Pers: Antara Medsos, Hoaks, dan Kurasi

Kompas.com - 14/02/2020, 07:00 WIB
Ilustrasi hoaks, hoax ShutterstockIlustrasi hoaks, hoax

Mengapa orang Indonesia begitu mudah menekan tombol share? Salah satu alasannya adalah karena tingkat kepercayaan mereka kepada sumber informasi.

Seperti yang tadi dikatakan, salah satu ciri masyarakat kolektif adalah memercayai opinion leader atau orang yang dianggap mewakili kebijaksanaan tertentu.

Baru-baru ini ada sebuah kasus ketika sebuah akun medsos atas nama seseorang yang dianggap pemuka agama menyebarkan foto yang menggambarkan sejumlah orang tergeletak di jalan raya sebuah kota.

Teks yang menyertai foto menyatakan bahwa kejadian yang ada dalam gambar terjadi di China sebagai akibat menyebarnya virus corona.

Konten medsos tersebut langsung mendapat reaksi dari orang-orang yang menjadi pengikut dari pemuka agama tersebut dan meyebarkannya.

Selang berapa lama, ditemukan foto yang sama, yang ternyata merupakan publikasi tahun 2014 tentang demonstrasi di Frankfurt, Jerman.

Artinya, konten medsos tadi jelas disinformasi, yang sayangnya sudah terlanjur disebarkan karena orang-orang begitu percaya kepada sumber informasi tersebut.

Dengan kecenderungan di atas, masyarakat Indonesia yang hidup secara kolektif dan kurang minat baca menjadi sangat rentan terpengaruh berita palsu.

Tidak heran apabila pada 2018, Kemkominfo sempat menyatakan bahwa Indonesia berada di peringkat ke-7 dunia sebagai negara yang paling mudah percaya hoaks.

Tentu saja ini bukan sebuah prestasi, melainkan kondisi yang memprihatinkan.

Peran pers di dunia medsos

Pers tentu saja memiliki peran yang mulia untuk memperjuangkan kebenaran dan mengembangkan opini masyarakat berdasarkan informasi yang akurat, seperti yang termaktub dalam Pasal 6 Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999.

Dalam melaksanakan perannya itu, dunia pers yang sedang bertransformasi menjadi media fully digitalized mau tidak mau harus berjuang untuk bersaing dengan media sosial.

Riset yang saya lakukan sepanjang tahun 2015-2019 memperlihatkan bahwa media sosial menjadi elemen penting dalam produksi berita saat ini.

Dalam riset tersebut, setidaknya ada tiga media online besar di Indonesia yang menyatakan, mereka harus berusaha keras untuk mempertahankan loyalitas khalayaknya yang sudah banyak beralih ke media sosial.

Alasan mereka beralih adalah karena secara digital konten di media sosial lebih mudah diakses.

Selain itu, mereka lebih mudah memilih informasi mana yang dirasa penting untuk diakses karena mereka melihat topik yang sedang banyak diperhatikan oleh orang-orang dalam jaringan pertemanannya.

Cara yang paling lazim dilakukan oleh media, termasuk ketiga media online di Indonesia tersebut, adalah dengan turut bergabung dalam komunitas media sosial, kemudian menyebarkan tautan berita disertai lead yang membuat penasaran melalui akun media sosialnya.

Dengan demikian, khalayak yang lebih memilih mencari informasi di media sosial akan tergiring untuk masuk ke website media yang bersangkutan dengan cara mengeklik tautan tersebut dan mendapatkan informasi yang telah terverifikasi kebenarannya.

Cara kedua yang banyak dilakukan adalah dengan memanfaatkan konten-konten media sosial yang berkaitan dengan kejadian yang sedang aktual untuk dijadikan bagian dari naskah berita.

Konten-konten yang relevan dikumpulkan, kemudian diseleksi, lalu dimasukkan ke dalam tubuh berita sebagai kutipan. Cara ini yang kemudian dikenal dengan nama kurasi konten atau jurnalisme kurasi.

Jurnalisme kurasi telah berkembang di dunia sejak 2008, di saat masyarakat yang tadinya merupakan khalayak pasif dari media massa mulai bertambah aktif untuk membuat cerita sendiri.

