[POPULER DI KOMPASIANA] Pendaftara CPNS 2019 | Sulitnya Jadi Dokter Spesialis | Lemahnya Literasi Statistik

Kompas.com - 16/11/2019, 17:52 WIB
Calon pegawai negeri sipil (CPNS) dalam acara Presidential Lecture 2019 yang digelar di Istora Senayan, Kompleks Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Rabu (24/7/2019). Pemerintah mengkaji para PNS untuk bekerja di rumah KOMPAS.com/MURTI ALI LINGGACalon pegawai negeri sipil (CPNS) dalam acara Presidential Lecture 2019 yang digelar di Istora Senayan, Kompleks Gelora Bung Karno (GBK), Jakarta, Rabu (24/7/2019). Pemerintah mengkaji para PNS untuk bekerja di rumah
|

KOMPASIANA - Tepat pada Senin, tanggal 11-11-2019, pendaftaran CPNS 2019 dibuka. Total ada 197.111 formasi dengan pembagian: 37.854 formasi pada 68 kementerian/lembaga dan 159.257 formasi pada 462 pemerintah daerah.

Sedangkan untuk jenis formasinya terbagi menjadi dua, yaitu formasi umum dan formasi khusus.

Ada pula formasi jabatan yang dibuka adalah tenaga pendidikan, kesehatan, dosen, teknis fungsional, dan teknis lainnya.

Namun, seperti pembukaan pendaftaran CPNS yang sudah-sudah, pertanyaan penting atau tidaknya ikut dan/atau menjadi PNS apakah masih menjadi pilihan masyarakat hari ini?

Selain topik mengenai CPNS 2019, masih ada artikel-artikel menarik lainnya seperti pada perayaan hari kesehatan tahun ini hingga bagaimana masyarakat kita melek akan budaya membaca statistik.

Berikut 5 artikel terpopuler di Kompasiana dalam sepekan:

1. Apakah Profesi PNS Lebih Terhormat dan Bergengsi Dibandingkan yang Lainnya?

Tidak mudah bagi Kompasianer Dicky Armando yang lahir dan besar di tengah keluarganya yang rata-rata menjadi PNS. Ia sendiri, tulisnya, hanya berprofesi sebagai karyawan swasta.

Setiap tahun, apalagi satu minggu sebelum dibuka pendaftaran tes CPNS, ia kerap mendapat pertanyaan yang itu-itu saja: "Tidak coba tes PNS tahun ini?"

"Saya pun sempat percaya bahwa menjadi PNS adalah sebuah jalan hidup yang menyenangkan. Sampai suatu hari seorang teman yang telah menjadi PNS, bersikap sombong dan sok superior di hadapan saya," tulis Kompasianer Dicky Armando.

Pasca-kejadian itu hingga sekarang, ia bersikap dan ingin menunjukan kalau tidak menjadi PNS pun bisa hidup layak sebagaimana lingkungan dan keluarganya. (Baca selengkapnya)

2. PNS Itu Pelayan Publik!

Rasa-rasanya hingga saat ini masih ada yang menjadikan PNS atau ASN sebagai pucuk harapan orang tua mereka.

Melihat fenomena semacam itu, Kompasianer Ozy Alandika berpendapat, timbul pemahaman-pemahaman yang menyimpang seperti PNS itu kaya, PNS itu hidup mewah dan berkecukupan, hingga PNS itu kerjanya tidak sulit.

PNS itu, lanjutnya, mesti berusaha untuk memberikan pelayanan terbaik kepada masyarakat.
"Tujuannya adalah untuk melaksanakan kebijakan pemerintah sekaligus menjadi mitra pemerintah agar masyarakat puas," tulis Kompasianer Ozy Alandika.

Sebagai contoh ia memberi ilustrasi bagaimana seorang guru bisa dikatakan rajin:

"Guru yang rajin bukanlah guru yang datang tepat waktu. Guru yang rajin adalah guru yang datang di awal waktu dan senantiasa menanti murid-muridnya di sekolah, bukan murid yang menantinya." (Baca selengkapnya)

3. Mengapa Sulit Sekali Menjadi Dokter Spesialis?

Menjadi dokter spesialis mungkin merupakan impian yang lumrah bagi kebanyakan dokter umum, bahkan untuk para mahasiswa kedokteran di Indonesia.

Padahal, masih banyak tingkat atau jabatan struktural lainnya yang masih ada di seputar dunia kedokteran ini, seperti peneliti, dosen, dokter layanan primer, dan lain sebagainya.

Akan tetapi, menurut Kompasianer Agaprita Sirait, alasan orang-orang menjadi dokter spesialis yaitu alasan ekonomi.

"Seorang dokter spesialis pada umumnya meraup gaji lebih besar dibandingkan dokter umum," tulisnya.

Akan tetapi apakah hanya alasannya sebegitu pragmatis karena gaji? Tidak adakah alasan lainnya? (Baca selengkapnya)

4. Kisruh Data dan Lemahnya Literasi Statistik

Melihat data statistik itu seperti pisau bermata dua: pada satu sisi akan ada yang tersenyum akan hasilnya, sedangkan pada sisi lain tidak jarang akan kecut dibuatnya.

Yang terburuk, bahkan, bila seorang pemimpin awam membaca statistik bisa-bisa ia memecat bawahannya ketika mendapati laporan statistik yang buruk.

Lantas, bagaimana caranya agar kita bisa arif atau bijak membaca laporan statistik?

