Lubang Peluru di Tubuh Wawan, Aktivis Tim Relawan untuk Kemanusiaan

Kompas.com - 24/01/2020, 16:07 WIB
Maria Katarina Sumarsih atau biasa disapa Sumarsih, orangtua Wawan, mahasiswa yang menjadi korban tragedi Semanggi I, saat aksi Kamisan ke-453 di depan Istana Merdeka, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Kamis (4/8/2016). Dalam aksi itu mereka menuntut pemerintah menyelesaikan kasus-kasus pelangaran hak asasi manusia di masa lalu dan mengkritisi pelantikan Wiranto sebagai Menko Polhukam karena dianggap bertanggung jawab atas sejumlah kasus pelanggaran HAM di Indonesia. KOMPAS.com / GARRY ANDREW LOTULUNGMaria Katarina Sumarsih atau biasa disapa Sumarsih, orangtua Wawan, mahasiswa yang menjadi korban tragedi Semanggi I, saat aksi Kamisan ke-453 di depan Istana Merdeka, Jalan Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, Kamis (4/8/2016). Dalam aksi itu mereka menuntut pemerintah menyelesaikan kasus-kasus pelangaran hak asasi manusia di masa lalu dan mengkritisi pelantikan Wiranto sebagai Menko Polhukam karena dianggap bertanggung jawab atas sejumlah kasus pelanggaran HAM di Indonesia.

Sebuah pintu ruangan di basement kemudian dibuka. Sumarsih bertemu Wawan.

Ia melihat Wawan ada di keranda terbuka dengan kedua tangan dilipat dan dua jempol kaki kanan dan kiri diikat kain putih. Wawan memakai celana pendek dan kaus putih.

Sumarsih meraba seluruh tubuh anak lelakinya itu. Ada sebuah lubang di kausnya. Seperti lubang sundutan rokok. Di sekeliling lubang itu tampak warna cokelat kemerahan.

Sumarsih membuka kaus Wawan. Di dada sebelah kiri, tampak sebuah lubang terbakar dengan warna kecokelatan.

"Wan, kamu lapar..., oh, Wan, kamu ditembak," ujar Sumarsih mengenang peristiwa itu.

Peluru tajam di tubuh Wawan

Sumarsih mengiyakan ketika jenazah Wawan diminta untuk diotopsi. Wawan diotopsi di RSCM oleh dr. Budi Sampurno.

Sambil menunjukkan plastik kecil, dr. Budi memberikan keterangan hasil otopsi.

"Wawan ditembak peluru tajam. Baru kali ini saya melihat jenis peluru seperti ini," kata Sumarsih mengulang keterangan dr. Budi.

Baca juga: Telepon Terakhir Wawan dan Peluru Tajam di Atma Jaya...

Sumarsih mengatakan plastik berisi peluru itu sempat disodorkan kepada dirinya. Namun, ia menolak memegangnya.

"Enggak Dok, itu kan yang membunuh anak saya," ujarnya.

Sumarsih hanya berpesan kepada dr. Budi agar menyampaikan keterangan sejujur-jujurnya kepada pihak lain jika diminta.

"Saya mohon agar dokter juga memberikan keterangan yang sama apabila nanti diperlukan," kata Sumarsih.

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

komentar di artikel lainnya
Close Ads X