Cegah Bentrok TNI-Polri di Papua Terulang, Komunikasi Pimpinan Anak Buah Diperlukan

Kompas.com - 13/04/2020, 15:18 WIB
Komisioner Kompolnas Poengky  Indarti saat memberikan keterangan pers di Polda NTB, Sabtu (13/10/2018) KOMPAS.com/FITRI RKomisioner Kompolnas Poengky Indarti saat memberikan keterangan pers di Polda NTB, Sabtu (13/10/2018)
Penulis Devina Halim
|
Editor Bayu Galih

JAKARTA, KOMPAS.com - Komisioner Kompolnas Poengky Indarti berharap atasan TNI- Polri di daerah Papua meluangkan waktu untuk mendengarkan keluh kesah anak buahnya.

Hal itu disampaikan sebagai salah satu langkah pencegahan bentrok antara anggota TNI-Polri, seperti yang baru terjadi di Kabupaten Mamberamo Raya, Papua.

"Saya berharap atasan masing-masing dapat meluangkan waktu lebih banyak untuk memperhatikan, berkomunikasi dan mendengarkan keluh kesah anggota," kata Poengky ketika dihubungi Kompas.com, Senin (13/4/2020).

"Dengan demikian jika ada masalah kecil segera dapat diatasi agar tidak membesar," ujar dia.

Baca juga: Bentuk Tim Gabungan Usut Bentrok di Papua, TNI-Polri Diminta Transparan

Menurut Poengky, bentrokan dapat terjadi karena emosi para anggota yang terkadang dipicu masalah sepele.

Selain itu, Poengky menuturkan, para anggota yang bertugas di daerah pedalaman juga mengalami tekanan.

"Saya sangat memahami, selain emosi jiwa muda, ada juga rasa stres yang terkadang muncul pada anggota yang ditugaskan di daerah pedalaman Papua," ujarnya.

Terkait peristiwa bentrokan yang menewaskan tiga anggota polisi tersebut, Kompolnas meminta pelaku diproses hukum pidana.

Baca juga: Bentrok TNI-Polri di Papua Tewaskan 3 Orang, Kompolnas Minta Pelaku Diproses Pidana

Pemberian sanksi dinilai dapat memberi efek jera agar kejadian tersebut tidak terulang.

Kompolnas pun mengaku prihatin dengan peristiwa tersebut.

Poengky tak memungkiri adanya gesekan antaranggota di level bawah, meski pejabat utama TNI-Polri sering memberi contoh perihal sinergisitas kedua instansi.

Kompolnas pun mengapresiasi langkah Kapolda Papua Irjen Paulus Waterpauw dan Pangdam XVII/ Cenderawasih Mayjen TNI Herman dalam menangani masalah ini.

Misalnya, menerjunkan tim gabungan untuk menyelidiki peristiwa, memerintahkan anggota Mapolres Mamberamo Raya tetap berada di rumah, dan Kapolda serta Pangdam terjun ke lokasi.

"Kompolnas berharap situasi segera kondusif," ujarnya.

Baca juga: Sesalkan Bentrok TNI-Polri, Ketua MPR Berharap Tak Dimanfaatkan KKB Papua

Diberitakan, bentrokan antara oknum TNI dan Polri terjadi di Kabupaten Mamberamo Raya, Papua, pada Minggu, sekitar pukul 07.40 WIT.

Bentrokan itu melibatkan oknum anggota Satgas Pamrahwan Yonif 755/20/3-Kostrad dengan anggota Polres Mamberamo Raya, di Jalan Pemda I, Kampung Kasonaweja, Distrik Mamberamo Tengah.

Kabid Humas Polda Papua Kombes Polisi Ahmad Musthofa Kamal mengatakan, pertikaian itu terjadi karena salah paham.

Akibat pertikaian itu, tiga polisi meninggal. Dua polisi lain menderita luka tembak.

"Akibat kesalahpahaman antara oknum anggota TNI dan anggota Polres Mamberamo Raya, tiga orang anggota Polri meninggal dunia dan dan orang mengalami luka tembak," kata Kamal dalam keterangan tertulisnya, Minggu siang.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X