Kompas.com - 23/04/2020, 10:56 WIB
Penulis Dani Prabowo
|
Editor Krisiandi

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua Umum Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (PB IDI) Daeng M Faqih menegaskan, kecepatan pemerintah dalam pengujian spesimen Covid-19 melalui metode polymerase chain reaction (PCR) menjadi hal yang penting untuk mengendalikan laju pertumbuhan dan penyebaran virus corona di masyarakat.

Namun persoalannya, saat ini jumlah uji PCR yang telah dilakukan pemerintah masih sangat rendah.

"Kalau sekarang dengan angka 46.000 selama 50 hari saya hitung, itu berarti kecepatan testing kita sehari di bawah 1.000. Padahal, target pemerintah 10.000 per hari," kata Daeng dalam sebuah diskusi di Jakarta, Rabu (22/4/2020).

Baca juga: Gorontalo Siap Uji PCR Spesimen Covid-19 secara Mandiri

Berdasarkan data Gugus Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 hingga 22 April, dari 38 laboratorium yang melaksanakan uji PCR, jumlah spesimen yang diperiksa 55.732 spesimen.

Sementara, jumlah kasus yang diperiksa spesimennya sebanyak 47.361 orang.

Di lain pihak, jumlah pasien dengan status orang dalam pemantauan (ODP), pasien dalam pengawasan (PDP) dan konfirmasi positif sudah di atas 200.000 orang.

Itu artinya, imbuh Daeng, masih terjadi gap yang cukup besar antara jumlah pasien dengan proses pengujian.

Untuk informasi, jumlah ODP saat ini sebanyak 193.571 orang, PDP 17.754 orang, dan konfirmasi positif 7.418 orang.

"Jadi ini penting untuk dipercepat. Kalau itu tidak dilakukan maka angka penularan itu akan lebih cepat dari pada angka yang kita periksa," ujarnya.

Semakin cepat pengujian dilaksanakan, ia menambahkan, data yang diperoleh pun akan semakin banyak.

Baca juga: 2 PDP Meninggal Dunia di Gorontalo Hasil Swab Belum Keluar

Dengan demikian, pemerintah bisa memperoleh informasi, mana pasien yang harus mendapatkan perawatan isolasi di rumah sakit, mana yang bisa melakukan isolasi mandiri di rumah.

Selain itu, pemerintah juga bisa memperoleh gambaran sebaran yang lebih baik untuk melakukan kontak tracing yang lebih agresif.

"Kalau tidak ada data testing yang luas dan cepat, maka tracing kita juga tidak agresif. Isolasi kita juga tidak kita lakukan besar-besaran untuk menangani kasus ini," ungkapnya.

Dapatkan update berita pilihan dan breaking news setiap hari dari Kompas.com. Mari bergabung di Grup Telegram "Kompas.com News Update", caranya klik link https://t.me/kompascomupdate, kemudian join. Anda harus install aplikasi Telegram terlebih dulu di ponsel.



Video Pilihan

Rekomendasi untuk anda
26th

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar dan menangkan e-voucher untuk 90 pemenang!

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.