Jangan Hanya Bercanda, Pemerintah Harus Gencar Sosialisasi Masyarakat Cegah Corona

Kompas.com - 01/03/2020, 09:11 WIB
Sejumlah WNI ABK World Dream berada dalam Landing Craft Utility (LCU) bersiap keluar dari  KRI dr Soeharso-990 untuk menjalani observasi di Pulau Sebaru Kecil, Kepulauan Seribu, Jakarta, Jumat (28/2/2020). Selanjutnya, para WNI itu akan melanjutkan 14 hari masa observasi usai dipulangkan dari Hong Kong akibat mewabahnya virus corona (Covid-19). ANTARA FOTO/HO/DISPENALSejumlah WNI ABK World Dream berada dalam Landing Craft Utility (LCU) bersiap keluar dari KRI dr Soeharso-990 untuk menjalani observasi di Pulau Sebaru Kecil, Kepulauan Seribu, Jakarta, Jumat (28/2/2020). Selanjutnya, para WNI itu akan melanjutkan 14 hari masa observasi usai dipulangkan dari Hong Kong akibat mewabahnya virus corona (Covid-19).

JAKARTA, KOMPAS.com - Virus corona telah menyebar luas ke beberapa negara. Sejak pertama kali terdeteksi di pusat kota Wuhan, China, virus ini kemudian menyebar dengan cepat ke negara-negara lain.

Sejauh ini, virus corona telah menginfeksi 85.173 orang dan 2.923 kasus kematian yang paling banyak terjadi di China.

Meskipun kasus di China menurun dalam sepekan terakhir, kasus terinfeksi corona di negara lain justru melonjak seperti di Korea Selatan dan Italia.

Per Kamis (27/2/2020) pukul 07.00 WIB, sebanyak 44 negara telah mengonfirmasi kasus corona dengan Italia sebagai negara Eropa pertama yang mengonfirmasi adanya kasus corona.

Baca juga: Nol Kasus, Perdana Menteri Australia Ragukan Penanganan Virus Corona di Indonesia

Melansir theweek.com, Ahli epidemiologi Universitas Harvard, Marc Lipsitch memperkirakan coronavirus "pada akhirnya tidak akan dapat ditahan".

Dalam satu tahun, virus ini akan menginfeksi antara 40 - 70 persen manusia, The Atlantic melaporkan.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Tetapi, menurut Lipsitch, orang-orang yang terinfeksi tidak akan memiliki penyakit parah atau bahkan menunjukkan gejala sama sekali.

Kontradiksi reaksi Indonesia dan Dunia

Dunia sangat serius menyikapi penyebaran virus ini. Namun, sampai saat ini virus corona dilaporkan belum terdeteksi di Indonesia.

Sayangnya, alih-alih melakukan sosialisasi dan pencegahan virus corona agar masyarakat lebih siap, beberapa pejabat justru menjadikan kondisi tersebut sebagai bahan kelakar.

Misalnya, seperti yang dikatakan Menteri Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan, saat ditanya mengenai isu enam orang yang diduga terinfeksi virus corona dan masuk ke Batam.

Baca juga: Dinkes DKI Sebut Lakukan Sosialisasi Waspada Corona di 460 Lokasi

 

Luhut mengatakan virus corona telah pergi dari Indonesia.

"Corona? Corona masuk Batam? Hah? Mobil Corona. Corona kan sudah pergi dari Indonesia," ujarnya di Jakarta, Senin (10/2/2020).

Corona yang dimaksud adalah mobil Toyota Corona yang dirakit di Indonesia, yang sejak tahun 1998 berhenti diproduksi.

Ada pula Kepala BKPM Bahlil Lahadalia saat mengisi acara Manager Forum XLIV "Kebijakan Investasi untuk Mendorong Perekonomian Nasional dan Coorporate Busines".

Dia berkelakar, alasan virus corona belum masuk ke Indonesia karena sulitnya perizinan.

"Sampai katanya virus corona enggak masuk ke Indonesia karena izinnya susah," ujarnya di Gedung Inews, Jakarta, Senin (24/2/2020).

20 negara laporkan kasus infeksi virus corona pertamanya dalam sepekan inigisanddata 20 negara laporkan kasus infeksi virus corona pertamanya dalam sepekan ini

Pemerintah Indonesia sendiri telah melakukan beberapa langkah pencegahan sejak Januari 2020.

Pencegahan tersebut, antara lain memperketat pemeriksaan kesehatan di bandara, melarang maskapai nasional ke China, dan menjaga 135 pintu masuk ke Indonesia.

Lantas, apakah kita harus khawatir walaupun Indonesia belum terpapar virus corona?

