Jejak Orang Tionghoa dalam Penyebaran Islam di Pulau Jawa

Kompas.com - 25/01/2020, 13:29 WIB
Suasana Kompleks Makam Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah, Cirebon, Jawa Barat, Selasa (1/7/2014). Sebagai salah satu anggota Walisongo, Sunan Gunung Jati memiliki peran penting dalam menyebarkan agama Islam di tanah Jawa. Kristianto PurnomoSuasana Kompleks Makam Sunan Gunung Jati atau Syarif Hidayatullah, Cirebon, Jawa Barat, Selasa (1/7/2014). Sebagai salah satu anggota Walisongo, Sunan Gunung Jati memiliki peran penting dalam menyebarkan agama Islam di tanah Jawa.

JAKARTA, KOMPAS.com - Penyebaran agama Islam di Indonesia, khususnya di Pulau Jawa, rupanya tidak bisa dilepaskan oleh peran orang-orang Tionghoa.

Dikutip dari buku "Tionghoa dalam Pusaran Politik" (2003) yang ditulis Benny G Setiono, jejak orang Tionghoa dalam penyebaran Islam terbongkar pada 1928 ketika tulisan-tulisan Tionghoa yang tersimpan di Kelenteng Sam Po Kong dirampas Residen Poortman.

Kala itu, Residen Poortman merampas 3 gerobak berbagai catatan berbahasa Tionghoa yang menceritakan peran orang Tionghoa dalam menyebarkan agama Islam dan membentuk kerajaan-kerajaan Islam di Jawa.

Baca juga: Kisah Rumah Tua Pondok Cina, Jejak Etnis Tionghoa di Depok

Salah satu kerajaan yang dimaksud adalah Kerajaan Islam Demak yang dirajai oleh Raden Patah alias Jin Bun. Kelak, Kerajaan Islam Demak ini menjadi cikal-bakal Kerajaan Mataram.

Dalam bukunya, Benny menuliskan bahwa beberapa Walisongo juga mempunyai darah Tionghoa. Di antaranya adalah Sunan Ngampel yang bernama asli Bong Swi Hoo alias Raden Rachmat.

Bong Swi Hoo disebut berasal dari Yunnan dan cucu penguasa tinggi di Campa, Bong Tak Keng. Bong Swi Hoo datang ke Jawa tanpa istri pada tahun 1447.

Ia kemudian menikah dengan Ni Gede Manila, anak perempuan Gan Eng Cu, seorang kapten Tionghoa yang berkedudukan berkedudukan di Tuban.

 

Baca juga: Ketika Masyarakat Tionghoa di Wihara Dharma Bakti Berdoa Lebih Lama pada Tahun Tikus Logam

Bong Swi Hoo dan Ni Gede Manila kemudian mempunyai seorang anak bernama Bong Ang yang kelak dikenal sebagai Sunan Bonang.

Sunan Ngampel dan Sunan Bonang juga mempunyai keterkaitan dengan Jin Bun. Pada seorang kapten Tionghoa Gan Si Cang memohon kepada Bupati Semarang Kin San untuk ikut menyelesaikan pembangunan Masjid Agung Demak.

Atas persetujuan Jin Bun, Gan Si Cang pun akhirnya menyelesaikan pembangunan Masjid Agung Demak dibantu para tukang kayu dari galangan kapal di Semarang yang dipimpinnya.

Baca juga: Menelusuri Jejak Etnis Tionghoa di Kalimantan Timur, Berawal dari Menjahit Layar

Gan Si Cang tidak lain adalah Sunan Kali Jaga atau Raden Said. Ia merupakan anak Gan Eng Cu alias Arya Teja yang merupakan mertua Sunan Ngampel.

Jejak orang Tionghoa juga tercatat di Kesultanan Cirebon. Sunan Gunung Jati (Syarif Hidayat Fatahillah atau Faletehan) mendirikan kerajaan itu pada 1552 bersama seorang Tionghoa Islam Haji Tan Aeng Hoat alias Maulana Ifdil Hanafi.

Sunan Gunung Jati pun disebut-sebut sebagai Toh A Bo (Pangeran Timur), putra Pangeran Trenggana (Tung Ka Lo) yang merupakan anak Jin Bun (Raden Patah).

Baca juga: Peran Masyarakat Tionghoa dalam Pertempuran 10 November: Ikut Angkat Senjata hingga Dirikan Palang Biru

Namun, Benny menyebut asal-usul Sunan Gunung Jati masih menjadi perdebatan karena sejarah Sunan Gunung Jati masih mengacu pendapat Prof Husain Djajadiningrat dalam bukunya yang menyatakan Sunan Gunung Jati adalah Falatehan, seorang ulama asal Pasai.

Jejak Tionghoa di Masjid Agung Demak

Selain dari kisah para Walisongo, jejak Tionghoa dalam persebaran Islam di Tanah Jawa juga terlihat jelas dari arsitektur masjid-masjid kuno di Pntai Utara Jawa peninggalan para Walisongo.

Masjid Agung Demak dan Makam Sunan Gunung jati di Cirebon misalnya, tembok-tembok masjid di sana banyak ditempeli piring porselin Tiongkok dari zaman Dinasti Ming, terdapat pula guci-guci antik.

Di Masjid Agung Demak atau Masjid Gelagah Wangi, terdapat ornamen kura-kura yang menunjukkan tahun berdirinya masjid tersebut.

Benny menuliskan, ornamen kura-kura itu merupakan bukti peran kebudayaan Tionghoa karena kura-kura adalah binatang yang banyak terdapat di mitologi Tionghoa dan tidak umum dalam kebudayaan Islam maupun Hindu dan Buddha.

Baca juga: Cerita Singkat tentang Masjid Lautze yang Dibangun oleh Warga Keturunan Tionghoa

Kentalnya peran orang Tionghoa dalam pembangunan Masjid Agung Demak juga terlihat dari tiang soko gurunya yang terbuat dari potongan kayu yang disusun secara akurat emnggunakan teknologi pembuatan Jung, kapal niaga Tiongkok dari Dinasti Ming.

Padahal, ciri khas arsitektur Hindu atau Buddha adalah dengan teknologi batu yang disusun-susun selayaknya candi-candi yang banyak terdapat di Jawa.

Seperti telah diungkap sebelumnya, pembangunan Masjid Agung Demak tak terlepas dari peran Gan Si Cang alias Sunan Kali Jaga.

Menurut Babad Tanah Jawi, Masjid Agung Demak itu dibangun oleh Sunan Kali Jaga bersama Walisongo lainnya dengan menggunakan kesaktiannya sehingga masji terkenal itu dapat selesai dalam waktu semalam.

Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X