Presiden Jokowi Ingin Petani dan Nelayan Fokus ke Pascaproduksi

Kompas.com - 10/12/2019, 16:51 WIB
Presiden Joko Widodo tiba untuk memimpin rapat terbatas di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Rabu (23/1/2019). Ratas itu membahas RUU tentang Minyak dan Gas Bumi. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/wsj. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho GumayPresiden Joko Widodo tiba untuk memimpin rapat terbatas di Kantor Kepresidenan, Jakarta, Rabu (23/1/2019). Ratas itu membahas RUU tentang Minyak dan Gas Bumi. ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay/wsj.
Penulis Ihsanuddin
|
Editor Krisiandi

JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Joko Widodo ingin pertanian dan perikanan Indonesia tidak hanya fokus ke aspek produksi (on farm) tapi juga aspek pascaproduksi (off farm).

Hal ini disampaikan Jokowi saat memimpin rapat terbatas membahas akselerasi penguatan ekonomi sektor pertanian dan perikanan di Kantor Presiden, Jakarta, Selasa (10/12/2019).

Jokowi mengatakan, pertanian dan perikanan Indonesia selama ini hanya fokus pada upaya produksi, namun tidak pernah menyentuh aspek pasca produksi. Oleh karena itu Jokowi ingin mengubah hal ini.

Baca juga: Nelayan Kepiting Tewas Dimakan Buaya, Badan Korban Tinggal Separuh


" Petani dan nelayan perlu keluar dari aktivitas on farm menuju ke off farm dengan memberikan nilai tambah aktivitas usaha tani dan perikanannya melalui pengolahan produk pertanian dan perikanan maupun pengembangan usaha berbasis pertanian dan perikanan," kata Jokowi.

Selain itu, Jokowi menyebut petani dan nelayan perlu skema pembiayaan dan pendampingan. Dari sisi pembiayaan, Indonesia telah memiliki skema kredit usaha rakyat (KUR) yang plafon anggarannya mencapai Rp190 triliun dengan bunga 6 persen pada 2020.

"Saya sudah perintahkan KUR agar didesain dengan skema-skema khusus per cluster sehingga bisa sesuai dengan kebutuhan grace period produksi pasar pertanian maupun perikanan," kata Jokowi.

Namun menurut dia, pembiayaan petani dan nelayan tetap perlu diikuti dengan pendampingan dalam pengelolaan keuangan, pembuatan kemasan, branding serta pemasaran.

Jokowi juga mengingatkan, pemerintah perlu mulai mendorong petani dan nelayan yang selama ini bergerak dalam skala ekonomi kecil-kecilan untuk bergabung serta berkolaborasi dalam kelompok-kelompok atau korporasi besar sehingga memiliki nilai skala ekonomi yang juga besar.

Baca juga: Kapal Nelayan Meledak, Nakhoda Menderita Luka Bakar di Sekujur Tubuh

"Sehingga dalam korporasi nanti petani dan nelayan bisa lebih efektif dalam mendapatkan bahan baku, mengakses modal kerja dan investasi dan melakukan upaya untuk memasarkan produk mereka agar bisa masuk ke supply chain nasional maupun global," kata mantan gubernur DKI Jakarta ini.

Jokowi mengingatkan, sektor perikanan dan pertanian adalah sektor yang sangat penting dan strategis.

Sektor ini bukan hanya menjadi penyedia bahan pangan bagi lebih dari 260 juta penduduk Indonesia, tapi juga mampu menampung tenaga kerja yang besar.

Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X