah Haji Indonesia Jatuh Sakit, 20 Orang Meninggal Dunia

416 Jemaah Haji Indonesia Jatuh Sakit, 20 Orang Meninggal Dunia

Nasional
Sumbar jadi Wilayah yang Menantang, PDI-P Akan Kerahkan Kekuatan untuk Menangkan Pemilu 2024

Sumbar jadi Wilayah yang Menantang, PDI-P Akan Kerahkan Kekuatan untuk Menangkan Pemilu 2024

Nasional
Gerindra-PKB Makin Akrab, Siapa yang Pantas Dampingi Prabowo pada Pilpres 2024?

Gerindra-PKB Makin Akrab, Siapa yang Pantas Dampingi Prabowo pada Pilpres 2024?

Nasional
[POPULER NASIONAL] Analisis Dino Patti Djalal soal Kunjungan Jokowi ke Ukraina dan Rusia | Babak Baru Perseteruan Sahroni dan Adam Deni

[POPULER NASIONAL] Analisis Dino Patti Djalal soal Kunjungan Jokowi ke Ukraina dan Rusia | Babak Baru Perseteruan Sahroni dan Adam Deni

Nasional
Tanggal 5 Juli Hari Memperingati Apa?

Tanggal 5 Juli Hari Memperingati Apa?

Nasional
Tanggal 4 Juli Hari Memperingati Apa?

Tanggal 4 Juli Hari Memperingati Apa?

Nasional
Bolehkah Polisi Mengambil Kunci Motor?

Bolehkah Polisi Mengambil Kunci Motor?

Nasional
Aturan Razia Polisi Lalu Lintas

Aturan Razia Polisi Lalu Lintas

Nasional
Tito Karnavian Kenang Perjumpaan Terakhir dengan Tjahjo Kumolo di Sidang Kabinet

Tito Karnavian Kenang Perjumpaan Terakhir dengan Tjahjo Kumolo di Sidang Kabinet

Nasional
Tahlilan di Rumah Duka Tjahjo Kumolo, Menteri Basuki: Saya Sangat Kehilangan...

Tahlilan di Rumah Duka Tjahjo Kumolo, Menteri Basuki: Saya Sangat Kehilangan...

Nasional
UPDATE 2 Juli: Capaian Vaksinasi Covid-19 Dosis Kedua 81,20 Persen, Ketiga 24,45 Persen

UPDATE 2 Juli: Capaian Vaksinasi Covid-19 Dosis Kedua 81,20 Persen, Ketiga 24,45 Persen

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.