Tentu saja hal ini dimungkinkan berkat kehadiran berbagai macam aplikasi media sosial yang sangat mudah untuk dipergunakan.

Pada praktiknya, Guallar dan Levia-Aguilera (2013) membuat sebuah model untuk menggambarkan proses jurnalisme kurasi.

Model ini disebut 4S, yang menggambarkan proses kurasi konten dalam empat fase berurutan: searching (mencari), selecting (memilih), sense making (memberi konteks untuk membuatnya masuk akal), dan sharing (berbagi).

Dari keempat fase tersebut, fase berbagi adalah aktivitas yang sangat penting dalam praktik jurnalisme kurasi.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Update 30 Maret: 1.414 Kasus Positif Covid-19 di 31 Provinsi, Persentase Kematian 8,63 Persen

Update 30 Maret: 1.414 Kasus Positif Covid-19 di 31 Provinsi, Persentase Kematian 8,63 Persen

Nasional
Pembahasan Omnibus Law RUU Cipta Kerja di Tengah Wabah Virus Corona

Pembahasan Omnibus Law RUU Cipta Kerja di Tengah Wabah Virus Corona

Nasional
Bahaya Penyemprotan Disinfektan ke Tubuh Manusia, Tak Efektif Cegah Virus Corona

Bahaya Penyemprotan Disinfektan ke Tubuh Manusia, Tak Efektif Cegah Virus Corona

Nasional
Penundaan Pemungutan Suara Pilkada 2020 akibat Wabah Virus Corona

Penundaan Pemungutan Suara Pilkada 2020 akibat Wabah Virus Corona

Nasional
Tiga Dasar Hukum Pembatasan Sosial Skala Besar dan Darurat Sipil, Salah Satunya Perppu Era Soekarno

Tiga Dasar Hukum Pembatasan Sosial Skala Besar dan Darurat Sipil, Salah Satunya Perppu Era Soekarno

Nasional
Perkara Jiwasraya, Kejagung Periksa Pengelola Saham Benny Tjokro

Perkara Jiwasraya, Kejagung Periksa Pengelola Saham Benny Tjokro

Nasional
Pilkada 2020 Ditunda, DPR Minta Dananya Dialokasikan untuk Penanganan Covid-19

Pilkada 2020 Ditunda, DPR Minta Dananya Dialokasikan untuk Penanganan Covid-19

Nasional
Pilkada 2020 Ditunda, Bawaslu Minta Kepastian Pelaksanaan Pilkada Selanjutnya Dimasukkan dalam Perppu

Pilkada 2020 Ditunda, Bawaslu Minta Kepastian Pelaksanaan Pilkada Selanjutnya Dimasukkan dalam Perppu

Nasional
Pilkada 2020 Ditunda karena Covid-19, Presiden Segera Terbitkan Perppu

Pilkada 2020 Ditunda karena Covid-19, Presiden Segera Terbitkan Perppu

Nasional
Komisi II Usulkan Opsi Pilkada Dilanjut Paling Lambat Desember 2020

Komisi II Usulkan Opsi Pilkada Dilanjut Paling Lambat Desember 2020

Nasional
Pilkada 2020 Ditunda, Anggaran Direalokasi untuk Penanganan Corona

Pilkada 2020 Ditunda, Anggaran Direalokasi untuk Penanganan Corona

Nasional
Penundaan Hari Pencoblosan Pilkada 2020 Akan Diatur di Perppu

Penundaan Hari Pencoblosan Pilkada 2020 Akan Diatur di Perppu

Nasional
KPU: Tampaknya Pilkada 2020 Tak Bisa Dilaksanakan Tahun 2020

KPU: Tampaknya Pilkada 2020 Tak Bisa Dilaksanakan Tahun 2020

Nasional
Pilkada 2020 Ditunda, Ini Tiga Opsi Terkait Pelaksanaannya

Pilkada 2020 Ditunda, Ini Tiga Opsi Terkait Pelaksanaannya

Nasional
Pemerintah dan DPR Sepakat Tunda Pilkada 2020 di Tengah Wabah Covid-19

Pemerintah dan DPR Sepakat Tunda Pilkada 2020 di Tengah Wabah Covid-19

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X