Pers: Antara Medsos, Hoaks, dan Kurasi

Kompas.com - 14/02/2020, 07:00 WIB
Ilustrasi hoaks, hoax ShutterstockIlustrasi hoaks, hoax

DUNIA pers dunia sedang mengalami transformasi yang signifikan sebagai akibat kemajuan teknologi dalam jaringan (online) yang berujung pada menurunnya minat orang membaca surat kabar cetak.

Sebuah artikel karya Alexandra Hudson yang dipublikasikan oleh Quillette pada Bulan Februari 2020 menyebutkan, perusahaan media lokal yang masih memakai publikasi tradisional tercetak sedang mencari model baru sebagai alternatif penyampaian informasi kepada publik.

Model tersebut melibatkan penerbitan berkala secara online sebagai pengganti percetakan manual, di samping masalah manajemen redaksional lainnya.

Sementara itu, saat ini banyak tokoh-tokoh yang menyatakan untuk meninggalkan media sosial dan kembali mencari informasi di website media massa konvensional.

Sebut saja Tony Fernandez, CEO Air Asia, yang memutuskan menutup akun media sosialnya di tahun 2020 ini. Juga, penulis Stephen King dan CEO Tesla Elon Musk melakukan hal yang sama.

Bahkan, hal itu terjadi pula pada Brian Acton yang dikenal sebagai eks CEO WhatsApp, layanan pesan yang justru berafiliasi dengan media sosial terpopuler saat ini, yaitu Facebook.

Acton mungkin punya alasan sendiri di balik penutupan akunnya yang berhubungan dengan sentimen bisnisnya dengan Facebook.

Dapatkan informasi, inspirasi dan insight di email kamu.
Daftarkan email

Namun, secara garis besar fenomena di atas mungkin terjadi karena orang-orang tersebut, yang memang hidup dalam masyarakat individualis dengan budaya literasi yang tinggi, mulai jengah dengan banyaknya beredar informasi di media sosial yang tidak dapat diverifikasi kebenarannya.

Sementara masyarakat yang literate memiliki kecenderungan untuk mencari informasi yang detail dan terdukung oleh data yang krebibel. Mereka juga sangat sensitif dengan ketidakakuratan berita yang mereka dapatkan.

Situasi ini menjadi menarik apabila ditarik ke kondisi di Indonesia. Statistik penggunaan media digital dari We are Social yang dipublikasikan Hootsuite di awal 2020 menunjukkan penggunaan media sosial pada 2019 justru mengalami peningkatan sebesar 15 persen.

Pengguna aktif media sosial tercatat mencapai sekitar 150 juta orang atau 57 persen dari jumlah total populasi Indonesia.

Artinya, media sosial di Indonesia masih banyak diminati, terlepas dari banyaknya disinformasi dan hoaks yang mudah tersebar di dalamnya.

Hal ini mungkin terjadi karena media sosial di Indonesia seakan-akan menjadi ekstensi dari percakapan antar pribadi yang informal.

Budaya oral dan kolektivisme di Indonesia

Dari hasil studi yang saya lakukan sejak 2015, didapat kenyataan bahwa rata-rata orang Indonesia memiliki tingkat kebiasaan membaca dan menelusuri informasi yang sangat rendah.

Rata-rata orang Indonesia mudah terpengaruh oleh pesan-pesan sensasional tanpa membaca lebih jauh informasi tersebut. Hal itu kemungkinan disebabkan budaya bangsa Indonesia yang masih dekat kepada orality.

Merujuk kepada pengertian orality atau oral culture dari Walter Ong, budaya ini lebih menyukai bentuk komunikasi lisan, terutama yang melibatkan opinion leader atau orang yang dianggap sesepuh, daripada membaca pesan dalam bentuk tulisan.

Kalaupun ada pesan tulisan yang digunakan, biasanya ditulis dalam bentuk bahasa obrolan, bukan formal apalagi ilmiah.

Selain itu, kebiasaan berbagi masalah keseharian dalam obrolan menunjukkan betapa bangsa Indonesia hidup dalam masyarakat kolektif.

Berbagai penelitian sosiologi dan antropologi menunjukkan bahwa Indonesia masih merupakan bangsa dengan budaya kolektivisme.

Hofstede Insights, sebuah lembaga penelitian yang mendedikasikan diri untuk menggunakan model 6 dimensions of national culture dari Geert Hofstede, menemukan bahwa skor untuk orang-orang Indonesia jauh di bawah standar nilai untuk kategori bangsa individualis.

Artinya, dapat dideteksi bahwa dalam kehidupan keseharian, bangsa Indonesia secara garis besar berada dalam kelompok kolektivis.