Menurut Dokter Spesialis Paru RS Persahabatan dr. Erlina Burhan, kondisi tersebut jangan sampai membuat kewaspadaan Indonesia terhadap virus corona menurun.

Indonesia memang belum dilaporkan belum terdeteksi adanya virus corona. Namun, saat ini kasus corona sedang meningkat di negara-negara lain.

Baca juga: Karena Virus Corona, Film Mulan Terancam Batal Rilis di China

"Meningkatkan kewaspadaan saja karena di negara-negara lain 'kan sudah ada. Karena di kita tidak ada, apa boleh buat, kita upaya pencegahan saja," katanya pada KOMPAS.com, Sabtu (29/2/2020).

Dia mengingatkan agar masyarakat Indonesia memulai aksi pencegahan dengan mencuci tangan, menjaga jarak dengan orang yang batuk atau bersin, hingga memakai masker jika berada di tengah keramaian.

Selain itu, ia juga mengatakan agar pemerintah memanfaatkan kondisi saat ini untuk lebih gencar melakukan sosialisasi mengenai pencegahan virus corona.

"Lebih masif lagi ya agar masyarakatnya lebih siap," kata dia.

Upaya Indonesia

Saat virus corona mewabah pertama kali di China, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) telah menyiapkan beberapa langkah untuk mencegah masuknya virus corona ke Indonesia.

Sekretaris Direktorat Jenderal (Ditjen) Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kemenkes Achmad Yurianto mengatakan, Kemenkes telah berkoordinasi dengan otoritas bandara.

Hal tersebut dilakukan untuk menyiapkan segala hal terkait pemberitahuan bagi penumpang yang terbang dari dan ke China untuk memeriksakan kesehatannya jika mengalami gejala flu.

Apalagi, kata dia, gejala awal virus corona hampir sama dengan gejala flu.

Baca juga: China Tutup Laboratorium yang Publikasikan Genom Virus Corona

Selanjutnya, Kemenkes juga memberikan kesadaran kepada warga agar menjalankan pola hidup sehat dengan mencuci tangan sebelum makan.

Sebab, penyebaran virus tersebut mirip dengan penyebaran influenza.

Ia juga mengimbau masyarakat yang sedang sakit flu mengenakan masker agar ketika batuk dan bersin tidak mengenai mereka yang sehat.

"Itu beberapa hal yang sudah menjadi kebijakan Kementerian Kesehatan dan ini yang kemudian akan kami sampaikan," kata dia.

Saat ini, wabah virus corona telah menyebar ke banyak negara. Selain China, Korea Selatan dan Iran menjadi negara terbesar yang terkena wabah virus Covid-19 itu.

Meski pemerintah menyatakan virus Covid-19 belum masuk ke Indonesia, tetapi hal tersebut tetap menjadi kekhawatiran masyarakat.

Penonton Jakarta International Java Jazz Festival 2020 menggunakan masker di Jakarta, Jumat (28/2/2020). Sejumlah pengunjung konser menggunakan masker disebabkan merebaknya penyebaran virus corona di beberapa negara di Asia Tenggara.ANTARA FOTO/MUHAMMAD ADIMAJA Penonton Jakarta International Java Jazz Festival 2020 menggunakan masker di Jakarta, Jumat (28/2/2020). Sejumlah pengunjung konser menggunakan masker disebabkan merebaknya penyebaran virus corona di beberapa negara di Asia Tenggara.

 

Banyak di antara mereka yang meragukan apakah Covid-19 benar-benar belum masuk ke Indonesia atau memang tidak terdeteksi. Hal tersebut banyak diungkapkan masyarakat di media sosial.

Belum lama ini, Wakil Presiden Ma'ruf Amin juga mengatakan bahwa sedianya Indonesia bisa terlindungi dari ancaman virus corona berkat ulama yang selalu membaca doa qunut.

"Tiap Subuh, banyak kyai dan ulama yang selalu membaca doa qunut. Saya juga begitu baca qunut. Ya Allah jauhkan bala, bahawa, dan wabah-wabah penyakit. Makanya Corona-nya nyingkir dari Indonesia. Mudah-mudahan terus dijaga," ujar Ma'ruf.

Hal tersebut disampaikan Ma'ruf saat mengapresiasi Menteri Kesehatan Terawan Agus Purtranto yang dinilainya telah bekerja keras untuk mengantisipasi masuknya Covid-19 ke Indonesia dalam kunjungan kerjanya ke Pangkalpinang, Bangka Belitung.

Peringatan WHO

Sebelumnya, Direktur Jenderal Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan, semua negara di dunia harus bersiap menghadapi virus corona Covid-19.

Hal ini dikatakannya menyusul semakin meluasnya wabah virus corona di banyak negara di dunia.

