Cerita Puan Jadi Menteri Jokowi, Blusukan Sampai "Rontok" hingga Sungkan Cuti

Kompas.com - 21/11/2019, 14:35 WIB
Ketua DPR RI Puan Maharani di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (28/10/2019). KOMPAS.com/HaryantipuspasariKetua DPR RI Puan Maharani di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (28/10/2019).

JAKARTA, KOMPAS.com - Ketua DPR Puan Maharani menceritakan pengalamannya saat menjadi Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) di kabinet Presiden Joko Widodo butuh tenaga ekstra.

Hal itu diceritakan Puan saat ditanya Ketua Umum Kamar Dagang dan Industri Indonesia (Kadin) Rosan P Roeslani soal kenangannya ketika jadi menteri Jokowi di periode sebelumnya.

"Kalau menteri, apalagi Menko itu, ikut kegiatan Presiden bisa dari bangun pagi sampai mau masuk kamar tidur lagi," kata Puan dalam Kadin Talks di Menara Kadin, Jakarta, Kamis (21/11/2019).

Puan mengatakan, Jokowi kerapkali blusukan ke daerah-daerah yang sulit diakses. Ia mengaku suka minta izin ke Jokowi untuk ikut meski terkadang menteri lain yang sebenarnya diajak Jokowi untuk berangkat.

Baca juga: Cerita Puan Maharani soal Trik Raih Suara Terbanyak Saat Pemilu 2019

Sebab, Puan juga ingin menggali lebih jauh masalah-masalah yang berkaitan dengan tugas pokok dan fungsinya selaku Menko PMK.

"Saya bilang, 'boleh ikut mendampingi Bapak, enggak?'. Beliau bilang, 'Loh, ngapain, Mbak, tempatnya susah'. Saya bilang. 'kalau enggak ikut, enggak mungkin saya sampai di situ.' Jadi saya mau ikut. Beliau bilang, 'Oh ya silakan'," kata Puan.

Misalnya, kata Puan, perjalanannya mengikuti Jokowi meninjau pembangunan Trans Kalimantan.

Menurut dia, medan perjalanan saat meninjau Trans Kalimantan terbilang sulit dan memakan waktu cukup panjang.

"Ini bukan kayak Jakarta-Bandung yang lancar banget, itu off road. Dan kami naik mobil yang kayak travel Jakarta-Bandung, dan itu ramai-ramai sama menteri lain," ucap Puan.

"Jadi kalau jalanannya turun, kita turun, kalau belok kiri kita ke kiri semua, sambil teriak. Itu perjalanan panjang, badan sudah kayak mau rontok," kata dia.

Baca juga: Jokowi Minta Pimpinan Bank Blusukan ke Pelosok

Puan pun sempat bertanya ke Jokowi, mengapa harus menggunakan akses darat ketimbang udara dengan memakai helikopter yang lebih mudah.

Namun, kata Puan, Jokowi enggan meninjau dari udara.

Sebab, Jokowi ingin memeriksa secara langsung kualitas dan perkembangan pembangunan Trans Kalimantan.

"Kalau jalanan bagus ya terus. Kalau rusak dia berhenti, foto-foto, video, itu untuk membuktikan bahwa cuma segini kilometer yang bagus dan segini kilometer masih jelek yang harus diperbaiki," ucap Puan.

"Jadi sebagai bukti. Beliau bilang enggak bisa naik helikopter, harus rasain, aspalnya bagus enggak, bukan aspal asal-asalan, dan sebagainya," kata putri Ketua Umum PDI-P Megawati Soekarnoputri ini.

Di sisi lain saat ikut Jokowi, Puan juga harus meninjau sesuai tupoksinya selaku Menko PMK, seperti meninjau pasar, sekolah, puskesmas hingga mengurus penyaluran dana bantuan sosial.

"Itu satu pengalaman yang terus terang aja kalau ada yang jadi menteri enggak mau ikut ke tempat paling susah menurut saya sia-sia," kata dia.

Baca juga: Ahok Calon Bos BUMN, Puan Maharani: Mundur dari PDI-P Itu Hak Beliau

Sungkan cuti

Saat menjadi menteri Jokowi, Puan dan koleganya sesama menteri saat itu juga sungkan jika ingin mengajukan cuti. Sebab, Jokowi sendiri dinilainya tak pernah libur.

"Liburnya beliau kerja. Kecuali kita urgent ada kawinan, ya cutilah, sakit, anak wisuda, kita cuti. Kalau bilang, 'Pak saya mau cuti libur itu enggak ada yang berani ngomong begitu'," tutur Puan.

Aktivitas pun juga cenderung padat meski jelang libur bersama, khususnya pada momen Lebaran dan Natal.

Tak jarang, kata Puan, Jokowi masih melakukan kunjungan daerah dan meminta sejumlah menteri mendampinginya.

