Elektabilitas Anies Rendah, Golkar: kalau Tinggi Bisa "Digebuk" Ramai-ramai

Kompas.com - 23/02/2020, 23:41 WIB
Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (6/2/2020). KOMPAS.com/NURSITA SARIGubernur DKI Jakarta Anies Baswedan di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis (6/2/2020).

JAKARTA, KOMPAS.com - Berdasarkan hasil survei Politika Research Consulting (PRC) dan Parameter Politik Indonesia (PPI), tingkat elektabilitas Gubernur DKI Jakarta Anies Baswedan dinilai tidak cukup baik jika pemilu presiden dilangsungkan hari ini. 

Dalam menanggapi hal tersebut, Ketua Badan Pemenangan Pemilu Golkar Maman Abdurrahman menilai, elektabilitas kandidat yang terlalu tinggi saat ini justru akan menjadi persoalan.

"Itu berbahaya juga. Kalau tinggi di depan bisa digebuk ramai-ramai," kata Maman di Hotel Gren Alia Cikini, Jakarta, Minggu (23/2/2020).

Baca juga: Survei: Masalah Banjir DKI jadi Penyebab Elektabilitas Anies Anjlok

Maman lantas membandingkan elektabilitas Presiden Joko Widodo pada masa awal pemerintahannya.

Menurut dia, meski telah terpilih sebagai presiden, di periode 2014-2015 masih banyak masyarakat yang menganggap Jokowi bukanlah sosok presiden, melainkan Walikota Solo atau Gubernur DKI Jakarta.

"Tapi setelah 2015 naik. Dalam politik itu tidak boleh tinggi-tinggi di depan," ucap Maman.

Baca juga: Menurut Survei, Ini Kriteria Capres-Cawapres yang Akan Dipilih pada Pemilu 2024

Untuk diketahui, elektabilitas Anies masih kalah dibandingkan Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo (8,8 persen), Sandiaga Uno (9,1 persen) dan Prabowo Subianto (17,3 persen).

Anies hanya mendapat dukungan 7,8 persen dari seluruh responden yang disurvei.

Survei dengan metode multistage random sampling ini dilakukan secara proporsional terhadap 2.197 orang di 220 desa/kelurahan.

Tingkat kepercayaan survei ini mencapai 95 persen dengan margin of error sebesar 2,13 persen.

Baca juga: Survei PRC dan PPI: 61,4 Persen Masyarakat Puas dengan Kinerja Jokowi-Maruf

 

Direktur Eksekutif PPI Adi Prayitno mengatakan, satu hal yang menyebabkan elektabilitas Anies kalah dibandingkan tokoh lainnya, yaitu persoalan banjir.

Banjir yang melanda wilayah DKI Jakarta terus menerus sejak awal tahun hingga kini dinilai cukup ampuh membuat masyarakat untuk tidak memilihnya.

"Kalau survei sebelumnya semakin Anies dikritik habis-habisnya, orang semakin simpatik kepada Anies. Tapi sekarang dengan banjir, tanpa di-bully pun Anies turun dengan sendirinya," ujar Adi.

"Jadi bukan Formula E, bukan buzzer atau lem aibon ya. Hanya banjir yang mengalahkan Anies," imbuh dia.

Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X