DPR Segera Tindaklanjuti Putusan MK soal Eks Koruptor Maju Pilkada

Kompas.com - 11/12/2019, 18:48 WIB
Politikus PDI Perjuangan Arteria Dahlan KOMPAS.com/DYLAN APRIALDO RACHMANPolitikus PDI Perjuangan Arteria Dahlan

JAKARTA, KOMPAS.com - Anggota Komisi III DPR Arteria Dahlan mengatakan, pihaknya akan menindaklanjuti putusan Mahkamah Konstitusi ( MK) perihal pencalonan mantan terpidana korupsi dalam pemilihan kepala daerah ( pilkada).

Tindak lanjut tersebut dilakukan melalui penyesuaian peraturan perundang-undangan. 

"Ya DPR juga pada prinsipnya akan menyesuaikan," ujar Arteria setelah mengisi diskusi di bilangan Cikini, Jakarta Pusat, Rabu (11/12/2019).

"Karena berdasarkan UU Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundangan beserta perubahannya (UU Nomor 15 Tahun 2019), bahwa apa pun soal putusan MK terkait norma UU akan masuk dalam daftar komulatif terbuka yang akan kita sesuaikan," ucap dia.

Baca juga: MK Beri Jeda 5 Tahun Eks Koruptor Maju Pilkada, Golkar: Ya Kita Ikuti  

Arteria mengatakan, pihaknya mengapresiasi putusan MK yang dibacakan pada hari ini. Ia berharap putusan ini bisa memenuhi rasa keadilan masyarakat.

"Memang dari beberapa pertimbangan hukum, baik ahli hukum maupun teori hukum, putusan ini dirasakan penuh dengan perdebatan, tetapi MK telah memutus maka saatnya kita hormati dan saatnya kita juga tunduk pada putusan MK," kata dia. 

Sebelumnya diberitakan, MK menerima sebagian permohonan uji materi pasal pencalonan mantan narapidana sebagai kepala daerah yang dimuat dalam Pasal 7 Ayat (2) huruf g Undang-Undang Nomor 10 Tahun 2016 tentang Pilkada.

"Mengabulkan permohonan para pemohon untuk sebagian," kata Hakim Ketua MK Anwar Usman saat membacakan putusan dalam sidang yang digelar di Gedung MK, Jakarta Pusat, Rabu.

Mahkamah menyatakan, Pasal 7 Ayat (2) huruf g UU Pilkada bertentangan dengan Undang Undang Dasar 1945. Pasal tersebut juga dinyatakan tidak mempunyai kekuatan hukum mengikat.

Dalam Pasal 7 Ayat (2) huruf g UU Pilkada disebutkan, salah satu syarat seseorang dapat mencalonkan diri sebagai kepala daerah adalah tidak pernah sebagai terpidana berdasarkan putusan pengadilan yang telah memperoleh kekuatan hukum tetap atau bagi mantan terpidana telah secara terbuka dan jujur mengemukakan kepada publik bahwa yang bersangkutan mantan terpidana.

Oleh karena MK mengabulkan sebagian permohonan pemohon, bunyi pasal tersebut menjadi berubah. Setidaknya, ada empat hal yang diatur dalam pasal itu.

Baca juga: MK Beri Jeda 5 Tahun untuk Eks Koruptor Maju Pilkada, Perludem Usulkan 2 Hal Ini

Pertama, seseorang yang dapat mencalonkan diri sebagai kepala daerah tidak pernah diancam dengan hukuman pidana penjara atau lebih, kecuali tindak pidana kealpaan dan tindak pidana politik.

Kedua, mantan narapidana dapat mencalonkan diri sebagai kepala daerah hanya apabila yang bersangkutan telah melewati jangka waktu 5 tahun setelah selesai menjalani pidana penjara.

Ketiga, seorang calon kepala daerah yang merupakan mantan narapidana harus mengumumkan latar belakang dirinya sebagai seoranh mantan napi.

Keempat, yang bersangkutan bukan merupakan pelaku kejahatan yang berulang.


Menangkan e-Voucher Belanja total jutaan rupiah. Kumpulkan poin di Kuis Hoaks/Fakta. *S&K berlaku
Ikut


Dapatkan Voucher Belanja jutaan rupiah, dengan #JernihBerkomentar di bawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X