Idham Calon Kapolri, Pengamat Prediksi Gaya Kepemimpinannya ala Densus 88

Kompas.com - 25/10/2019, 11:34 WIB
Kepala Bareskrim Polri Komjen (Pol) Idham Azis (kanan) di Kompleks Kejaksaan, Jakarta Selatan, Kamis (26/9/2019). KOMPAS.com/Devina HalimKepala Bareskrim Polri Komjen (Pol) Idham Azis (kanan) di Kompleks Kejaksaan, Jakarta Selatan, Kamis (26/9/2019).
Penulis Devina Halim
|

JAKARTA, KOMPAS.com - Gaya kepemimpinan calon tunggal Kapolri, Komjen Idham Aziz diprediksi tak lepas dari pendekatan Detasemen Khusus (Densus) 88 Antiteror Mabes Polri.

Pengamat kepolisian dari Institute for Security and Strategic Studies (ISESS) Bambang Rukminto menilai, dalam memimpin institusi Polri nantinya, Idham cenderung menggunakan pendekatan ala Densus 88 yang lebih condong ke arah penindakan dibanding pencegahan.

"Pak Idham ini juga mempunyai background dari Densus 88. Bayangan saya ke depan ini, style kepemimpinan Polri juga masih menggunakan Densus 88 yang lebih menekankan pada penindakan daripada pencegahan," kata Bambang ketika dihubungi Kompas.com, Kamis (24/10/2019).

Baca juga: Meski Calon Tunggal, Komjen Idham Azis Tetap Harus Fit and Proper Test

Adapun Idham menjabat sebagai Wakil Kepala Densus 88 pada tahun 2010.

Menurut Bambang, pendekatan ala Densus 88 ini juga terjadi semasa kepemimpinan mantan Kapolri, Jenderal Pol (Purn) Tito Karnavian. 

Sebelum menjadi Kapolri, Tito menjabat Kepala Densus 88 pada 2009-2010.

"Pak Tito sepertinya masih menggunakan cara-cara seperti di Densus 88. Bukan menekankan pada pencegahan tapi tindakan-tindakan yang lebih represif," ujar dia. 

Ia pun mencontohkan pendekatan yang dilakukan Polri dalam kasus penangkapan musisi dan eks wartawan Tempo, Ananda Badudu.

Demikian juga dengan penangkapan jurnalis dan sutradara film dokumenter Sexy Killers, Dandhy Dwi Laksono.

Saat itu, Dandhy mengaku tidak pernah dimintai keterangan terkait kasus dugaan penyebaran ujaran kebencian seperti yang dituduhkan polisi. Ia langsung diciduk dari rumahnya dan ditetapkan sebagai tersangka.

Sementara itu, Ananda Badudu juga diciduk dari rumahnya meski hanya diperiksa sebagai saksi terkait aliran dana kepada mahasiswa yang menggelar aksi unjuk rasa di Kompleks Parlemen Senayan pada 23-25 September 2019.

Halaman:
Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar di artikel ini! *S&K berlaku


Dapatkan Smartphone dan Voucher Belanja dengan #JernihBerkomentar dibawah ini! *S&K berlaku
Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE
Laporkan Komentar
Terima kasih. Kami sudah menerima laporan Anda. Kami akan menghapus komentar yang bertentangan dengan Panduan Komunitas dan UU ITE.
komentar di artikel lainnya
Close Ads X