Istana Minta Kepala Daerah Edukasi Warga soal Pemakaman Jenazah Covid-19

Kompas.com - 16/04/2020, 08:43 WIB
Petugas pemakaman menurunkan peti jenazah pasien COVID-19 di TPU Pondok Ranggon, Jakarta, Senin (30/3/2020). Juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19 Achmad Yurianto per Senin (30/3/2020) pukul 12.00 WIB menyatakan jumlah pasien positif COVID-19 di Indonesia telah mencapai 1.414  kasus, pasien yang telah dinyatakan sembuh sebanyak 75 orang, sementara kasus kematian bertambah delapan orang dari sebelumnya 114 orang menjadi 122 orang. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/foc. ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJAPetugas pemakaman menurunkan peti jenazah pasien COVID-19 di TPU Pondok Ranggon, Jakarta, Senin (30/3/2020). Juru bicara pemerintah untuk penanganan COVID-19 Achmad Yurianto per Senin (30/3/2020) pukul 12.00 WIB menyatakan jumlah pasien positif COVID-19 di Indonesia telah mencapai 1.414 kasus, pasien yang telah dinyatakan sembuh sebanyak 75 orang, sementara kasus kematian bertambah delapan orang dari sebelumnya 114 orang menjadi 122 orang. ANTARA FOTO/Muhammad Adimaja/foc.
Penulis Ihsanuddin
|
Editor Bayu Galih

JAKARTA, KOMPAS.com - Staf Khusus Presiden Bidang Sosial Diaz Hendropriyono menyayangkan terjadinya penolakan pemakaman jenazah korban virus corona atau Covid-19.

Ia meminta setiap Kepala Daerah memberikan edukasi kepada warganya agar tak terulang kejadian serupa.

"Kepala-kepala daerah harus memberikan edukasi kepada masyarakat bahwa media tanah tidak akan menularkan virus Covid-19," kata Diaz kepada wartawan, Rabu (15/4/2020).

Bahkan, ia meminta kepala daerah juga berkoordinasi dengan pihak kepolisian setempat apabila kasus penolakan terjadi di daerah mereka.

Baca juga: Kapolda Jatim Buka Peta Penyebaran Covid-19 di Surabaya, Ungkap Lokasi Pasien Pertama

Hal ini seperti yang dilakukan Polda Jawa Tengah yang menindak provokator penolak pemakaman jenazah Covid-19.

"Tindak tegas para provokator. Pihak pemerintahan sangat memahami kekhawatiran warga, namun sudah pasti setiap prosedur yang diterapkan sudah dipertimbangkan secara hati-hati," kata dia.

Menurut dia, alasan penolakan jenazah seperti yang menimpa jenazah perawat RSUP dr Kariadi Semarang dan di beberapa daerah lain sangat tidak logis. Sebab, virus corona tak akan bisa menyebar lewat media tanah.

Apalagi pemakaman juga dilakukan dengan prosedur yang ketat.

Baca juga: Kapolda:Tidak Ada Penolakan Pemakaman Pasien Covid-19 di Jakarta

Diaz menyayangkan ketidakpahaman membuat masyarakat abai dengan nilai-nilai kemanusiaan.

"Biar bagaimanapun korban COVID-19 ini adalah keluarga kita juga. Jika ditolak dimakamkan di daerah asalnya pasti akan melukai hati orang tua dan kerabatnya. Apalagi kan mereka korban virus, bukan penjahat," kata dia.

"Kalau masyarakat paham, prosedur pemakaman jenazah dengan dilapisi plastik berlapis dan disemprot disinfektan itu sudah sangat aman. Jangan karena tidak paham jadi semena-mena," ujar ketua umum PKPI ini.



Rekomendasi untuk anda
25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X