BMKG Prediksi Puncak Musim Kemarau Terjadi pada Agustus

Kompas.com - 08/05/2020, 15:41 WIB
Foto dirilis Jumat (1/11/2019), memperlihatkan kelompok Tani Sarimukti menyambungkan pipa dari bambu untuk mengairi areal sawah yang dibuat secara swadaya di Desa Manggungsari. Bagi petani di kawasan tersebut, kincir air menjadi jalan keluar untuk mengairi lahan persawahan yang terancam puso alias gagal panen kala musim kemarau. ANTARA FOTO/ADENG BUSTOMIFoto dirilis Jumat (1/11/2019), memperlihatkan kelompok Tani Sarimukti menyambungkan pipa dari bambu untuk mengairi areal sawah yang dibuat secara swadaya di Desa Manggungsari. Bagi petani di kawasan tersebut, kincir air menjadi jalan keluar untuk mengairi lahan persawahan yang terancam puso alias gagal panen kala musim kemarau.

JAKARTA, KOMPAS.com - Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika ( BMKG) memprediksi puncak musim kemarau tahun ini terjadi pada Agustus.

Kepala Bidang Prediksi dan Peringatan Dini Cuaca BMKG Miming Saepudin mengatakan, awan musim kemarau sudah mulai tampak pada Mei ini.

"Awan musim kemarau tahun ini sebagian besar sudah mulai menjelang di awal Mei ini. Kami prediksi, puncak kemarau tahun ini adalah di bulan Agustus dengan frekuensi jumlah wilayah antara lebih dari 64 persen," kata Saepudin dalam konferensi pers online bersama BNPB, Jumat (8/5/2020).

Baca juga: Jokowi Sebut 30 Persen Wilayah Berpotensi Mengalami Kekeringan

Menurut Saepudin, ada sejumlah daerah yang diperkirakan mengalami kemarau lebih kering dari kondisi normal.

Sejumlah derah tersebut yakni, Pulau Sumatera, seperti Riau, Jambi, dan Sumatera Selatan patut diwaspadai terjadinya kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

"Daerah rawan karhutla di wilayah Sumatera, yang relatif curah hujannya menengah sampai rendah itu dimulai dari Juni hingga September," tutur Saepudin.

Baca juga: Antisipasi Kekeringan, Jokowi Minta Musim Tanam Dipercepat

Sementara itu, daerah di Pulau Kalimantan, seperti Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan, juga disebutkan rawan karhutla.

"Untuk wilayah Kalimantan yang perlu diwaspadai antara kisaran Agustus dan September itu curah hujan menengah sampai rendahnya signifikan," lanjutnya.

Saepudin pun menyarankan kementerian/lembaga terkait lainnya segera merencanakan berbagai upaya pencegahan dan penanganan karhutla di daerah rawan.

Menurutnya, teknologi modifikasi cuaca (TMC) untuk pencegahan karhutla paling tepat dilakukan pada saat periode peralihan musim hujan ke musim kemarau.

"Kami merekomendasikan jika diperlukan TMC dalam kondisi karhutla ini maka waktu yang tepat untuk melakukan kegiatan tersebut adalah saat periode peralihan musim hujan ke musim kemarau, kareba bbit awan masih banyak hujan jadi masih dapat disemai untuk jadi hujan untuk membasahi lahan gambut," ucap Saepudin.

 



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X