Ciri-ciri yang khas dari kelompok ini adalah kebiasaan untuk berkomunikasi dalam kelompok secara informal dan menjaga harmoni.

Ini yang menyebabkan bangsa Indonesia masih menyukai berkomunikasi via media sosial.

Statistik menunjukkan rata-rata orang Indonesia menghabiskan waktu 3 jam 26 menit dalam sehari untuk berselancar di media sosial.

Artinya, orang Indonesia masih sangat rentan untuk diterpa berita-berita mengandung disinformasi ataupun hoaks yang secara terus menerus diunggah oleh orang-orang tertentu dan disebarkan melalui fasilitas share.

Halaman:


Rekomendasi untuk anda
25th

Ada hadiah uang elektronik senilai total Rp 6.000.000 dan 1 unit smartphone.

Tulis komentarmu dengan tagar #JernihBerkomentar.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

[POPULER NASIONAL] Respons Budi Arie Usai Dilaporkan ke Polisi | Kasus Covid-19 Bertambah 37.284

[POPULER NASIONAL] Respons Budi Arie Usai Dilaporkan ke Polisi | Kasus Covid-19 Bertambah 37.284

Nasional
Tersangka Korupsi Asabri Ilham Wardhana Siregar Meninggal

Tersangka Korupsi Asabri Ilham Wardhana Siregar Meninggal

Nasional
UPDATE: Total 3,4 Juta Kasus Covid-19 di Indonesia, Angka Kematian Masih Tinggi

UPDATE: Total 3,4 Juta Kasus Covid-19 di Indonesia, Angka Kematian Masih Tinggi

Nasional
Obat Regkirona Diklaim Bisa Turunkan Risiko Kematian Pasien Covid-19 hingga 72 Persen

Obat Regkirona Diklaim Bisa Turunkan Risiko Kematian Pasien Covid-19 hingga 72 Persen

Nasional
Dorong Produktivitas Milenial, Kemnaker Gelar Ngopi Daring Nasional

Dorong Produktivitas Milenial, Kemnaker Gelar Ngopi Daring Nasional

Nasional
Kemensos Salurkan 95 Persen Bansos Tunai di DKI Jakarta

Kemensos Salurkan 95 Persen Bansos Tunai di DKI Jakarta

Nasional
Jokowi Kirim 5.000 Paket Bansos ke Sorong Usai Warga Geruduk Kantor Dinsos

Jokowi Kirim 5.000 Paket Bansos ke Sorong Usai Warga Geruduk Kantor Dinsos

Nasional
Sariamin Ismail, Pujangga Perempuan Pertama Indonesia Pemilik Banyak Nama Samaran yang Jadi Google Doodle 31 Juli 2021

Sariamin Ismail, Pujangga Perempuan Pertama Indonesia Pemilik Banyak Nama Samaran yang Jadi Google Doodle 31 Juli 2021

Nasional
Ketua DPR Minta Vaksinasi Covid-19 Merata di Seluruh Indonesia

Ketua DPR Minta Vaksinasi Covid-19 Merata di Seluruh Indonesia

Nasional
Mahfud: Permasalahan Bansos Sudah Lama Terjadi, Baru Terasa Saat Pandemi

Mahfud: Permasalahan Bansos Sudah Lama Terjadi, Baru Terasa Saat Pandemi

Nasional
Jubir PAN Minta Kader Penggugat Zulkifli Hasan Rp 100 Miliar Introspeksi Diri

Jubir PAN Minta Kader Penggugat Zulkifli Hasan Rp 100 Miliar Introspeksi Diri

Nasional
UPDATE 31 Juli: Ada 278.618 Kasus Suspek Covid-19 di Indonesia

UPDATE 31 Juli: Ada 278.618 Kasus Suspek Covid-19 di Indonesia

Nasional
Rakornas Virtual, PPP Umumkan Pembentukan Relawan Vaksin Covid-19

Rakornas Virtual, PPP Umumkan Pembentukan Relawan Vaksin Covid-19

Nasional
UPDATE: Sebaran 1.808 Kasus Kematian Covid-19, Jawa Timur Tertinggi

UPDATE: Sebaran 1.808 Kasus Kematian Covid-19, Jawa Timur Tertinggi

Nasional
Di Rakornas, Ketum PPP Minta Seluruh Kader Salurkan Bansos hingga Fasilitasi Warga Positif Covid-19

Di Rakornas, Ketum PPP Minta Seluruh Kader Salurkan Bansos hingga Fasilitasi Warga Positif Covid-19

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X