Profil Cak Kardi, Wajah Lama yang Dipilih Kembali Jadi Stafsus Jokowi

Kompas.com - 21/11/2019, 18:44 WIB
Sukardi Rinakit KOMPAS/PRIYOMBODOSukardi Rinakit

JAKARTA, KOMPAS.com - Presiden Joko Widodo kembali menunjuk Sukardi Rinakit sebagai staf khusus presiden.

Sukardi merupakan salah satu staf khusus Jokowi pada pemerintahan periode 2014-2019 yang masih dipertahankan hingga saat ini.

Wajah lama selain Sukardi, ada pula Diaz Hendropriyono dan Ari Dwipayana.

Baca juga: Politikus PDI-P dan PSI Ini Juga Ditunjuk Jadi Stafsus Baru Jokowi

Ketiganya akan berkolaborasi dengan sembilan staf khusus presiden yang baru ditunjuk Presiden Jokowi.

Sebanyak tujuh dari sembilan itu berlatar belakang milenial

Sebelum masuk Istana, Sukardi atau yang akrab disapa Cak Kardi ini lebih dikenal sebagai seorang pengamat politik, budayawan sekaligus penulis buku.

Dia lahir di Madiun, 5 Juni 1963. Sukardi menyelesaikan pendidikan sarjana di Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Indonesia.

Baca juga: Billy Papua, Mahasiswa Oxford Anak Penjual Kue yang Jadi Stafsus Jokowi

Kemudian, dia melanjutkan pendidikan S2 dan S3 di National University of Singapore.

Selesai menempuh pendidikan, Sukardi sempat menjadi staf peneliti di Center for strategic and International Studies ( CSIS).

Ia kemudian menjabat sebagai Direktur Eksekutif Soegeng Sarjadi Syndicate (SSS).

Cak Kardi kerap kali muncul sebagai pembicara di berbagai forum seminar, diskusi, wawancara di televisi sebagai pengamat politik.

Selain itu, dia juga mengerjakan proyek penelitian dan juga kerap menulis di media.

Baca juga: Stafsus Milenial Tak Mesti Full Time Dampingi Presiden

Pada pilpres 2014, Sukardi menjadi salah satu tim sukses Jokowi-Jusuf Kalla. Ia berperan sebagai penasihat politik Jokowi.

Setelah Jokowi-JK menjabat, Sukardi pun dipercaya masuk Istana. Ia menjadi staf khusus presiden bidang politik dan pers.

Tugas Sukardi adalah membuat teks pidato untuk Presiden Jokowi.

Masuk ke dalam lingkar kekuasaan, Sukardi tercatat pernah membuat blunder lantaran menulis bahwa Proklamator Soekarno lahir di blitar dalam pidato Presiden.

Baca juga: Andi Taufan, Milenial Peduli UMKM di Desa yang jadi Stafsus Jokowi

Padahal Soekarno lahir di Surabaya. Sukardi pun meminta maaf atas kekeliruan itu.

"Kesalahan tersebut sepenuhnya adalah kekeliruan saya dan menjadi tanggung jawab saya," ujar Sukardi dalam pernyataan pers yang diterima pada Kamis (4/6/2015).

Meski demikian, peristiwa itu berlalu cepat dan Sukardi dapat menjalankan tugasnya dengan baik hingga akhirnya ia dipercaya kembali untuk menjadi staf khusus Jokowi. 

 



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

KPK Kembangkan Kasus Suap Pengesahan RAPBD Jambi

KPK Kembangkan Kasus Suap Pengesahan RAPBD Jambi

Nasional
Megawati: 270 Calon Kepala Daerah Bukan Saya yang Pilih, Semua Berembuk

Megawati: 270 Calon Kepala Daerah Bukan Saya yang Pilih, Semua Berembuk

Nasional
Megawati: Ngapain Demo kalau Merusak, Mending Bisa kalau Disuruh Ganti

Megawati: Ngapain Demo kalau Merusak, Mending Bisa kalau Disuruh Ganti

Nasional
Penyuap Nurhadi Ditangkap, MAKI Kini Tagih KPK Tangkap Harun Masiku

Penyuap Nurhadi Ditangkap, MAKI Kini Tagih KPK Tangkap Harun Masiku

Nasional
Ingatkan Kader Milenial Tak Cuma Mejeng, Megawati: Cari Makan Bisa di Tempat Lain

Ingatkan Kader Milenial Tak Cuma Mejeng, Megawati: Cari Makan Bisa di Tempat Lain

Nasional
Ingatkan Kader Mulai Program Tanaman Pendamping Beras, Mega: Ini karena Saya Cinta Rakyat

Ingatkan Kader Mulai Program Tanaman Pendamping Beras, Mega: Ini karena Saya Cinta Rakyat

Nasional
Mahfud Minta Masyarakat Tak Anarkistis Tanggapi Pernyataan Presiden Perancis

Mahfud Minta Masyarakat Tak Anarkistis Tanggapi Pernyataan Presiden Perancis

Nasional
Tegaskan Pernyataan, Megawati Kini Bertanya Berapa Banyak Anak Muda Tolong Rakyat

Tegaskan Pernyataan, Megawati Kini Bertanya Berapa Banyak Anak Muda Tolong Rakyat

Nasional
Kurang dari Sebulan, Jumlah Pasien RSD Wisma Atlet Turun Lebih dari 50 Persen

Kurang dari Sebulan, Jumlah Pasien RSD Wisma Atlet Turun Lebih dari 50 Persen

Nasional
UPDATE: 3.143 Kasus Baru Covid-19 di 30 Provinsi, DKI Jakarta Tertinggi dengan 750

UPDATE: 3.143 Kasus Baru Covid-19 di 30 Provinsi, DKI Jakarta Tertinggi dengan 750

Nasional
 Wiku Adisasmito: Penanganan Covid-19 di Indonesia Lebih Baik dari Rata-rata Dunia

Wiku Adisasmito: Penanganan Covid-19 di Indonesia Lebih Baik dari Rata-rata Dunia

Nasional
UPDATE 31 Oktober: Pemerintah Periksa 29.001 Spesimen Covid-19 dalam Sehari

UPDATE 31 Oktober: Pemerintah Periksa 29.001 Spesimen Covid-19 dalam Sehari

Nasional
UPDATE 31 Oktober: Ada 67.900 Suspek Terkait Covid-19 di Indonesia

UPDATE 31 Oktober: Ada 67.900 Suspek Terkait Covid-19 di Indonesia

Nasional
Jokowi Kecam Aksi Teror dan Kekerasan di Paris dan Nice

Jokowi Kecam Aksi Teror dan Kekerasan di Paris dan Nice

Nasional
Peringati HUT ke-6, PSI Akan Luncurkan Aplikasi yang Dijanjikan pada Pemilu 2019

Peringati HUT ke-6, PSI Akan Luncurkan Aplikasi yang Dijanjikan pada Pemilu 2019

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X