TNI AL: Sejak 2016 hingga Akhir 2019 Tak Ada Kapal Nelayan China di Natuna

Kompas.com - 24/01/2020, 19:07 WIB
Panglima Komando Armada I TNI AL Laksamana Muda Muhammad Ali dalam diskusi di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (24/1/2020). KOMPAS.com/Dian Erika Panglima Komando Armada I TNI AL Laksamana Muda Muhammad Ali dalam diskusi di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (24/1/2020).

JAKARTA, KOMPAS.com - Panglima Komando Armada I TNI AL Laksamana Muda Muhammad Ali mengatakan, kapal-kapal nelayan China sebenarnya sudah tidak beroperasi di perairan Natuna sejak 2016.

Namun, kapal-kapal nelayan China kembali ke perairan tersebut pada akhir 2019.

"Dari 2016 itu sebenarnya sudah tidak ada lagi kapal nelayan China. Lalu pada 2019 akhir itu kok tiba-tiba ada. Jadi kita masih menganalisa kenapa?," ujar Ali dalam diskusi bertajuk "Konflik Natuna dan Pasang Surut Hubungan Indonesia dengan China" di Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Jumat (24/1/2020).

Baca juga: Bertemu Pimpinan MPR, Dubes Xiao Qian Ungkap Penyebab Nelayan China Melaut di Natuna

Pihaknya menduga, salah satu faktornya adalah pernyataan Malaysia tentang perpanjangan landas kontinen (extended continental shelf) yang akan kembali dibawa ke Mahkamah Internasional.

"Sehingga China mungkin marah, " lanjut Ali.

Dugaan ini, kata dia, diperkuat dengan kondisi di lapangan.

Ali mengungkapkan kapal-kapal nelayan China sebenarnya lebih banyak berada di sebelah timur laut Natuna mengarah ke Malaysia.

"Pada saat kita (Indonesia) mengusirnya, akhirnya masuknya ke wilayah perairan Malaysia. Jika demikian kita biarkan sebab sudah menjadi urusan Malaysia. Itu situasi yang terjadi," tambahnya.

Baca juga: Dubes China Sebut Tak Ada Persoalan dengan Indonesia Terkait Teritorial Natuna

Diberitakan sebelumnya, sejumlah kapal ikan China diketahui memasuki perairan Natuna, Kepulauan Riau pada 19 Desember 2019.

Kapal-kapal China yang masuk dinyatakan telah melanggar ZEE Indonesia dan melakukan kegiatan illegal, unreported, and unregulated fishing (IUUF).

Selain itu, Coast Guard China juga dinyatakan melanggar kedaulatan di perairan Natuna karena China mengklaim sepihak.


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X