"Lebaran pun kita juga deg-degan. Karena H+2 dia ke daerah sebelum ke Solo. Atau di hari H-nya dia misal Lebaran di mana gitu, ya. Itu semua menteri deg-degan siapa ya, siapa ya (yang diajak). Bayangin hari-H saja masih bisa disuruh pergi," kata dia.

Menurut Puan, jelang momen libur bersama seperti itu, Jokowi biasanya mengajak menteri yang anak-anaknya sekolah di luar negeri atau sudah berkeluarga.

"Jadi Pak Basuki (Menteri PUPR) tuh, itu sering kena 'korban'. Kita bilangnya 'korban'. Tapi beliau (Basuki) bilang 'Ya sudahlah, Mbak, anak saya kan juga pagi sudah ketemu, ada yang sekolah di luar juga'," tutur Puan sambil tertawa.

Hal semacam itu, kata Puan, juga bisa terjadi jelang libur Natal. Pada 23 Desember pun, Jokowi masih menggelar rapat terbatas hingga malam.

Hal ini membuat menteri Jokowi yang merayakan Natal dan ingin berkumpul dengan keluarga terkadang "gelisah".

"Sampai saya ditanyain sama yang lain, Mbak Puan ini selesai jam berapa kira-kira. Ya saya bilang enggak tahu. Tapi tentu tanggal merah bisa libur. Tanggal 31 Desember pun juga masih ratas juga, tanggal 2 (Januari) kita masuk. Jadi seperti itu," kata dia.



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Pemerintah Siapkan 4.100 Kamar Hotel di DKI untuk Isolasi Mandiri Pasien Covid-19

Pemerintah Siapkan 4.100 Kamar Hotel di DKI untuk Isolasi Mandiri Pasien Covid-19

Nasional
Pemerintah Pastikan Biaya Tes Usap Tak akan Beratkan Masyarakat

Pemerintah Pastikan Biaya Tes Usap Tak akan Beratkan Masyarakat

Nasional
Perseteruan Kasat Sabhara Polres Blitar dengan Atasannya, Mabes Polri Terjunkan Paminal

Perseteruan Kasat Sabhara Polres Blitar dengan Atasannya, Mabes Polri Terjunkan Paminal

Nasional
Dua Pekan Luhut Pimpin Penanganan Covid-19, Kasus Aktif di 10 Provinsi Diklaim Menurun

Dua Pekan Luhut Pimpin Penanganan Covid-19, Kasus Aktif di 10 Provinsi Diklaim Menurun

Nasional
Jokowi Sebut Pariwisata Akan Kembali Pulih Setelah Vaksin Disuntikkan

Jokowi Sebut Pariwisata Akan Kembali Pulih Setelah Vaksin Disuntikkan

Nasional
Setahun Kinerja Parlemen, Formappi: DPR Pendukung Setia Pemerintah

Setahun Kinerja Parlemen, Formappi: DPR Pendukung Setia Pemerintah

Nasional
Mahfud Bantah Pemerintah Terapkan Pendekatan Keamanan di Papua

Mahfud Bantah Pemerintah Terapkan Pendekatan Keamanan di Papua

Nasional
Periksa Tersangka Kasus Laboratorium Madrasah, KPK Konfirmasi Perintah Terkait Lelang

Periksa Tersangka Kasus Laboratorium Madrasah, KPK Konfirmasi Perintah Terkait Lelang

Nasional
Pemerintah dan DPR Mulai Bahas Draf Perpres TNI Atasi Terorisme

Pemerintah dan DPR Mulai Bahas Draf Perpres TNI Atasi Terorisme

Nasional
Tak Bisa Prediksi Puncak Covid-19, Satgas: Semua Tergantung Masyarakat

Tak Bisa Prediksi Puncak Covid-19, Satgas: Semua Tergantung Masyarakat

Nasional
Ini Alasan Banten dan Aceh Masuk Provinsi Prioritas Penanganan Covid-19

Ini Alasan Banten dan Aceh Masuk Provinsi Prioritas Penanganan Covid-19

Nasional
Mahfud Sebut TNI-Polri Tak Bisa Akses Periksa Jenazah Pendeta Yeremia

Mahfud Sebut TNI-Polri Tak Bisa Akses Periksa Jenazah Pendeta Yeremia

Nasional
Jaringan Masyarakat Sipil Dorong RUU PKS Dimasukkan Prolegnas Prioritas 2021

Jaringan Masyarakat Sipil Dorong RUU PKS Dimasukkan Prolegnas Prioritas 2021

Nasional
Satgas: Jangan Kucilkan Pasien Covid-19

Satgas: Jangan Kucilkan Pasien Covid-19

Nasional
Indonesia Minta Bantuan Alat Rapid Test Antigen ke WHO

Indonesia Minta Bantuan Alat Rapid Test Antigen ke WHO

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X