Baca juga: Kata WHO, Jangan Ada Negara yang Beranggapan Akan Terbebas dari Ancaman Virus Corona

 

Tedros mencontohkan kasus virus corona yang terjadi di Italia. Di Italia, sebanyak 17 orang meninggal dunia dan menjadikannya sebagai wabah terburuk di Eropa.

"Tidak ada negara yang boleh beranggapan tidak akan mendapatkan kasus virus corona, itu akan menjadi kesalahan fatal," kata Tedros, di Jenewa, Kamis (27/2/2020), seperti dikutip dari Reuters.

Tedros mengungkapkan, virus corona memiliki potensi menjadi pandemi.

Kondisi beberapa negara, seperti Iran, Italia, dan Korea Selatan disebut berada pada "titik yang menentukan".

Baca tentang


Rekomendasi untuk anda
26th

Ada hadiah voucher grab senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

PAN Masuk Lingkaran, Koalisi Jokowi di Simpang Jalan?

PAN Masuk Lingkaran, Koalisi Jokowi di Simpang Jalan?

Nasional
Periksa Anies Sebagai Saksi, KPK Dalami Soal Penyertaan Modal Program Rumah DP Rp 0

Periksa Anies Sebagai Saksi, KPK Dalami Soal Penyertaan Modal Program Rumah DP Rp 0

Nasional
Kasus Irjen Napoleon Aniaya Muhammad Kece, Propam Periksa Kepala Rutan Bareskrim

Kasus Irjen Napoleon Aniaya Muhammad Kece, Propam Periksa Kepala Rutan Bareskrim

Nasional
Satgas Minta Masyarakat Turut Antisipasi Terjadinya Lonjakan Kasus Covid-19

Satgas Minta Masyarakat Turut Antisipasi Terjadinya Lonjakan Kasus Covid-19

Nasional
OTT di Kolaka Timur, Ketua KPK: Tunggu Penyidik Bekerja

OTT di Kolaka Timur, Ketua KPK: Tunggu Penyidik Bekerja

Nasional
Pamer Penurunan Kasus Covid-19, Indonesia Berharap Ada Evaluasi Status Red List dari Inggris

Pamer Penurunan Kasus Covid-19, Indonesia Berharap Ada Evaluasi Status Red List dari Inggris

Nasional
Soal Kapal Selam Nuklir Australia, Menlu RI Sebut Sekjen PBB Ingatkan Potensi Perang Dingin

Soal Kapal Selam Nuklir Australia, Menlu RI Sebut Sekjen PBB Ingatkan Potensi Perang Dingin

Nasional
Mahfud Sebut Jokowi Restui Lahan Hasil Sitaan BLBI Dibikin Lapas

Mahfud Sebut Jokowi Restui Lahan Hasil Sitaan BLBI Dibikin Lapas

Nasional
Puspomad Segera Periksa Brigjen Junior Tumilaar Usai Bikin Surat Terbuka untuk Kapolri

Puspomad Segera Periksa Brigjen Junior Tumilaar Usai Bikin Surat Terbuka untuk Kapolri

Nasional
Pihak yang Ditangkap dalam OTT KPK di Kolaka Timur Masih Diperiksa

Pihak yang Ditangkap dalam OTT KPK di Kolaka Timur Masih Diperiksa

Nasional
Ketimpangan Akses Vaksin Sangat Lebar, Sekjen PBB: Dunia Bisa Sulit Keluar dari Pandemi Covid-19

Ketimpangan Akses Vaksin Sangat Lebar, Sekjen PBB: Dunia Bisa Sulit Keluar dari Pandemi Covid-19

Nasional
Mahfud Upayakan Amnesti Akademisi Korban UU ITE Saiful Mahdi Segera Keluar

Mahfud Upayakan Amnesti Akademisi Korban UU ITE Saiful Mahdi Segera Keluar

Nasional
OTT di Kolaka Timur, KPK Amankan Beberapa Pihak

OTT di Kolaka Timur, KPK Amankan Beberapa Pihak

Nasional
Kasus Covid-19 4.195.958, Pemerintah Perbolehkan Anak di Bawah Usia 12 Tahun ke Mal

Kasus Covid-19 4.195.958, Pemerintah Perbolehkan Anak di Bawah Usia 12 Tahun ke Mal

Nasional
Satgas: Tak Ada Jaminan Keberhasilan Penanganan Covid-19 Terus Bertahan, jika Tak Disiplin Prokes

Satgas: Tak Ada Jaminan Keberhasilan Penanganan Covid-19 Terus Bertahan, jika Tak Disiplin Prokes

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X
Lengkapi Profil
Lengkapi Profil

Segera lengkapi data dirimu untuk ikutan program #JernihBerkomentar.