Bahwasanya ilmu statistik itu hanya sebuah alat untuk mendekati kebenaran. Pasti memiliki angka error atau galat.

"Yang perlu diawasi adalah tentang metode statistik yang digunakan dan bisnis proses menghasilkan data itu benar-benar sesuai dengan standar yang telah diakui dunia internasional," tulis Kompasianer Muhammad Aliem.

Hal tersebut, lanjutnya, sehingga bisa dijadikan bahan perbandingan secara universal. (Baca selengkapnya)

5. Anak Bekerja, Ayahnya Justru Leha-leha

seorang anak laki-laki sedang menangis terisak di belakang rumah Kompasianer Adjat Sudradjat. Usia anak tersebut kira-kira 14 tahun, Syaful, namanya.

Pagi itu, ketika anak-anak seusianya sedang duduk di sekolah ia justru hanya di rumah bekerja untuk membantu keluarga.

"Selain karena tidak mampu, adik-adik Syaiful yang jumlahnya tujuh orang; empat orang dari Zainal, suaminya yang meninggal saat Syaiful duduk di kelas lima, ditambah lagi dua orang dari suaminya yang sekarang, butuh biaya juga," tulis Kompasianer Adjat Sudradjat.

Naasnya, dengan kondisi seperti itu, Syaiful justru disuruh oleh Ayah tirinya bekerja ke kota saja. (Baca selengkapnya)



25th

Tulis komentar dengan menyertakan tagar #JernihBerkomentar dan #MelihatHarapan di kolom komentar artikel Kompas.com. Menangkan E-Voucher senilai Jutaan Rupiah dan 1 unit Smartphone.

Syarat & Ketentuan
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.

Terkini Lainnya

Jadi Pengacara Bambang Trihatmodjo, Busyro Muqoddas: Itu Bukan Kasus Korupsi, tapi TUN

Jadi Pengacara Bambang Trihatmodjo, Busyro Muqoddas: Itu Bukan Kasus Korupsi, tapi TUN

Nasional
KontraS Kecam Pengangkatan Eks Tim Mawar Jadi Pejabat Kemenhan

KontraS Kecam Pengangkatan Eks Tim Mawar Jadi Pejabat Kemenhan

Nasional
Sejumlah Pegawai Mundur, Pimpinan KPK: Hanya Pecinta Sejati yang Mampu Bertahan

Sejumlah Pegawai Mundur, Pimpinan KPK: Hanya Pecinta Sejati yang Mampu Bertahan

Nasional
Cerita Anggota Bawaslu Ratna Dewi Pettalolo, Dikejar Suster karena Takut Tes Swab

Cerita Anggota Bawaslu Ratna Dewi Pettalolo, Dikejar Suster karena Takut Tes Swab

Nasional
Sebaran Penambahan 4.494 Kasus Covid-19, Terbanyak di DKI Jakarta

Sebaran Penambahan 4.494 Kasus Covid-19, Terbanyak di DKI Jakarta

Nasional
Baleg DPR: Sanksi Pidana Tak Dibahas dalam Klaster Ketenagakerjaan RUU Cipta Kerja

Baleg DPR: Sanksi Pidana Tak Dibahas dalam Klaster Ketenagakerjaan RUU Cipta Kerja

Nasional
Sejumlah Pegawai Mundur, Pimpinan KPK: Ini Ujian, KPK Bukan Tempat Santai

Sejumlah Pegawai Mundur, Pimpinan KPK: Ini Ujian, KPK Bukan Tempat Santai

Nasional
UPDATE Covid-19 di Sulteng, Sultra, Maluku, Malut, Papua, dan Papua Barat 26 September 2020

UPDATE Covid-19 di Sulteng, Sultra, Maluku, Malut, Papua, dan Papua Barat 26 September 2020

Nasional
Imbas Mundurnya Sejumlah Pegawai, Pimpinan KPK Akan Evaluasi Sistem Kepegawaian KPK

Imbas Mundurnya Sejumlah Pegawai, Pimpinan KPK Akan Evaluasi Sistem Kepegawaian KPK

Nasional
Hingga 26 September, Pemerintah Telah Periksa 3.169.783 Spesimen Terkait Covid-19

Hingga 26 September, Pemerintah Telah Periksa 3.169.783 Spesimen Terkait Covid-19

Nasional
UPDATE 26 September: Ada 119.379 Suspek Terkait Covid-19

UPDATE 26 September: Ada 119.379 Suspek Terkait Covid-19

Nasional
UPDATE 26 September: Ada 61.628 Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia

UPDATE 26 September: Ada 61.628 Kasus Aktif Covid-19 di Indonesia

Nasional
UPDATE 26 September: Bertambah 3.207, Kini Ada 199.403 Orang yang Sembuh dari Covid-19 di Indonesia

UPDATE 26 September: Bertambah 3.207, Kini Ada 199.403 Orang yang Sembuh dari Covid-19 di Indonesia

Nasional
UPDATE 26 September: Tambah 90 Orang, Pasien Meninggal akibat Covid-19 Jadi 10.308

UPDATE 26 September: Tambah 90 Orang, Pasien Meninggal akibat Covid-19 Jadi 10.308

Nasional
Pemerintah Sebut Pesangon PHK Beratkan Pengusaha, Minta Aturan di RUU Cipta Kerja Diubah

Pemerintah Sebut Pesangon PHK Beratkan Pengusaha, Minta Aturan di RUU Cipta Kerja Diubah

Nasional
komentar di artikel lainnya
Close Ads X